Mengapa Bayi Hewan Bisa Langsung Jalan sedangkan Manusia tidak? Ini Penjelasan Sains

mediaindonesia.com
17 jam lalu
Cover Berita

PERNAHKAH Anda memperhatikan anak kuda atau jerapah yang baru lahir? Hanya dalam hitungan jam, mereka sudah bisa berdiri tegak dan berlari mengikuti induknya. Fenomena ini sangat kontras dengan bayi manusia yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan untuk sekadar menopang kepala sendiri.

Kondisi bayi manusia yang lahir "tidak berdaya" dibandingkan hewan lain bukanlah sebuah kecacatan evolusi. Sebaliknya, hal ini merupakan hasil dari kompromi biologis yang sangat kompleks. Berdasarkan data dari Scientific American dan penelitian biologi molekuler, berikut adalah alasan ilmiah di balik fenomena tersebut.

1. Dilema Obstetrik: Otak Besar vs Panggul Sempit

Faktor utama yang menghambat kematangan bayi manusia di dalam rahim adalah ukuran otak. Manusia memiliki rasio ukuran otak terhadap tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan primata atau mamalia lainnya.

Baca juga : Mengapa Bayi Manusia Lahir 'Tak Berdaya'?

Secara evolusi manusia berjalan tegak (bipedal). Hal ini menyebabkan struktur panggul manusia menjadi lebih sempit dan kaku untuk mendukung keseimbangan saat berjalan. Di sisi lain, otak manusia yang terus berkembang membutuhkan ruang yang luas.

Jika janin manusia bertahan lebih lama di dalam rahim agar bisa lahir dalam kondisi "siap jalan", ukuran kepalanya akan menjadi terlalu besar untuk melewati jalan lahir. Inilah yang dikenal sebagai Obstetrical Dilemma. Bayi manusia terpaksa lahir saat otaknya baru mencapai sekitar 25% dari ukuran dewasa agar proses persalinan tetap aman bagi ibu dan anak.

ika bayi manusia lahir dengan tingkat kematangan yang sama dengan anak simpanse, masa kehamilan manusia harus mencapai 18 hingga 21 bulan!

Baca juga : 3 Tips untuk Perkembangan Otak Bayi bagi Ibu Hamil

2. Hipotesis EGS: Batas Energi Metabolisme Ibu

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa panggul bukan satu-satunya alasan. Ada faktor metabolisme ibu yang disebut hipotesis EGS (Energetics, Gestation, and Growth).

Selama kehamilan, kebutuhan energi janin meningkat secara eksponensial. Pada bulan kesembilan, tubuh ibu mencapai ambang batas kemampuan maksimal dalam menyuplai energi. Ketika kebutuhan janin melebihi kemampuan metabolisme ibu, tubuh secara alami memicu persalinan. Jadi, bayi lahir bukan karena mereka sudah "matang", melainkan karena ibu sudah tidak mampu lagi memberikan energi yang cukup di dalam rahim.

3. Strategi Evolusi: Plastisitas Otak

Ketidakberdayaan bayi manusia sebenarnya adalah investasi jangka panjang. Karena otak manusia paling banyak berkembang setelah lahir (di lingkungan luar), bayi memiliki plastisitas otak yang tinggi.

Masa ketergantungan yang lama memungkinkan manusia untuk:

  • Mempelajari keterampilan sosial dan budaya yang rumit.
  • Mengembangkan kemampuan bahasa yang tidak dimiliki spesies lain.
  • Memperkuat ikatan komunitas (alloparenting), di mana pengasuhan dilakukan secara kolektif.

Sebagai gantinya, manusia mendapatkan kapasitas kognitif yang jauh melampaui spesies mana pun di bumi. Bayi manusia lahir "setengah matang" agar mereka memiliki ruang untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia yang kompleks. (H-3)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RUU Perampasan Aset Kembali Dibahas, Momentum Perkuat Pemberantasan Korupsi
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Mendag Klaim Harga Pangan Stabil, Harga Cabai Meroket
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Partai Buruh Dorong Ambang Batas Parlemen 0%: 50 Juta Suara Rakyat Sia-sia
• 12 jam laludetik.com
thumb
Ini Dia Daftar Pemain Film Laut Bercerita: Reza Rahadian hingga Dian Sastro Adu Peran
• 6 jam lalugrid.id
thumb
IHSG Dibuka Naik 0,55 Persen ke 8.326, Rupiah Turun Jadi Rp 16.829/Dolar AS
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.