Ramadan dan Metamorfosis (3)

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Setiap menjelang Ramadan, saya merencanakan resolusi selama sebulan, minimal membaca dua buku. Biasanya saya membeli buku secara acak saja tanpa harus memilih genre.

Saya membayangkan begitu banyak waktu luang membaca ketika Ramadan, menjelang buka, ba'da tarawih, ba'da sahur, dan setelah salat subuh, meskipun seringkali terdistraksi dengan media sosial.

Pada awal Ramadan tahun ini, saya mengunjungi Gramedia di salah satu mall yang terletak di Tanjung Barat. Gramedianya tidak terlalu luas jadi pilihan buku terbatas. Mungkin karena alasan ini jadi saya dengan mudah menjatuhkan pilihan pada bukunya Nietzsche yang merupakan terbitan Cakrawala edisi kelima 2026, buku ini dipajang di depan.

Dua dekade silam ketika masih berstatus mahasiswa s1, buku-buku Nietzsche merupakan salah satu buku yang minimal pernah dibaca sekali oleh mahasiswa, meskipun memang tidak mudah memahaminya secara utuh karena bahasanya yang sangat puitik, bahkan terjemahan Indonesianya memiliki banyak versi.

Misalnya pada tulisan metamorfosis, buku yang saya baca ini menggunakan diksi "roh" sementara versi lain menejermahkan "spirit" dan banyak lagi pemilihan diksi yang berbeda.

Jika kita membaca kalimat di atas tanpa pernah tahu siapa penulisnya, mungkin kita akan menerka bahwa yang menulis adalah seorang Sufi. Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa yang menulis adalah Nietzsche yang secara umum dikenal sebagai tokoh pembunuh tuhan.

Kalimat selanjutnya, kita akan disuguhi alegori Nietzsche tentang metamorfosis, seekor Unta, Singa, dan anak. Menarik untuk merefleksikan bahwa bagaimana seorang Nietzsche menyatakan bahwa yang memberatkan roh pembawa beban adalah kemuliaan, kehormatan, dan rasa segan.

Ramadan merupakan momen yang menjadi ruang belajar umat Muslim untuk mereduksi pemberat roh. Kita sadar bahwa ego manusia merupakan neraka yang paling menyiksa. Merendahkan diri dalam konteks mengalah misalnya, akan meruntuhkan kesombongan dalam diri, namun tentu itu bukan sesuatu hal yang mudah untuk dipraktikkan.

Kita sangat sering membaca berita tentang orang-orang yang melanggar aturan kemudian ditegur, namun respons balik ternyata reaksioner. Berita tentang pelanggaran lalu lintas yang ditegur namun melawan, Siswa-siswa yang dihukum oleh guru namun kemudian orang tua siswa tidak terima dan melaporkan gurunya, bahkan ada sekelompok siswa yang melakukan pengeroyokan terhadap gurunya, dan berbagai berita semacam itu.

Ada dua pengamalan pribadi yang saya alami sendiri tentang siswa yang melawan guru. Saat kelas 3 SMP, salah seorang teman saya hampir berkelahi dengan guru matematika. Saya lupa persis masalahnya apa, kalau tidak salah ingat, teman saya ditegur karena lewat pagar belakang sekolah.

Kasus kedua ketika duduk di kelas 3 SMA. Kasus ini terjadi tepat di depan mata saya. Saat itu, teman saya yang sekarang jadi TNI, tidak terima karena salah seorang guru kami menegur dan memotong rambutnya yang panjang. Saya masih sangat ingat nama guru dan teman saya.

Saya yakin kedua teman saya paham jika mereka bersalah, orang tua siswa mengerti kalau anaknya melakukan pelanggaran, pelanggaran lalu lintas sadar mereka salah, namun ada satu hal yang tidak mampu mereka kendalikan, ego dalam dirinya. Maka yang terjadi kemudian adalah melakukan tindakan yang anomali.

Tentu saya masih sangat bisa memaklumi reaksi kedua teman saya yang melawan guru karena masih muda, umur belasan tahun memang masa di mana manusia sedang mencari jati diri dan belum mampu menekan ego dalam diri, namun saya benar-benar tidak bisa memaklumi jika yang melakukan hal demikian adalah orang tua siswa. Sementara mereka sudah melewati fase panjang kehidupan yang memberikan pelajaran tentang bagaimana seharusnya bersikap dalam setiap masalah yang dihadapi.

Ramadan pada dasarnya hadir untuk menjadi pesantren bagi manusia untuk menyadari bahwa dalam diri kita, bersemayam begitu banyak beban yang harus dikeluarkan. Kita disuruh untuk menahan hal-hal yang sifatnya badaniah, menahan lapar, dahaga, bahkan menahan diri dari berhubungan badan dengan pasangan.

Entah sejak umur berapa, saya baru mulai menyadari bahwa ketika kita berpuasa selama sehari, maka pada saat buka puasa, kita hanya membutuhkan sangat sedikit makanan untuk melepas lapar dan dahaga, bahkan pada beberapa kali buka puasa, saya hanya mengkonsumsi air kelapa.

Biasanya mata yang mendorong manusia untuk membeli begitu banyak makanan buka puasa. Mereka merasa bahwa sah-sah saja karena sudah menahan diri selama sehari penuh maka momen buka puasa merupakan ajang self reward dan bentuk aneka makanan.

Manusia lupa bahwa sejatinya, puasa bukan cara membunuh waktu untuk menunggu maghrib kemudian melanjutkan kembali ritual makan apa saja, puasa merupakan perjalanan panjang untuk menekan setiap musuh yang muncul dari dalam diri, ego, sombong, iri hati, amarah, tamak, dan berbagai invisible enemy yang mematikan.

Tirakat puasa seperti ini untuk melatih diri menjadi pribadi yang tangguh, mampu mengalahkan musuh yang muncul dari dalam diri karena pada dasarnya, musuh terbesar manusia adalah diri sendiri. Kehidupan kita di dunia sosial hanyalah refleksi dari kehidupan kita secara mikro.

Bahkan konsep puasa tidak hanya dikenal dalam Islam tetapi hampir seluruh penganut kepercayaan memiliki konsep puasa masing-masing yang tentu tujuannya adalah melatih diri menjadi pribadi tangguh sebelum nantinya menjadi Insan Kamil, atau apa yang disebut oleh Nietzsche sebagai Übermensch.

Mungkin konsep Insan Kamil dan Übermensch berbeda secara literal namun proses menuju kedua kondisi tersebut memiliki kesamaan salah satunya mengenai diri dalam bentuk yang murni dan hakiki.

Jika kita tidak mampu mengalahkan musuh dalam diri maka kita menjadi Unta yang terengah-engah di sebuah padang pasir yang tak berbatas dengan sekian banyak beban di pundak.

Manusia dibatasi oleh fisik yang mengaburkan segala nilai hakiki dan makanan merupakan salah satu penghalang terbesar. Hidup manusia bukan untuk makan maka Ramadan hadir untuk mengajarkan kepada kita bahwa makan seperlunya saja karena bukan hal yang penting.

Saya dan mungkin sebagian dari kita sudah sangat familiar dengan kutipan Buya Hamka tentang bagaimana seharusnya menyikapi konsep makan dalam kehidupan manusia;

"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja"

Dua hari lalu, saya mendengarkan podcast prof Quraish Shihab yang menjelaskan tentang perbedaan dua jalan di dunia barat dan timur. Orang-orang barata memilih jalan rasionalitas sementara sebagian dari kita dari timur memilih jalan spiritual.

Saya pribadi percaya bahwa apa pun jalan yang ditempuh jika niatnya suci untuk menemukan dan mengenali diri, maka kita akan sampai pada titik yang sama. Kondisi ketika kita menyadari siapa diri kita yang sebenarnya. Diri yang tidak terikat dengan atribut-atribut artifisial.

3 Ramadan 1447 H


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Efek Kafein Kopi dan Teh saat Ramadan, Ini yang Perlu Diperhatikan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sudinsos Jakbar Buru Wanita Viral yang Kerap Tak Bayar Makan
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pidato di Dewan HAM PBB, Menlu Sugiono Perkuat Komitmen Indonesia terhadap Universalitas HAM
• 6 jam laludisway.id
thumb
Viral Driver Ojol Terkapar Usai Ditabrak Bus di Jakpus, Ini Kata TransJ
• 5 jam laludetik.com
thumb
Bapanas Dukung Diversifikasi Pangan Berbasis Protein Ikan
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.