Bursa Cawapres 2029: Sinyal Kekuatan atau Manuver Suksesi?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Politik selalu berlari lebih cepat dari kalender—dan kadang lebih cepat dari kesetiaan. Pemilu 2029 masih tiga tahun lagi, tetapi percakapan tentang siapa yang akan mendampingi Presiden Prabowo Subianto sudah mengeras menjadi spekulasi serius. Nama-nama beredar, koalisi dibayangkan ulang, dan peta suksesi mulai digambar seolah periode pertama hampir tamat. Di tengah pusaran itu, sejumlah figur disebut layak masuk bursa: Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia; Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan; Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono; hingga Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya.

Yang mencolok bukan sekadar ramainya nama, melainkan absennya asumsi otomatis bahwa petahana wakil presiden akan menjadi pilihan alamiah. Dalam politik, yang tak lagi dianggap pasti—perlahan bisa diposisikan sebagai opsional. Dan di situlah peran Gibran Rakabuming Raka mulai tampak berada di wilayah abu-abu: belum tersingkir, tetapi tak lagi dominan.

Berkaca dari Sejarah

Menjelang periode kedua Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, dinamika serupa pernah terjadi. Keduanya berada dalam posisi sangat kuat. Elektabilitas tinggi, mesin politik solid, oposisi terfragmentasi. Muncul ungkapan populer, “berpasangan dengan sandal jepit pun bisa menang.”

Namun keduanya memilih figur di luar radar utama bursa saat itu: SBY menggandeng Boediono; Jokowi memilih Ma’ruf Amin. Dalam dua kasus itu, figur presiden adalah jangkar utama kemenangan. Dan Nimmo dalam Ilmu Komunikasi Politik (2011) menyebut politik modern sebagai proses simbolik yang terpersonalisasi: kandidat utama menjadi pusat makna, simbol harapan, sekaligus arah masa depan. Dari situ lahir coattail effect—efek ekor jas—yang memungkinkan popularitas presiden mengangkat pasangannya.

Namun konteks hari ini berbeda. Brian McNair dalam An Introduction to Political Communication (2019) menegaskan bahwa komunikasi politik kini berlangsung dalam ruang media yang terfragmentasi dan hiperkompetitif. Persepsi publik bukan lagi sesuatu yang stabil; ia dinegosiasikan terus-menerus di antara elite, media arus utama, dan media sosial. Artinya, tak ada posisi yang benar-benar aman—termasuk posisi wakil.

Faktor Jokowi: Masih Magnet atau Mulai Memudar?

Nama Gibran sejak awal tak terpisah dari efek ekor jas Joko Widodo. Dukungan simbolik, legitimasi moral, dan jaringan politik yang terbentuk selama dua periode pemerintahan menjadi landasan awal mengorbitnya ke panggung nasional. Dalam logika Nimmo, simbol kekuasaan yang masih dipercaya publik dapat mentransfer makna dan legitimasi kepada figur yang diasosiasikan dengannya.

Pertanyaannya kini: apakah faktor Jokowi masih akan menjadi magnet penentu pada 2029?

Jika pengaruh elektoral dan moralnya tetap kuat, maka sikap politiknya—bahkan isyarat paling halus—akan memengaruhi konfigurasi akhir. Namun bila dinamika bergerak menjauh dari orbit tersebut, Gibran menghadapi tantangan membangun otoritas yang lebih mandiri. McNair mengingatkan bahwa dalam lanskap komunikasi modern, ketergantungan pada figur patron bisa menjadi kekuatan sekaligus keterbatasan: ia memberi dorongan awal, tetapi juga menciptakan persepsi bahwa legitimasi belum sepenuhnya berdiri sendiri.

Di titik ini, pembingkaian menjadi krusial. Armin Scholl dalam Journalism and Normative Democracy (2001) menekankan bahwa realitas publik adalah hasil konstruksi melalui seleksi isu dan repetisi. Apa yang terus-menerus diberi visibilitas akan dianggap wajar dan relevan. Ketika nama-nama alternatif diputar berulang, publik perlahan menerima bahwa suksesi tidak bersifat otomatis.

Philip Seib dalam Political Communication (2008) bahkan menyebut penguasaan agenda sebagai bentuk kekuasaan itu sendiri. Bukan hanya soal isu apa yang dibicarakan, tetapi siapa yang dianggap layak dibicarakan. Dalam konteks ini, ramainya nama-nama baru bukan sekadar spekulasi; ia adalah perebutan ruang atensi. Dan ketika atensi terdistribusi, sentralitas satu figur bisa memudar.

Manuver Elite dan Sinyal Pergeseran

Dalam sistem presidensial multipartai, kursi wakil presiden adalah titik temu kompromi kekuasaan. Para ketua umum partai memiliki kepentingan strategis untuk menjaga ruang tawar mereka. Dengan memunculkan opsi alternatif, mereka mengirim pesan bahwa konfigurasi 2024 tidak otomatis berlaku untuk 2029.

Apakah ini upaya menjegal? Tidak ada deklarasi eksplisit. Namun politik jarang bekerja secara frontal. Ia lebih sering bergerak melalui normalisasi alternatif. Ketika satu figur tak lagi dianggap satu-satunya opsi rasional, maka ia telah dipindahkan dari pusat ke salah satu kemungkinan. Itulah bentuk pergeseran yang paling halus—dan paling efektif.

Pada akhirnya, peluang periode kedua sangat ditentukan oleh performa lima tahun pertama. Jika stabilitas politik terjaga, pertumbuhan ekonomi konsisten, dan agenda prioritas berjalan efektif, maka efek ekor jas tetap bekerja.

Namun realitasnya tidak sepenuhnya steril dari kritik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat dukungan luas sebagai investasi sumber daya manusia, tetapi juga menuai pertanyaan tentang kesiapan anggaran, tata kelola distribusi, serta beban fiskal jangka panjang. Sejumlah kalangan menyoroti konsistensi penegakan hukum, isu etika kekuasaan, dan komposisi kabinet yang dinilai terlalu akomodatif terhadap kompromi politik. Di ruang publik, perdebatan tentang efektivitas kebijakan dan sensitivitas terhadap aspirasi kelas menengah terus menguat.

Jika semua itu dapat dijawab dengan kinerja konkret dan respons yang adaptif, maka spekulasi tentang suksesi akan kehilangan daya tekan. Namun jika persepsi publik dipenuhi keraguan, maka konfigurasi wakil akan menjadi variabel elektoral yang jauh lebih krusial—dan ruang bagi figur alternatif akan semakin terbuka.

Antara Kepercayaan dan Kecemasan

Bursa yang ramai hari ini mencerminkan dua arus sekaligus: kepercayaan bahwa kepemimpinan saat ini cukup kuat untuk diproyeksikan dua periode, dan kecemasan bahwa suksesi harus diatur lebih awal agar tidak terjadi kejutan tak terkendali. Di tengah dua arus itu, peran wakil berada dalam ketegangan—antara kesinambungan dan kemungkinan tergeser.

Pemilu 2029 memang masih jauh. Namun fondasinya sedang dibangun sekarang—melalui kerja pemerintahan, manuver elite, dan distribusi visibilitas di ruang publik. Dalam politik, yang tak lagi dianggap pasti akan diperlakukan sebagai pilihan. Dan dalam demokrasi yang kompetitif, tidak ada posisi yang selamanya aman.

Yang menentukan akhirnya bukan siapa yang paling awal disebut, melainkan siapa yang paling mampu membuktikan diri. Tetapi hingga pembuktian itu benar-benar berdiri mandiri, setiap pergeseran atensi adalah sinyal: bahwa dalam politik, bayang-bayang bisa memudar—dan pusat gravitasi kekuasaan selalu mencari titik barunya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Roma gilas Cremonese 3-0
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Pekan Pertama Ramadan, Warga Mulai Berburu Kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Catat Syarat dan Jadwalnya
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Gandeng Layar Digi, Alfamart (AMRT) Bakal Hadirkan Bioskop Mini
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
BMKG Ungkap Daftar Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Lebat Hari Ini Senin 23 Februari 2026
• 13 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.