Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.836 pada hari ini, Selasa (24/2/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau mengalami penguatan.
Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 34 poin atau 0,20% menuju level Rp16.836 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS mengalami apresiasi sebesar 0,10% menuju posisi 97,80.
Adapun, mayoritas mata uang di Asia dibuka melemah. Yen Jepang melemah 0,17% bersama won Korea sebesar 0,20%. Selanjutnya, ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing terdepresiasi sebesar 0,16% dan 0,15%.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup menguat di rentang Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS pada hari ini.
Dari sisi internal, pasar merespons rilis data Kementerian Keuangan terkait posisi APBN yang membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026. Angka tersebut setara dengan 0,21% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp172,7 triliun, sementara belanja negara sudah menyerap Rp227,3 triliun. Meskipun lebih tinggi dibandingkan defisit periode yang sama tahun lalu sebesar Rp23 triliun, pemerintah menilai posisi ini masih sangat terkendali.
Baca Juga
- Menakar Ramalan Harga Emas 2026
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Defisit Setelah 7 Tahun, Ini Kata Menkeu Purbaya
- Dana Nasabah Bank Jambi Dilapor Lenyap dari Rekening, ATM dan Layanan Digital Ditutup
“Angka ini masih berada dalam koridor desain APBN 2026 yang menargetkan defisit setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB,” ujar Ibrahim dalam laporannya, dikutip Selasa (24/2/2026).
Sementara itu dari faktor eksternal, indeks dolar AS menunjukkan tren pelemahan. Pasar saat ini tengah mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa yang meningkatkan harapan meredanya ketegangan geopolitik.
Namun, ketidakpastian masih membayangi terkait kebijakan Presiden Donald Trump yang berencana mengenakan tarif impor global sebesar 10% hingga 15%. Langkah ini memicu kekhawatiran atas potensi gangguan rantai pasok global dan tindakan balasan dari negara lain.
Di sisi lain, melambatnya pertumbuhan ekonomi AS juga menjadi penekan bagi greenback. PDB AS kuartal IV/2025 merosot tajam ke angka 1,4% (YoY) dari sebelumnya 4,4%, dipicu oleh government shutdown selama 43 hari.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





