Di Minahasa, Gula Aren Berani Bersaing dengan Cap Tikus

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Meski sudah dua dekade beroperasi, pabrik gula semut PT Gunung Hijau Masarang di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, masih menghadapi masalah yang sama: kekurangan air nira sebagai bahan baku. Alasannya, para petani aren di “Bumi Nyiur Melambai” lebih suka membuat minuman keras lokal cap tikus.

Hal ini bikin Aulia Reinoza Akbar, direktur perusahaan tersebut, kebingungan mencari solusi. Sebab, kekurangan pasokan air nira menyebabkan pabrik yang dia pimpin baru bisa mencapai 25 persen dari kapasitas produksi maksimalnya, yaitu 1 ton gula semut per hari.

“Cap tikus, kan, produk ilegal, gitu lah. Kalau tidak diregulasi, tidak bayar pajak, kita pasti otomatis kalah saing, lah. Soalnya, kita bayar pajak, bayar segala macem, tapi bahan baku yang sebenarnya bisa menghasilkan buat pendapatan asli daerah malah enggak diregulasi,” kata Reino ketika ditemui di pabrik PT Gunung Hijau Masarang (GHM), Jumat (20/2/2026).

Cap tikus adalah minuman keras yang populer di Sulut, khususnya di daerah Minahasa. Dibuat dari air nira pohon aren yang difermentasikan lalu didistilasi, kadar alkohol minuman ini bisa melampaui 40 persen.

Berbagai catatan jurnalistik maupun ilmiah telah mengidentifikasi minuman ini rawan memicu masalah sosial. Namun, minuman ini tetap diproduksi secara tradisional dan distribusinya tidak diregulasi secara ketat. Akibatnya, minuman ini bisa dengan mudah didapatkan di warung-warung kelontong dengan harga Rp 20.000-an per botol.

Reino bilang, perusahaan telah membentuk koperasi untuk menaungi para petani aren yang menjadi mitra PT GHM. Ada 92 orang yang tergabung di dalamnya, tetapi hanya 18 yang aktif dan rutin menyadap nira setiap hari untuk memasok bahan baku bagi perusahaan.

“Biasanya, petani minta pembayaran di muka untuk beralih dari petani cap tikus ke kami,” tambah Reino.

Menurut Reino, tiap 7 liter air nira aren dapat dikonversi menjadi 1 kilogram gula semut. Karena keterbatasan bahan baku, pabrik baru dapat memproses 1.750 liter air nira untuk menghasilkan 250 kg gula semut dalam sehari. Padahal, peralatan pabrik mampu mengolah empat kali lipat lebih banyak dari itu.

Baca JugaManisnya Gula Semut dari Perbatasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Akibatnya, PT Gunung Hijau Masarang kesulitan memenuhi permintaan mitra dagang dari luar negeri. Reino bilang, ada masing-masing satu pembeli tetap di Bulgaria, Hongkong, Jepang, Jerman, Kanada, dan Kerajaan Bersatu.

Namun, dalam sekali pengiriman, PT GHM hanya bisa menyediakan 4-6 ton alih-alih satu peti kemas penuh yang bisa menampung 20 ton.

Reino mengaku tak mengerti mengapa mayoritas dari 92 petani yang dinaungi perusahaan lebih suka mengolah cap tikus ketimbang memasok aren ke pabrik PT GHM.

Sebab, perusahaan telah menyediakan insentif finansial dan infrastruktur yang dimungkinkan dari hasil kerja sama dengan Yayasan Masarang yang bergerak di bidang konservasi alam.

Pertama, jika tergabung dalam skema PT GHM, para petani tak perlu repot mengolah air nira menjadi produk akhir, yaitu gula semut. Mereka hanya perlu menyadap nira setiap hari, lalu memasaknya hingga mendidih agar tidak menjadi kecut.

Nantinya, truk perusahaan akan menjemput air nira, lalu mengukur kadar gulanya, atau yang lebih dikenal dengan istilah brix. Setiap liter akan dihargai antara Rp 2.200-Rp 3.000, tergantung konsentrasi gula dalam air nira.

Jika tak punya lahan, para petani dapat menyadap nira di kebun-kebun aren milik Yayasan Masarang yang tersebar di Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa. Sebuah pondok yang menjadi tempat tungku pembakaran (rocket stove) pun telah disediakan.

Baca JugaMenyulap Cap Tikus Menjadi ”Hand Sanitizer”

Para petani tak perlu membayar sewa sepeserpun meski, kata Reino, air nira yang mereka sadap akan dihargai maksimal Rp 2.500 per liter alih-alih Rp 3.000. Pembayaran akan diberikan setiap minggu. Semakin banyak mayang pohon aren yang petani ambil niranya, semakin banyak pula penghasilan mereka.

“Pembayaran kami ke petani itu udah melebihi standar UMP (upah minimum provinsi). Rata-rata harga beli kami per liter [air nira] itu relatif tinggi. Mereka cuma perlu masak dan nyadap sebanyak mungkin aja,” ujar Reino.

Rantai pasok ke PT GHM jauh lebih sederhana dan lebih cepat mendatangkan penghasilan ketimbang cap tikus. Untuk membuat minuman beralokohol ini, petani harus membiarkan nira berfermentasi selama beberapa hari, lalu menyulingnya dengan perangkat distilasi dari bambu untuk membuat cap tikus.

Meksi begitu, Reino menduga petani aren lebih suka membuat cap tikus karena mereka tak perlu setiap hari memasak nira hingga mendidih, melainkan lebih banyak menunggu sampai nira terfermentasi. Petani juga banyak menunggu dalam proses distilasi yang mengubah air nira menjadi cap tikus tetes demi tetes.

Di samping itu, Reino juga mengatakan cap tikus sudah pasti terserap oleh pasar. “Bahan baku banyak, tapi kami bersaing dengan cap tikus yang sudah jadi budaya di sini kan,” ujar dia.

Para petani yang menyadap di kebun perusahaan pun mengaku tetap memproduksi cap tikus sebagai sumber penghasilan sampingan. Ventje Wawo (55), penyadap air nira di kebun PT GHM yang dinamai ”Pulisan” di Tomohon, mengatakan bisa mendapatkan sekitar Rp 800.000 setiap minggu dari cap tikus.

“Cap tikus itu cuma sampingan. Kalau ada (kelebihan) yang tertampung, ya bikin cap tikus,” kata dia.

Pembelinya adalah para pemilik warung kelontong. “Seminggu boleh 40 botol (berukuran) 600 mililiter. Satu botol Rp 20.000, lah,” tambah Ventje yang sebetulnya bisa memperoleh Rp 1,3 juta setiap pekan dari memasok air nira saja kepada PT GHM.

Adri Moningka (34), keponakan Ventje yang juga menyadap air nira di area perkebunan Pulisan, juga mengaku mengolah cap tikus untuk menambah penghasilan Rp 60.000-Rp 70.000 per hari dari satu mayang yang sedang menghasilkan air nira. Akan tetapi, ia mengatakan cap tikus paling sering dihasilkan di masa awal penyadapan sebuah mayang.

“Pas penyadapan pertama itu, kan, masih perangsangan. Dia nda mungkin langsung disadap untuk gula, tapi untuk saguer dulu karena asam. Ketimbang itu dibuang, mending dikumpul-kumpul dulu, terus dimasak jadi cap tikus,” kata Adri yang dapat menghasilkan 20 botol cap tikus seminggu.

Membudaya

Status cap tikus sebagai bagian dari budaya Minahasa dicatat pengajar Antropologi Universitas Sam Ratulangi, Maria Heny Pratiknjo, dalam Cap Tikus: Identitas Orang Minahasa yang dimuat dalam buku Budaya Minum di Indonesia (2022). Menurut dia, orang Minahasa percaya cap tikus bermanfaat untuk kebugaran badan serta penyemangat kerja.

Hingga kini, minuman itu terus eksis dan selalu dihadirkan dalam berbagai hajatan, seperti acara syukuran atau duka. Cap tikus pun disediakan bukan dalam botol-botol berlabel hasil olahan pabrik yang dikenai cukai, melainkan botol-botol bekas air mineral yang menandakan peredarannya tak terikat oleh regulasi.

Soal ini, Maria Heny menilai regulasi terhadap cap tikus justru berpotensi berdampak negatif terhadap kehidupan para petani aren yang memproduksinya dan pedagang yang mengecernya. Pada saat yang sama, pemerintah memang tak pernah menerbitkan peraturan khusus terkait cap tikus, melainkan memunculkan solusi lewat pasar dan budaya.

Misalnya, saat ini ada produsen cap tikus skala industri seperti Cap Tikus 1978 yang pabriknya terletak di Kabupaten Minahasa Selatan. Namun, satu pabrik saja tak mampu menyerap semua air nira yang mungkin dihasilkan oleh hamparan pohon aren seluas 5 juta hektar di seluruh Sulut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kendati begitu, Ventje dan Adri sama-sama menyatakan mereka lebih menggantungkan masa depan ekonomi mereka pada air nira yang dipasok untuk PT GHM. Sebab, selama pabrik masih ada, mereka akan bisa mendapatkan penghasilan tetap secara berkelanjutan dari air nira.

Baca JugaSetan Petaka dalam Sebotol Cap Tikus

Maka, agar bisa terus bekerja, satu-satunya yang mereka harapkan adalah kesehatan. “Semoga sehat-sehat, jadi boleh kerja terus,” kata Ventje.

Adri mengatakan hal serupa. “Mudah-mudahan sehat-sehat dan bisa kerja terus di sini, boleh kasih sekolah anak-anak sampai dorang kelar sekolah, sampai kuliah,” kata ayah dari bocah berusia 10 dan empat tahun itu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Hanya Sertifikat Magang, Menaker Pastikan Peserta Dapat Sertifikat Keahlian dan Kenaikan Uang Saku
• 51 menit lalumatamata.com
thumb
China Larang Mobil Baru Andalkan Layar Sentuh, Wajibkan Tombol Fisik
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Kapolri Marah Oknum Brimob Aniaya Pelajar di Maluku, Instruksikan Usut Tuntas!
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Video: Pekan Ini, Iran-AS Lanjut Negosiasi Nuklir di Jenewa
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rekomendasi Olahraga yang Aman Selama Ramadhan
• 10 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.