Penulis: Fityan
TVRINews-London, Inggris
Analisis IISS menunjukkan ketahanan militer Moskow tetap stabil meski tekanan ekonomi dan jumlah korban meningkat.
Rusia diprediksi mampu mempertahankan intensitas invasinya di Ukraina setidaknya hingga tahun 2026.
Analisis terbaru dari lembaga pemikir militer terkemuka, International Institute for Strategic Studies (IISS), menunjukkan bahwa kemampuan Moskow untuk membiayai dan menjalankan operasi militer tahun kelima belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang signifikan.
Dalam laporan tahunan The Military Balance, Direktur Jenderal IISS, Bastian Giegerich, menyatakan bahwa meski terdapat tekanan pada sektor tenaga kerja dan ekonomi, ambisi militer Kremlin tetap terjaga.
"Hanya ada sedikit indikasi bahwa kemampuan Rusia untuk melanjutkan perangnya melawan Ukraina selama lima tahun ke depan telah berkurang," ujar Giegerich Selasa 24 Februari 2026
Anggaran Pertahanan yang Masif
Data IISS mengungkapkan bahwa Kremlin mengalokasikan sedikitnya USD 186 miliar (sekitar Rp2.900 triliun) untuk sektor pertahanan pada tahun 2025.
Angka ini mencerminkan 7,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia tiga kali lipat dibandingkan rasio belanja pertahanan Inggris dan lebih dari dua kali lipat milik Amerika Serikat.
Fenella McGerty, pakar keuangan pertahanan di IISS, mencatat bahwa pengeluaran militer Rusia telah meningkat dua kali lipat secara riil sejak 2021.
Hal ini memungkinkan Moskow untuk terus mendanai produksi peralatan tempur dan rekrutmen personel guna mendukung serangan udara maupun darat yang berkelanjutan.
Tantangan Personel dan Modernisasi
Meski secara finansial kuat, Rusia mulai menghadapi kendala pada sumber daya manusia. Nigel Gould Davies, ahli Rusia di IISS sekaligus mantan duta besar Inggris untuk Belarusia, menyoroti adanya kesenjangan antara jumlah rekrutmen bulanan dengan angka kehilangan di medan perang.
"Terdapat tanda-tanda bahwa tingkat rekrutmen Rusia mulai gagal mengimbangi kerugian bulanan mereka," kata Gould Davies. Ia menambahkan bahwa kualitas pasukan cenderung menurun karena perekrut mulai beralih ke kelompok masyarakat yang kurang ideal secara fisik dan sosial.
Namun, Moskow menyiasati hal ini dengan memanfaatkan perang sebagai laboratorium teknologi.
IISS melaporkan pengembangan taktik baru dan modernisasi persenjataan, termasuk drone Shahed-136 yang kini memiliki jangkauan hingga 2.000 km, yang berpotensi mengancam wilayah Eropa secara lebih luas.
Implikasi bagi NATO dan Eropa
Situasi ini meningkatkan urgensi bagi sekutu NATO untuk memperkuat sistem pertahanan udara. Giegerich menekankan bahwa ketergantungan Eropa pada intelijen dan aset ruang angkasa Amerika Serikat masih sangat tinggi.
Dibutuhkan waktu hingga dekade 2030-an bagi Eropa untuk bisa mandiri secara militer jika dukungan dari Gedung Putih berubah di masa depan.
"Eropa perlu meningkatkan investasi dalam pertahanan rudal dan sistem anti-drone," tegas Giegerich, merujuk pada insiden masuknya drone Rusia ke wilayah udara Polandia pada September lalu sebagai pengingat nyata akan ancaman yang terus berkembang.
Editor: Redaktur TVRINews





