FAJAR, SURABAYA — Gol penalti Bruno Moreira pada menit 90+3 sempat menyalakan harapan di tengah malam panjang Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara. Dalam momen yang terasa seperti titik balik, kapten Green Force itu memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1. Waktu injury time masih tersisa. Asa belum sepenuhnya padam.
Namun sepak bola kerap kejam pada harapan yang datang terlambat.
Alih-alih bangkit, Persebaya justru kembali kebobolan. Iker Guarrotxena mencetak gol keduanya di penghujung pertandingan, memastikan kemenangan 3-1 Persijap Jepara sekaligus memperpanjang periode sulit yang tengah dialami tim asal Surabaya itu.
Gol Bruno akhirnya hanya menjadi pelipur lara—simbol perlawanan yang tak cukup menyelamatkan hasil.
Kapten yang Tetap Berdiri di Tengah Tekanan
Di tengah performa tim yang goyah, Bruno Moreira menjadi satu dari sedikit pemain Persebaya yang tampil konsisten. Statistik pertandingan menunjukkan kontribusinya tak hanya datang dari gol penalti.
Ia mencatat empat tembakan dengan dua mengarah ke gawang, dua umpan silang akurat, serta akurasi umpan mencapai 79 persen. Tak berhenti di lini serang, pemain asal Brasil itu juga aktif membantu pertahanan melalui clearance, recoveries, serta kemenangan duel udara dan darat.
Performa tersebut membuatnya menjadi pemain dengan rating tertinggi di skuad Persebaya menurut Sofascore.
Namun bagi Bruno, angka statistik tak berarti banyak tanpa kemenangan.
“Pertandingan tadi sangat sulit. Persijap tampil solid. Kami berharap bisa bermain lebih baik, tetapi saat ini permainan kami memang sedang buruk,” ujarnya, mengakui realitas yang tengah dihadapi timnya.
Nada ucapannya mencerminkan kesadaran kolektif ruang ganti Persebaya: masalah mereka bukan sekadar hasil, tetapi momentum yang mulai menjauh.
Waktu Pemulihan yang Terlalu Singkat
Tantangan berikutnya datang tanpa jeda panjang. Persebaya harus segera kembali ke Surabaya, perjalanan darat sekitar tujuh jam dari Jepara, sebelum menjamu PSM Makassar dalam laga pekan ke-23 Super League 2025/2026.
Waktu pemulihan yang sempit menjadi persoalan utama.
Bruno menegaskan fokus tim kini bukan hanya taktik, tetapi pemulihan fisik dan mental.
“Kami harus istirahat dengan baik, menambah nutrisi, dan mempersiapkan diri agar lebih siap menghadapi PSM. Kami ingin meraih poin penuh,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan urgensi situasi. Kompetisi memasuki fase krusial, sementara jarak poin dengan papan atas belum sepenuhnya tertutup.
Kesempatan mengejar Persija Jakarta dan Persib Bandung masih ada—tetapi margin kesalahan semakin tipis.
Ujian Personal Bernardo Tavares
Laga melawan PSM Makassar bukan pertandingan biasa bagi pelatih Persebaya, Bernardo Tavares. Ia menghadapi klub yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di Indonesia.
Pertemuan ini menghadirkan dimensi emosional sekaligus tekanan profesional.
Pelatih asal Portugal itu mengakui kondisi timnya jauh dari ideal. Cedera pemain, akumulasi kartu, serta kelelahan perjalanan menjadi hambatan nyata menjelang pertandingan.
“Pemulihan terbaik adalah tidur,” ujar Tavares singkat, menggambarkan betapa minimnya waktu yang dimiliki timnya untuk bangkit.
Ia juga tak menutup mata terhadap kelemahan tim setelah kekalahan dari Persijap.
“Kami harus menganalisis pertandingan karena kami melakukan banyak kesalahan. Kami perlu rendah hati. Ini tidak akan menjadi pertandingan mudah.”
Nada pernyataannya terdengar lebih reflektif dibanding biasanya—seolah menyiratkan fase evaluasi yang lebih dalam di tubuh Persebaya.
Momentum yang Menentukan Arah Musim
Bagi Persebaya, duel melawan PSM Makassar lebih dari sekadar laga lanjutan kompetisi. Ini adalah titik persimpangan musim.
Kemenangan akan menjaga peluang mereka tetap berada dalam perburuan papan atas bersama Persija dan Persib. Sebaliknya, hasil negatif berpotensi memperbesar jarak sekaligus mempertebal tekanan dari suporter.
Dalam sepak bola, momentum sering kali menentukan narasi satu musim penuh. Persebaya kini berada di fase rapuh—antara bangkit atau semakin tertinggal.
Di Stadion Gelora Bung Tomo nanti, bukan hanya tiga poin yang dipertaruhkan. Ada kepercayaan diri tim, legitimasi taktik pelatih, dan keyakinan publik bahwa Green Force masih layak disebut penantang serius.
Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah Persebaya mampu menjadikan laga kontra PSM sebagai titik balik, atau justru babak baru dari periode sulit yang belum berakhir?





