Jakarta (ANTARA) - Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia nonaktif, Hendra Basir, membantah telah melakukan tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada delapan atlet panjat tebing Indonesia.
"Silakan ditanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik," kata dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa malam, guna mengklarifikasi informasi terkait dugaan tindakan tersebut, serta penonaktifannya sebagai pelatih kepala.
Hendra membeberkan, hingga Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) terkait penonaktifan sebagai pelatih kepala keluar, dirinya belum pernah sama sekali diimbau untuk mengklarifikasi terkait dugaan tindakan itu.
Baca juga: FPTI bentuk TPF terkait penonaktifan Hendra Basir sebagai pelatih
Lebih lanjut dia membeberkan, sejak melatih pada 2012, pola latihan yang keras dan disiplin memang diterapkan kepada setiap atlet yang dilatih.
Dia mengakui bahwa memang terkenal galak dalam melatih para atlet. Tetapi hal itu merupakan bagian dari proses untuk membentuk mental dan fisik yang prima, agar mampu bersaing pada level tertinggi, sehingga bukan untuk menyiksa atau menganiaya.
Sementara, terkait pelecehan seksual, dia mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri, seperti meraba-raba bagian vital, memaksa berhubungan seks, dan lain-lain.
Dia juga mengakui bahwa memang pernah mencium kening atau ubun-ubun dan memeluk atlet putri yang sedang drop saat pertandingan maupun latihan. Namun tindakan semacam itu tidak rutin dilakukan, serta hanya pada momen-momen tertentu semata dan bukan dalam konteks melecehkan.
"Tetapi itu 'kan dalam konteks memberikan semangat kepada mereka kalau sedang menangis atau mentalnya drop, jadi ya pasti saya peluk dan diakhirnya mencium keningnya, layaknya kebiasaan yang saya lakukan kepada anak saya kalau habis shalat atau mau berangkat sekolah," ujar pelatih yang memimpin Indonesia meraih medali Olimpiade Paris 2024 itu.
Hendra menyatakan, jika tindakan tersebut dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual, maka dirinya menerima hal tersebut. Tetapi baginya, publik juga harus tahu dalam konteks seperti apa dirinya melakukan tindakan itu.
Pelatih itu menyebut, berdasarkan informasi yang dia ketahui, ada lima atlet putra dan tiga putri yang melaporkannya kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid, terkait dugaan kedua tindakan tersebut.
Baca juga: Sekum FPTI: Pelatnas tak terganggu oleh penonaktifan Hendra Basir
Salah satu dari tiga atlet putri yang melapor, bahkan juga telah meminta maaf kepada Hendra dengan disaksikan sejumlah atlet lainnya pada pertengahan Januari lalu. Atlet muda bersangkutan merasa tindakan yang seharusnya bukan masalah itu, justru menjadi polemik dan kini menyudutkan sang pelatih.
Lebih lanjut dia menceritakan, psikolog tim menyatakan tindakannya telah melecehkan atlet putri. Padahal dirinya sudah bekerja sama selama 12 tahun dan sebelumnya tidak pernah sekali pun perilaku itu diperingatkan sebagai tindakan pelecehan seksual, meski sudah diketahui psikolog.
"Jadi menurut saya, ini memang terkonsep untuk memojokkan, begitu pun ya tidak apa-apa, saya terima penonaktifan sebagai pelatih kepala itu, meski sampai saat ini tidak ada undangan federasi kepada saya untuk mengklarifikasi informasi yang beredar," kata dia menambahkan.
Penonaktifan Hendra Basir sebagai kepala pelatih tim panjat tebing Indonesia merupakan buntut dari adanya laporan terkait dugaan pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik yang menimpa sejumlah atlet.
Pelaporan delapan atlet itu dilakukan pada 28 Januari 2026 kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid.
Sekretaris Umum PP FPTI Wahyu Pristiawan Buntoro mengungkapkan federasi telah membentuk tim pencari fakta (TPF) terkait penonaktifan pelatih tersebut, akibat dugaan tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada atlet.
"Jadi sesuai surat keputusan (SK) organisasi, maka Hendra Basir diperhentikan sementara sampai dengan ada keputusan dari TPF yang telah dibentuk," kata dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa.
Baca juga: Panjat tebing pasang target empat medali Asian Games 2026
"Silakan ditanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik," kata dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa malam, guna mengklarifikasi informasi terkait dugaan tindakan tersebut, serta penonaktifannya sebagai pelatih kepala.
Hendra membeberkan, hingga Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) terkait penonaktifan sebagai pelatih kepala keluar, dirinya belum pernah sama sekali diimbau untuk mengklarifikasi terkait dugaan tindakan itu.
Baca juga: FPTI bentuk TPF terkait penonaktifan Hendra Basir sebagai pelatih
Lebih lanjut dia membeberkan, sejak melatih pada 2012, pola latihan yang keras dan disiplin memang diterapkan kepada setiap atlet yang dilatih.
Dia mengakui bahwa memang terkenal galak dalam melatih para atlet. Tetapi hal itu merupakan bagian dari proses untuk membentuk mental dan fisik yang prima, agar mampu bersaing pada level tertinggi, sehingga bukan untuk menyiksa atau menganiaya.
Sementara, terkait pelecehan seksual, dia mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri, seperti meraba-raba bagian vital, memaksa berhubungan seks, dan lain-lain.
Dia juga mengakui bahwa memang pernah mencium kening atau ubun-ubun dan memeluk atlet putri yang sedang drop saat pertandingan maupun latihan. Namun tindakan semacam itu tidak rutin dilakukan, serta hanya pada momen-momen tertentu semata dan bukan dalam konteks melecehkan.
"Tetapi itu 'kan dalam konteks memberikan semangat kepada mereka kalau sedang menangis atau mentalnya drop, jadi ya pasti saya peluk dan diakhirnya mencium keningnya, layaknya kebiasaan yang saya lakukan kepada anak saya kalau habis shalat atau mau berangkat sekolah," ujar pelatih yang memimpin Indonesia meraih medali Olimpiade Paris 2024 itu.
Hendra menyatakan, jika tindakan tersebut dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual, maka dirinya menerima hal tersebut. Tetapi baginya, publik juga harus tahu dalam konteks seperti apa dirinya melakukan tindakan itu.
Pelatih itu menyebut, berdasarkan informasi yang dia ketahui, ada lima atlet putra dan tiga putri yang melaporkannya kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid, terkait dugaan kedua tindakan tersebut.
Baca juga: Sekum FPTI: Pelatnas tak terganggu oleh penonaktifan Hendra Basir
Salah satu dari tiga atlet putri yang melapor, bahkan juga telah meminta maaf kepada Hendra dengan disaksikan sejumlah atlet lainnya pada pertengahan Januari lalu. Atlet muda bersangkutan merasa tindakan yang seharusnya bukan masalah itu, justru menjadi polemik dan kini menyudutkan sang pelatih.
Lebih lanjut dia menceritakan, psikolog tim menyatakan tindakannya telah melecehkan atlet putri. Padahal dirinya sudah bekerja sama selama 12 tahun dan sebelumnya tidak pernah sekali pun perilaku itu diperingatkan sebagai tindakan pelecehan seksual, meski sudah diketahui psikolog.
"Jadi menurut saya, ini memang terkonsep untuk memojokkan, begitu pun ya tidak apa-apa, saya terima penonaktifan sebagai pelatih kepala itu, meski sampai saat ini tidak ada undangan federasi kepada saya untuk mengklarifikasi informasi yang beredar," kata dia menambahkan.
Penonaktifan Hendra Basir sebagai kepala pelatih tim panjat tebing Indonesia merupakan buntut dari adanya laporan terkait dugaan pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik yang menimpa sejumlah atlet.
Pelaporan delapan atlet itu dilakukan pada 28 Januari 2026 kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid.
Sekretaris Umum PP FPTI Wahyu Pristiawan Buntoro mengungkapkan federasi telah membentuk tim pencari fakta (TPF) terkait penonaktifan pelatih tersebut, akibat dugaan tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada atlet.
"Jadi sesuai surat keputusan (SK) organisasi, maka Hendra Basir diperhentikan sementara sampai dengan ada keputusan dari TPF yang telah dibentuk," kata dia saat dihubungi dari Jakarta, Selasa.
Baca juga: Panjat tebing pasang target empat medali Asian Games 2026





