Jakarta (ANTARA) - Tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim), yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat mengaku sempat libur kerja karena takut pelaku kembali mendatangi lokasi.
"Iya, sempat libur karena takutnya pelaku ini datang lagi ke lokasi, mungkin masih emosi," kata salah satu operator SPBU korban penganiayaan oleh oknum tersebut, Lukman Hakim (19) saat ditemui di SPBU Cipinang, Jakarta Timur, Selasa.
Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi psikologis korban yang masih terguncang dan rasa khawatir pelaku kembali mendatangi lokasi.
Lukman mengakui seharusnya pada Senin (23/2), ia tetap masuk kerja. Namun, pihak manajemen meminta agar ia beristirahat demi alasan keamanan.
"Saya seharusnya masuk kemarin Senin (22/2), tapi tidak diizinkan bos. Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya," ujar Lukman.
Menurut Lukman, pelaku sempat menyebut dirinya memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.
Baca juga: Korban curiga pelaku dalam pengaruh miras saat mengamuk di SPBU Jaktim
Sebagai pekerja pelayanan publik yang setiap hari berhadapan langsung dengan konsumen, situasi tersebut meninggalkan ketakutan tersendiri bagi Lukman.
"Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir," ucap Lukman.
Tak hanya Lukman, dua operator lain yang turut menjadi korban penganiayaan, yakni Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin juga memilih beristirahat di rumah masing-masing.
Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi mereka disebut masih shock usai kejadian tersebut.
Sementara itu, Staf SPBU 3413901 Mukhlisin (38) membenarkan bahwa ketiga korban tersebut diliburkan sementara dan digantikan oleh petugas lain.
"Saat ini, memang korban kondisinya masih shock, tapi tidak dirawat di rumah sakit, cukup istirahat di rumah. Mereka libur dulu sehari, diganti staf lain," kata Mukhlisin.
Dia mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga kondisi psikologis korban sekaligus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaku kembali datang ke lokasi.
Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja SPBU, yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat secara langsung.
Para korban pun berharap ada jaminan keamanan agar mereka dapat kembali bekerja tanpa rasa takut.
Baca juga: Penganiayaan di SPBU Jaktim, pelaku catut mobil milik jenderal
Sebelumnya, tiga pegawai SPBU 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat.
Ada tiga korban yang dianiaya dalam kejadian yang berlangsung pada Minggu (22/2) malam sekitar pukul 22.00 WIB itu, yakni satu staf dan dua operator.
Ketiga korban tersebut, yaitu Ahmad Khoirul Anam yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.
Khoirul Anam terkena tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan, sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.
Pemilik SPBU 3413901 Ernesta mengaku sudah melaporkan langsung kejadian penganiayaan terhadap pegawainya itu ke Polsek Pulogadung.
"Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum," kata Ernesta saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (23/2).
Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya juga diketahui sudah mendatangi SPBU 3413901 yang berlokasi di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, terkait kasus penganiayaan tersebut.
Baca juga: Operator SPBU akui terima ancaman pembunuhan oleh aparat di Jaktim
Baca juga: Propam Polda Metro Jaya datangi SPBU Cipinang terkait penganiayaan
"Iya, sempat libur karena takutnya pelaku ini datang lagi ke lokasi, mungkin masih emosi," kata salah satu operator SPBU korban penganiayaan oleh oknum tersebut, Lukman Hakim (19) saat ditemui di SPBU Cipinang, Jakarta Timur, Selasa.
Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi psikologis korban yang masih terguncang dan rasa khawatir pelaku kembali mendatangi lokasi.
Lukman mengakui seharusnya pada Senin (23/2), ia tetap masuk kerja. Namun, pihak manajemen meminta agar ia beristirahat demi alasan keamanan.
"Saya seharusnya masuk kemarin Senin (22/2), tapi tidak diizinkan bos. Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya," ujar Lukman.
Menurut Lukman, pelaku sempat menyebut dirinya memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.
Baca juga: Korban curiga pelaku dalam pengaruh miras saat mengamuk di SPBU Jaktim
Sebagai pekerja pelayanan publik yang setiap hari berhadapan langsung dengan konsumen, situasi tersebut meninggalkan ketakutan tersendiri bagi Lukman.
"Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir," ucap Lukman.
Tak hanya Lukman, dua operator lain yang turut menjadi korban penganiayaan, yakni Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin juga memilih beristirahat di rumah masing-masing.
Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi mereka disebut masih shock usai kejadian tersebut.
Sementara itu, Staf SPBU 3413901 Mukhlisin (38) membenarkan bahwa ketiga korban tersebut diliburkan sementara dan digantikan oleh petugas lain.
"Saat ini, memang korban kondisinya masih shock, tapi tidak dirawat di rumah sakit, cukup istirahat di rumah. Mereka libur dulu sehari, diganti staf lain," kata Mukhlisin.
Dia mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga kondisi psikologis korban sekaligus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaku kembali datang ke lokasi.
Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja SPBU, yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat secara langsung.
Para korban pun berharap ada jaminan keamanan agar mereka dapat kembali bekerja tanpa rasa takut.
Baca juga: Penganiayaan di SPBU Jaktim, pelaku catut mobil milik jenderal
Sebelumnya, tiga pegawai SPBU 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat.
Ada tiga korban yang dianiaya dalam kejadian yang berlangsung pada Minggu (22/2) malam sekitar pukul 22.00 WIB itu, yakni satu staf dan dua operator.
Ketiga korban tersebut, yaitu Ahmad Khoirul Anam yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.
Khoirul Anam terkena tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan, sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.
Pemilik SPBU 3413901 Ernesta mengaku sudah melaporkan langsung kejadian penganiayaan terhadap pegawainya itu ke Polsek Pulogadung.
"Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum," kata Ernesta saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (23/2).
Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya juga diketahui sudah mendatangi SPBU 3413901 yang berlokasi di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, terkait kasus penganiayaan tersebut.
Baca juga: Operator SPBU akui terima ancaman pembunuhan oleh aparat di Jaktim
Baca juga: Propam Polda Metro Jaya datangi SPBU Cipinang terkait penganiayaan





