Aktivitas titik panas atau hotspot di sekitar Singapura diprediksi akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Ini dipengaruhi pola angin dan kondisi kering selama fase musim Monsun Timur.
Menurut Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu, Singapura berpotensi tertutup kabut atau asap karena kondisi tersebut.
“Singapura akan terus memantau situasi kabut asap yang sedang berlangsung dengan cermat,” kata Grace Fu di depan anggota parlemen Singapura pada 12 Februari lalu, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (24/2).
Terkait risiko kabut asap lintas batas, Fu mengatakan, Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) akan menerapkan langkah perlindungan kesehatan masyarakat, apabila kondisi udara memburuk. Upaya perlindungan terutama menyasar lansia, wanita hamil, anak-anak, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis.
Fu turut mengimbau agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan serta memastikan pasokan masker N95 yang cukup. Pembersih udara dalam ruangan akan ditempatkan di tempat umum seperti sekolah, rumah sakit, panti jompo, atau poliklinik di mana kelompok rentan cenderung berkumpul.
Grace Fu mengungkapkan Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam Singapura masih berada di kisaran moderat atau sedang. Puncaknya pada 8 Februari, dengan skor 69. Namun, skornya masih terhitung sedang.
“Oleh karena itu, pada tahap ini, kabut asap belum mencapai tingkat yang memerlukan penyelidikan berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas,” kata dia, merujuk undang-undang yang berlaku sejak 2014 itu.
Undang-undang itu menyebutkan, tindakan yang menyebabkan atau berkontribusi pada pencemaran kabut asap Singapura dianggap sebagai pelanggaran.
Sebelumnya, warga Singapura mengeluhkan samar-samar bau hangus sejak akhir Januari 2026. NEA kemudian menghubungkannya dengan sedikit peningkatan kadar PM2,5 atau partikulat debu di area timur, dengan titik api dan kepulan asap dari Johor, Malaysia.
NEA menambahkan, kebakaran vegetasi telah menyebabkan titik api merambah ke utara Singapura. Para dokter di wilayah tengah, utara, dan timur, juga menyatakan lonjakan pasien dengan gejala pernapasan di tengah cuaca berkabut.
Titik Rawan Karhutla: Johor dan Kepulauan RiauMenurut laporan The Strait Times, sebuah unggahan NEA di laman Facebook pada 30 Januari lalu mengungkap risiko kabut asap apabila kebakaran hutan dan lahan terus berlanjut di titik-titik panas.
“Dengan angin yang terus bertiup dari utara dan timur laut, kabut asap mungkin akan terjadi jika kebakaran berlanjut di titik-titik api,” tulis NEA.
Unggahan tersebut dilengkapi peta yang diidentifikasi menunjukkan tiga titik rawan di Johor, Malaysia, serta lima titik rawan di Kepulauan Riau, Indonesia.
Menteri Fu menekankan pentingnya kerja sama regional dan bilateral untuk mengatasi risiko kabut lintas batas. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) memberikan informasi terkini secara berkala kepada negara-negara anggota, mengenai kondisi cuaca dan kabut asap.
Informasi di dalamnya termasuk titik-titik rawan dan peringatan dini untuk mencegah dan menanggulangi bencana di masing-masing negara.
Singapura juga menyatakan dukungan kepada upaya Indonesia untuk mengoperasionalkan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Pengendalian Polusi Kabut Lintas Batas yang direncanakan berbasis di Indonesia. Lembaga ini akan meningkatkan kesiapan dan koordinasi regional untuk mengelola dampak kebakaran hutan dan lahan penyebab kabut.
Menurut Fu, kejadian kabut lintas batas sudah berkurang selama bertahun-tahun. “Sebagian besar karena upaya negara-negara tetangga dalam mengelola peraturan dan komunitas dalam negeri, juga kerja sama regional tingkat ASEAN.”
Singapura telah beberapa kali mengalami bencana kabut asap akibat asap karhutla dari Indonesia dan Malaysia. Periode terparah terjadi pada tahun 1997, 2006, 2013, dan 2015 di mana Indeks Standar Polutan (PSI) mencapai level sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kabut asap terparah pertama yang signifikan terjadi pada 1997. Pada Juni 2013, level PSI bahkan mencapai 371 yang merupakan level polusi udara yang berbahaya. Sejak 2014, Singapura memberlakukan Transboundary Haze Pollution Act untuk menuntut perusahaan atau individu yang menyebabkan kabut asap.
Karhutla di Riau MembaikKebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali terjadi di Provinsi Riau dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau sudah membaik dibandingkan beberapa pekan lalu.
“Sangat membaik dibandingkan beberapa minggu lalu. Tapi tidak boleh lengah sama sekali, kami masih Siaga satu,” kata Ferdian saat dihubungi Katadata, pada Selasa (24/2).
Meski begitu, Kemenhut tetap memantau laporan dan deteksi hotspot sebagai indikasi kejadian kebakaran, untuk kemudian memastikan langsung ke lapangan. Mereka juga melakukan patroli pencegahan untuk mengantisipasi adanya upaya pembakaran lahan secara sengaja.
“Mengingat kondisi juga naik turun di lapangan, tidak hujan dua sampai tiga hari saja bisa dipakai untuk membakar (lahan),” ucap dia.
Tim Manggala Agni juga tetap bersiap untuk menghadapi risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan akibat El Nino, sebagai mana prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), khususnya pada semester II 2026 mendatang.




