Dapur MBG di Sukoharjo Beri Ruang & Harapan bagi Pekerja Penyandang Disabilitas

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Tubuhnya mungil, langkahnya tak selalu mudah. Namun semangat Latifah Kurniawati (26) jauh lebih besar daripada keterbatasan fisik yang ia miliki. Di usia yang masih muda, ia sudah memikul tanggung jawab membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum bekerja di SPPG Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Latifah berjualan makanan secara online dari rumah. Ia menjajakan cilok dan jajanan lain dengan sistem pre-order. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada pesanan yang masuk setiap hari.

“Sistemnya PO, jadi sehari ada yang beli, sehari enggak. Kadang bisa 150,” kata Latifah saat ditemui di rumahnya yang tak jauh dari dapur MBG Polokarto, dikutip Selasa (24/2).

Penghasilan yang tak pasti itu membuatnya terus berharap pada pekerjaan yang lebih stabil. Kesempatan datang ketika SPPG di dekat tempat tinggalnya membuka lowongan kerja. Awalnya sang ibu yang mendaftar. Namun karena usia tidak memenuhi syarat, Latifah menggantikan.

“Alhamdulillah diterima. Awalnya diwawancara, saya menjawab apa adanya, ya Alhamdulillah diterima,” kenangnya.

Latifah kemudian diterima sebagai petugas kebersihan di SPPG Polokarto. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan juga ruang untuk tumbuh dan membangun rasa percaya diri.

“Alhamdulillah senang banget bisa kerja di SPPG Polo Karta ini, karena tempatnya dekat, teman-temannya juga baik-baik,” tuturnya.

Latifah adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku TK. Dua kakaknya kini merantau—satu di Sumatera dan satu di Sulawesi—sementara ia tinggal bersama ibunya.

Dari gaji yang diterimanya setiap bulan, Latifah kini dapat membantu kebutuhan makan sehari-hari di rumah. Ia pun merasakan kebahagiaan sederhana yang dulu terasa jauh dari jangkauannya.

“Alhamdulillah selama kerja di SPPG Polokarta ini, saya bisa membeli sepeda listrik impian saya ini dan bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Sepeda listrik itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol kemandirian dan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Di lingkungan kerja yang suportif, Latifah juga menemukan ruang bersosialisasi dan rasa kebersamaan.

Di akhir perbincangan, ia menyampaikan harapan agar program ini terus berjalan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Semoga program ini bisa berjalan terus sampai tidak ada batas waktunya. Semoga ini bisa bermanfaat untuk semua warga Indonesia ini. Terima kasih untuk Pak Prabowo, saya sangat senang bekerja di sini, di SPPG ini. Semoga program ini berjalan terus,” harapnya.

Kisah Latifah menjadi bukti bahwa dapur MBG di Sukoharjo bukan hanya menghadirkan layanan gizi bagi masyarakat, tetapi juga membuka ruang kesempatan kerja yang inklusif, memberi harapan baru bagi mereka yang kerap dipandang memiliki keterbatasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berhasil Tembus Babak 16 Besar Dubai Tennis Championships 2026, Janice Tjen Melesat Duduki Ranking ke-36 Dunia
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Jabat Sekjen Kementan, Harta Mertua Dwi Sasetyaningtyas Tembus Rp3 Miliar Lebih
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Debt Collector Tusuk Pria di Tangerang saat Tarik Mobil di Pinggir Jalan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Waspada Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Satpolairud Polres Pelabuhan Makassar Sambangi Nelayan Paotere
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Habiburokhman Soroti Kasus Guru Honorer Jadi Tersangka Akibat Rangkap Jabatan Pendamping Desa
• 59 menit lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.