Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas pada 2025 berada di angka 9,41 tahun, atau setara lulus SMP.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan angka tersebut menjadi salah satu komponen penilaian Sumber Daya Manusia dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.
“Berikutnya adalah komponen Sumber Daya Manusia. Ini salah satu yang digunakan di dalam Indeks Daya Saing Daerah, di mana rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas, rata-rata Indonesia adalah 9,41 tahun,” jelas Amalia dalam peluncuran IDSD 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Selasa (24/2).
“Artinya adalah bahwa Indonesia rata-ratanya menempuh pendidikan sampai dengan lulus SMP. Karena 9,41 tahun dengan ijazah SMP,” lanjutnya.
Ketimpangan Pendidikan Masih TajamMeski tren nasional meningkat, kesenjangan antarprovinsi masih lebar. DKI Jakarta mencatat rata-rata lama sekolah tertinggi, sedangkan Papua Pegunungan terendah.
“Tetapi kalau kita lihat, bandingkan antarprovinsi, maka provinsi dengan rata-rata lama sekolah yang tertinggi adalah DKI Jakarta, selama 11,58 tahun, jadi hampir lulus SMA,” jelas Amalia.
“Kedua Kepri (Kepulauan Riau), ketiga kemudian yang paling rendah adalah Papua Pegunungan yang rata-rata lama sekolahnya hanya 4,76 tahun. Artinya kalau 4,76 tahun itu lulus SD pun juga belum,” sambung dia.
Di level kabupaten/kota, Banda Aceh menempati posisi tertinggi untuk indikator harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pertumbuhan Ekonomi: Maluku Utara Melonjak, Bali Pulih karena PariwisataBPS juga merilis angka pertumbuhan ekonomi tahunan 2025. Secara nasional, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%.
Provinsi dengan pertumbuhan tertinggi adalah Maluku Utara, didorong hilirisasi nikel.
“Berbasis pada angka tersebut, maka kalau kita bandingkan pertumbuhan ekonomi di antara provinsi, yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya pada tahun 2025 adalah Provinsi Maluku Utara,” ungkap Amalia.
“Di mana Provinsi Maluku Utara itu pertumbuhan ekonominya lebih dari 30% sepanjang tahun 2025, karena memang ekonominya saat ini lagi berkembang karena adanya hilirisasi dari produk nikel,” lanjutnya.
Papua Barat dan Sulawesi Tengah juga mencatat pertumbuhan tinggi. Sementara provinsi dengan basis ekonomi besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali tetap tumbuh di atas rata-rata nasional.
“Yang menarik adalah Provinsi Bali. Di mana daerah ini mencapai pertumbuhan ekonomi 5,82%, tertinggi di kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” kata Amalia.
“Ya, karena ternyata Bali lagi pulih pariwisatanya, dan kemudian juga mobilitas masyarakat baik dari wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” tambahnya.
Industri dan Pertanian: Jawa Barat dan Jawa Timur DominanDari sisi komponen pasar, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah industri besar dan sedang terbanyak, mencapai lebih dari 8.000 perusahaan, terutama di Bekasi dan Karawang.
“Kalau kita bandingkan antar provinsi, jumlah industri besar dan sedang itu mayoritas memang ada di Jawa Barat,” ujar Amalia.
Secara nasional, jumlah industri besar dan sedang meningkat pada 2025, sejalan dengan pertumbuhan manufaktur yang hampir mencapai 5,8% pada triwulan IV dan kontribusi mendekati 20% terhadap PDB.
Sementara di sektor pertanian, Jawa Timur menjadi sentra berbagai komoditas utama.
“Jawa Timur merupakan produksi padi yang terbesar, kemudian produksi bawang merah kedua terbesar setelah Jawa Tengah. Produksi jagung pipilan juga ternyata sentranya paling besar ada di Jawa Timur, dan produksi susu segar juga berada di Jawa Timur,” ucap Amalia





