Sedikitnya 60 warga berkumpul di pesisir Berau dan menelisik tanda-tanda yang tersisa di pasir. Mereka mengidentifikasi jejak penyu hingga mencatat sarang-sarang penyu.
Para warga tersebut adalah nelayan dan masyarakat pesisir di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Menggunakan perangkat berbasis android, mereka mengambil dan mengorganisasi data yang didapat.
Mereka mengikuti bimbingan teknis dengan pendekatan citizen science, metode penelitian ilmiah yang melibatkan partisipasi warga setempat, pada 3-7 Februari 2026 di Tanjung Selor, pusat pemerintahan Kabupaten Berau.
Suriyadi, salah satu peserta dari Kampung Balikukup, mengatakan, ia mendapat materi mengenai pengenalan biologi dan ekologi penyu, identifikasi spesies, daur hidup penyu, hingga ancaman konservasi.
“Saya merasa lebih bertanggung jawab untuk melindungi pantai demi keberlangsungan hidup penyu,” kata lelaki paruh baya itu dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).
Suriyadi tinggal di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS). Area tersebut menjadi salah satu tempat favorit penyu bertelur, seperti Kecamatan Biduk-Biduk, Kecamatan Batu Putih, dan Kecamatan Maratua.
Bahkan, Kabupaten Berau tercatat sebagai habitat bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Asia Tenggara. Sembilan dari 31 pulau kecil di Berau merupakan pantai peneluran penyu hijau.
Setiap tahunnya, lebih kurang 15.000 penyu betina datang dan bertelur di sana. Berdasarkan studi migrasi penyu di Indonesia, padang lamun di Kepulauan Berau merupakan wilayah pakan penting bagi penyu ini.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Syarif Iwan Taruna Alkadrie mengatakan, para warga diberi pelatihan melalui program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (Somacore).
Kegiatan itu diselenggarakan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim dan Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak.
Syarif mengatakan, perlindungan penyu di tingkat masyarakat penting dilakukan. Sebab, dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN), status penyu terancam hingga kritis.
Syarif mengatakan, dalam beberapa dekade terakhir, populasi penyu mengalami tekanan serius akibat aktivitas manusia. Beberapa di antaranya adalah pencurian telur, degradasi habitat pantai, pencemaran laut, hingga praktik perikanan tidak ramah lingkungan.
Di Indonesia, lanjut dia, perlindungan penyu sudah ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66/2025. Penyu tak boleh ditangkap, diperdagangkan, maupun dimanfaatkan dalam bentuk apa pun.
Namun, luas dan banyaknya tempat penyu bertelur menjadi tantangan tersendiri untuk mengawasi dan melakukan penegakan hukum. Data yang dikumpulkan warga menjadi data penting untuk dianalisis oleh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi yang kuat dengan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan konservasi,” kata Syarif.
Coral Reef Specialist YKAN Rizya Ardiwijaya mengatakan, hasil survei menunjukkan beberapa pantai di kawasan KKP3K KDPS menjadi lokasi pendaratan dan peneluran penyu yang aktif sepanjang tahun. Puncak aktivitas mereka pada bulan Juni hingga Agustus.
Namun, kata dia, intensitas aktivitas manusia di wilayah pesisir kerap menjadikan kawasan ini kurang ideal bagi penyu untuk mendarat dan bertelur dengan aman.
Padahal, penyu sangat sensitif terhadap aktivitas manusia. Gangguan kecil saja dapat membuat penyu gagal bertelur.
“Karena itu, perlindungan pantai peneluran harus melibatkan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas langsung di wilayah tersebut,” ujar Rizya.
Penyu merupakan satwa yang butuh waktu lama untuk bisa berkembang biak. Penyu hijau bisa berkembang biak pada umur 26-40 tahun.
Di sisi lain, sebagian besar hidup penyu dihabiskan di perairan. Hanya penyu betina yang kembali ke pantai untuk bertelur. Adapun penyu jantan hampir tidak pernah kembali ke darat selain saat menetas sebagai tukik.
Sejumlah literatur menunjukkan, induk penyu betina menggali banyak lubang di pasir untuk menaruh telur-telurnya. Sekali bertelur, penyu bisa menghasilkan 50-200 butir telur.
Setelah menaruh telur, penyu betina biasanya langsung kembali ke laut. Telur dibiarkan menetas dan kemudian tukik memulai kehidupannya.
Secara alami, tukik akan langsung berjalan mengarah ke air laut. Dalam proses itulah, insting tukik akan mengenali dan mengingat wilayah mereka dilahirkan.
Biasanya, penyu betina akan kembali ke lokasi di mana mereka ditetaskan untuk bertelur (Kompas.id, 21/4/2025).
YKAN mencatat, perlindungan penyu penting karena punya peran signifikan bagi ekosistem. Beberapa jenis penyu memakan ubur-ubur sehingga bisa turut mengendalikan populasinya.
Jika jumlah ubur-ubur terlampau banyak di laut, ia bisa mengganggu. Sebagai contoh, sengatannya bisa mengurangi populasi larva ikan dan mengganggu pariwisata.
Sejumlah penelitian mencatat, penyu memakan spons laut dan gulma yang mengganggu terumbu karang. Hal ini bikin terumbu karang lebih sehat dan jadi tempat pemijahan ideal bagi ikan.
Melihat peran tersebut, Kepala DKP Kaltim Irhan Hukmaidy mengatakan, menjaga penyu juga berdampak positif bagi manusia. Keberadaan penyu bisa turut menjaga membantu keberlangsungan hidup ikan di laut, sumber protein penting manusia.
“Ketika masyarakat memiliki kapasitas dan rasa memiliki, upaya perlindungan sumber daya pesisir dan laut akan jauh lebih berkelanjutan,” kata Irhan.





