EtIndonesia. Apa yang disebut “jenius”? Jenius adalah seseorang yang menempatkan bakatnya di tempat yang tepat.
Sebaliknya, orang yang kamu anggap bodoh, bisa jadi hanyalah seseorang yang berada di tempat yang salah.
Bayangkan kamu dan seorang penduduk asli terjebak di hutan Afrika. Tidak ada makanan, tidak ada air. Dalam kondisi seperti itu, kamu akan menganggap dia sebagai “jenius”, karena dia tahu berbagai cara bertahan hidup.
Namun coba bawa dia ke kantor dan suruh mengoperasikan komputer. Situasinya akan berbalik. Kamu mungkin akan menyebutnya “tidak cakap”.
Sesungguhnya, setiap manusia terlahir dengan kegunaannya masing-masing.
Ada ilmuwan yang bahkan tidak bisa menangkap nada dengan tepat. Ada pelukis yang kesulitan menulis sepucuk surat dengan baik. Tetapi mereka berhasil karena mereka “menempatkan diri di tempat yang tepat”.
Contohnya adalah Steven Spielberg. Nilai sekolah menengahnya sangat buruk sehingga tidak satu pun jurusan film yang mau menerimanya.
Namun dia tidak menyerah. Dia justru masuk ke studio film dan belajar dengan sungguh-sungguh keterampilan yang dia butuhkan.
Hari ini, dia telah memproduksi banyak film berkualitas tinggi dan menjadi sutradara besar yang dikenal di seluruh dunia.
Begitu juga dengan Pablo Picasso. Di awal kariernya, dia ingin menjadi penyair. Tetapi puisi-puisinya dinilai tidak berharga oleh seorang wanita kritikus yang sangat tajam.
Untunglah dia menerima masukan itu dan mengubah arah hidupnya. Kalau tidak, mungkin dunia akan kehilangan seorang pelukis besar.
Sebenarnya, semua orang dan segala sesuatu pada dasarnya indah. Yang membedakan hanyalah: apakah dia berada di tempat yang sesuai.
Kuah sup yang lezat jika menetes ke kemeja akan menjadi “kotor”. Makanan yang ada di dalam mulut terasa wajar, tetapi ketika dimuntahkan menjadi “menjijikkan”. Padahal jika ditelan, justru menjadi “nutrisi”.
Bahkan sampah yang kotor sekalipun, jika diletakkan di tempat yang benar—ditimbun di tanah—dapat menyuburkan bumi, menumbuhkan bunga yang indah, dan menghasilkan makanan sehat bagi kita.
Di dunia ini, tidak ada seorang pun dan tidak ada satu pun benda yang benar-benar tidak berguna atau hina. Siapa pun dan apa pun, jika berada di tempat yang tepat, akan menjadi sesuatu yang bernilai dan penuh potensi.
Semoga kamu dapat menemukan panggung hidup yang paling sesuai untuk dirimu sendiri, lalu menyanyikan lagu kehidupanmu dengan sepenuh hati.
Embun di Ladang Hati:
Tingkat tertinggi kehidupan adalah memilih panggung yang tepat, berjalan di jalur sendiri, lalu mengembangkan bakat dan kemampuan unikmu secara maksimal.
Hikmah Cerita
Manusia itu seperti benih. Di bumi ini ada berbagai macam iklim dan tanah. Tetapi tidak setiap jenis tanah cocok untuk setiap jenis tanaman.
Jika sebuah benih menemukan tanah dan iklim yang sesuai, dia akan tumbuh subur dan kuat.
Dalam kehidupan nyata, sangat sedikit orang yang benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan dan sejauh mana kemampuan mereka dapat berkembang. Sebagian besar orang hidup di bawah pengaruh orang tua, lingkungan, dan media.
Ketika suatu bidang pekerjaan sedang populer, banyak orangtua memaksa anaknya masuk ke jurusan tersebut. Anak-anak pun sering tidak memahami minat dan bakatnya sendiri, sehingga hanya mengikuti harapan dan rencana orangtua.
Akibatnya, mereka tumbuh di bidang yang bukan milik mereka. Pertumbuhan menjadi lambat, tekanan pun semakin besar.
Bantuan terbesar orangtua dan guru kepada anak bukanlah sekadar membuat mereka masuk sekolah terbaik. Yang terpenting adalah mendampingi anak menemukan minatnya dan menggali bakatnya.
Jika setiap orang mampu menemukan bakatnya sendiri, maka sekalipun pekerjaannya memungut sampah, dia tetap bisa mengubah sampah menjadi emas.(jhn/yn)





