Pernahkah Anda atau anggota keluarga merasa flu belakangan ini jauh lebih berat dari biasanya? Demam memang sudah turun, tetapi tubuh masih terasa sangat lemas, kepala pening, sulit fokus, bahkan seperti mengalami brain fog.
Jika iya, Anda tidak sendirian.
Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan fenomena yang kerap disebut sebagai “Superflu”. Bukan sekadar flu musiman biasa, para ahli mengidentifikasinya sebagai Influenza A varian H3N2 subclade terbaru. Serangannya bukan hanya membuat demam tinggi, tetapi juga meninggalkan rasa lelah berkepanjangan yang mengganggu aktivitas harian.
Bukan Sekadar Flu BiasaSebagai pendamping pasien, saya banyak mendengar keluhan serupa.
“Demamnya sudah hilang, tapi badan masih seperti habis sakit parah.”
Inilah ciri yang cukup khas dari gelombang H3N2 kali ini. Banyak pasien mengalami fase pemulihan yang lebih lama, sering disebut sebagai long flu. Tubuh terasa berat, stamina turun drastis, dan pikiran tidak secerah biasanya.
Masalahnya, di tengah budaya kerja yang serba cepat, banyak orang merasa bersalah jika harus istirahat terlalu lama. Baru sehari demam turun, sudah memaksakan diri kembali bekerja.
Padahal, tubuh yang masih lemas adalah sinyal bahwa sistem imun sedang bekerja keras memperbaiki diri.
Inilah yang sering saya sebut sebagai pentingnya menerjemahkan “bahasa medis ke bahasa hati”. Demam yang hilang bukan berarti tubuh sudah pulih sepenuhnya. Mesin di dalam diri kita masih dalam proses pemulihan besar-besaran.
Memaksakan diri justru bisa membuat sakit berlangsung lebih lama.
Beda dengan COVID-19, tapi Tetap Perlu DiwaspadaiTidak sedikit yang panik mengira kondisi ini sebagai gelombang baru COVID-19. Gejalanya memang mirip: nyeri tenggorokan, batuk kering, badan pegal, dan lemas berat.
Namun pemeriksaan menunjukkan bahwa mayoritas kasus merupakan influenza, bukan virus corona. Meski demikian, jangan meremehkannya hanya karena disebut “flu”.
Varian H3N2 tetap berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama pada lansia, anak kecil, ibu hamil, serta mereka yang memiliki penyakit kronis seperti jantung, diabetes, atau gangguan pernapasan. Flu berat tetap bisa berbahaya bila tidak ditangani dengan bijak.
Pelajaran Penting: Hargai Proses PulihFenomena “Superflu” ini memberi kita satu pelajaran sederhana tapi sering diabaikan: pemulihan butuh waktu.
Kita terlalu sering mengukur sembuh dari angka di termometer. Padahal kesehatan bukan hanya soal demam yang turun, tetapi soal kembalinya energi, kejernihan pikiran, dan kekuatan tubuh.
Jika tubuh meminta istirahat, dengarkan.
Bagi Anda yang sedang berjuang melawan flu berat ini, jangan merasa lemah karena butuh waktu lebih lama untuk pulih. Itu bukan tanda manja. Itu tanda tubuh sedang bekerja menyelamatkan Anda.
Karena sehat bukan hanya soal tidak sakit. Sehat adalah ketika tubuh kembali mampu menjalani hidup dengan utuh.
Mari kita lebih ramah pada diri sendiri, lebih peka pada sinyal tubuh, dan tidak memaksakan diri demi ritme hidup yang sering kali terlalu kejam.
Salam sehat dari Sahabat Pasien.




