Soroti Alumni Penerima Beasiswa LPDP, Senator Lia Istifhama: Setelah Lulus Seharunya Bekerja di Dalam Negeri

jpnn.com
8 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Kasus viral yang bermula dari unggahan media sosial alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS terkait pernyataan kebanggaannya lantaran anaknya berkewarganegaraan Inggris dan enggan membawa sang anak menjadi WNI, masih hangat memicu perhatian publik.

Kekecewaan netizen belum terhenti meskipun suami DS, AP, yang juga penerima beasiswa LPDP telah berkomitmen mengembalikan semua dana LPDP milaran rupiah yang telah diterimanya.

BACA JUGA: Prabowo Targetkan 4 Ribu Beasiswa LPDP untuk Mahasiswa Kuliah di Luar Negeri pada 2026

Wajar jika publik mengecam, akibat jumlah fantastis dana beasiswa LPDP yang didapat oleh DS dan suaminya tersebut.

Tak ayal, berbagai pihak pun bersuara. Dari panggung politik nasional misalnya, muncul suara dari anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr. Lia Istifhama.

BACA JUGA: Alumni President University Raih Beasiswa LPDP di Manchester University

Senator Jawa Timur itu menyoroti regulasi yang pernah viral sebelumnya, yaitu tentang diperbolehkannya alumni LPDP bekerja di Luar Negeri.

Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri adalah proses strategis untuk membentuk karakter mahasiswa Indonesia menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan terbuka terhadap dinamika global.

BACA JUGA: Senator Lia Istifhama Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Perkuat Ketahanan Sosial dari Desa

Namun, seharusnya tidak disamakan dengan tujuan hidup kerja di luar negeri.

“Beasiswa LPDP adalah impian mahasiswa. Sangat wajar jika impian menimba ilmu dari pendidikan luar negeri hadir dengan harapan membentuk karakter yang struggle, adaptif sebagai minoritas di tengah mayoritas, dan inventif. Jadi, bagaimana bertahan hidup di negeri orang,” ujar Senator Lia Istifhama dalam keterangan tertulis pada Rabu (25/2/2026).

Senator Lia mengaku pernah menyampaikan saat mengisi Webinar, tepatnya dua kali pada tahun 2024 lalu bersama mahasiswa lintas provinsi yang kebetulan mendaftar beasiswa LPDP.

Sebagai informasi, politikus cantik itu pernah menjadi narasumber Webinar bersama Yayasan Pandara pada Juni 2024 dan Pemuda Pelopor Nasional pada Desember 2024 lalu terkait beasiswa LPDP.

Ning Lia menambahkan pengalaman menjadi minoritas di lingkungan internasional merupakan pembelajaran sosial yang sangat berharga.

Dari situ lahir ketahanan mental, cara pandang terbuka serta kemampuan membaca perubahan dunia.

Namun, politisi perempuan ini menegaskan bahwa tujuan utama dari fasilitas tersebut bukanlah untuk menetap di luar negeri, melainkan kembali ke Indonesia membawa ilmu, jejaring, dan pengalaman global.

“Namun, setelah lulus, seharusnya fokus di dalam negeri dengan tujuan mewariskan ilmu dan semangat kepada generasi di bawahnya,” tegasnya.

Dalam Webinar Series LPDP bertajuk penguatan fondasi pendidikan bagi generasi emas Indonesia, keponakan gubernur Jawa Timur ini mengingatkan bahwa dana LPDP bersumber dari keuangan negara sehingga manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

“Ketika impian meraih beasiswa tercapai, maka pulanglah. Dana yang digunakan berasal dari publik, sehingga manfaatnya harus kembali kepada pengabdian pada negara. Negara kita kaya, kok. Banyak kemanfaatan dan keberkahan yang bisa diraih,” tuturnya.

Pada forum lain yang mempertemukan unsur legislatif, pengelola program, akademisi, dan aktivis kepemudaan, Lia juga menyoroti pentingnya penggunaan diksi dalam kebijakan agar tidak membentuk persepsi keliru di kalangan generasi muda.

Dia menilai narasi yang memberi ruang terlalu longgar bagi alumni untuk bekerja di luar negeri berpotensi menggeser orientasi pengabdian. Padahal, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia unggul yang telah ditempa melalui pendidikan global.

Meski demikian, Lia tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya faktor personal yang membuat alumni menetap di luar negeri seperti alasan keluarga.

Namun, dia berpandangan hal tersebut tidak perlu menjadi narasi resmi dalam kebijakan publik.

Baginya, LPDP bukan sekadar program bantuan pendidikan, tetapi strategi besar negara dalam menyiapkan generasi emas Indonesia.

“Ilmu yang diperoleh harus kembali menjadi energi kemajuan bangsa. Bagaimana ilmu dan motivasi keberhasilan selama menjadi penerima LPDP, bisa disampaikan pada adik-adik generasi di bawahnya,” katanya.

Senator cantik itu juga menjelaskan bahwa dirinya pernah mendapatkan bantuan beasiswa, sekalipun jauh dari nominal yang didapat beasiswa LPDP.

“Kalau LPDP, memang Impian saya, namun gagal saya raih karena waktu S1 saya kuliah di tiga tempat jadi kurang mempelajari akses tersebut. Namun saat S2 atau magister, alhamdulillah mendapatkan beasiswa study dari Kemenag, yaitu full kuliah gratis, dan S3 atau doktoral, mendapatkan bantuan penyelesaian Pendidikan atau BPP.”

“Jadi, selama satu tahun bebas biaya kuliah. Pelajaran yang saya dapatkan, terutama saat S2, bahwa saya seharusnya sudah selesai dalam masa 1,5 tahun, tetapi karena beasiswa yang didapat untuk 4 Semester, maka saya baru lulus 2 tahun. Dari situ saya belajar untuk bersabar harus menyadari bahwa setiap rezeki yang kita dapatkan, pasti ada konsekuensi,” pungkas Ning Lia.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Saham Top Gainer Perdagangan Rabu 25 Februari 2026, Sinar Mas Naik Panggung
• 18 menit laluidxchannel.com
thumb
Perkuat Industri Dalam Negeri, Agrinas Tak Perlu Impor Mobil Niaga
• 6 jam laludetik.com
thumb
Rp40 Miliar Hadiah Lomba Al-Quran Raja Salman Tahun Ini, Arab Saudi Ingin Tarik Penghafal Terbaik Dunia
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Vino G. Bastian Beradu Peran dengan Anak Down Syndrome dalam Film Tanah Runtuh
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Sinopsis Drama China Seeds of Scarlet Longing, Kisah Kutukan dan Cinta Terlarang
• 33 menit lalugrid.id
Berhasil disimpan.