Refleksi Ramadan dan Kemerdekaan Pekerja Perempuan

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Ramadan 2026 mulai dijalani umat Islam sejak pertengahan Februari. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan selalu hadir sebagai momentum yang sangat dinantikan; bukan hanya sebagai periode peningkatan ibadah, melainkan juga sebagai waktu refleksi terhadap cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagi banyak orang, Ramadan menjadi penanda perubahan ritme kehidupan: waktu bekerja disesuaikan, pola makan bergeser, dan hubungan sosial kembali diperkuat melalui berbagai aktivitas kebersamaan.

Tradisi berkumpul bersama keluarga, berbuka puasa bersama, hingga menjalankan ibadah secara kolektif menjadi bagian penting dari pengalaman Ramadan. Momentum ini menghadirkan ruang untuk mempererat relasi sosial yang sering kali terpinggirkan oleh kesibukan pekerjaan sehari-hari.

Namun di balik suasana kebersamaan tersebut, Ramadan juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi kelompok pekerja yang harus menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan sosial ataupun kehidupan rumah tangga.

Bagi kelas pekerja perkotaan—khususnya di wilayah metropolitan seperti Jakarta—Ramadan sering kali dijalani dalam situasi yang tidak sederhana. Aktivitas commuting dengan perjalanan panjang menuju tempat kerja tetap harus dijalani di tengah kepadatan kota. Di saat yang sama, tuntutan pekerjaan juga tidak berkurang secara signifikan.

Menurut data detikFinance, 18 Juli 2025, data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa rata-rata pekerja Indonesia menghabiskan sekitar 41 jam kerja per minggu, dengan pekerja formal mencapai sekitar 43 jam per minggu. Bahkan, sekitar 37 juta pekerja—atau lebih dari seperempat tenaga kerja nasional—bekerja lebih dari 49 jam per minggu, atau setara dengan hampir 10 jam per hari.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa bagi banyak pekerja, Ramadan bukan berarti berkurangnya beban kerja. Setelah menyelesaikan pekerjaan, pekerja masih harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan domestik di rumah, mulai dari mempersiapkan makanan berbuka hingga menjaga hubungan dengan keluarga. Kehidupan sehari-hari berlangsung seolah di dua ruang sekaligus: ruang kerja dan ruang domestik, yang keduanya menuntut perhatian penuh (CNA).

Dalam konteks ini, kemampuan untuk bertahan (surviving) menjadi bagian penting dari pengalaman pekerja selama Ramadan. Bertahan bukan hanya dalam arti fisik, melainkan juga dalam menjaga kewarasan di tengah tekanan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga yang berjalan bersamaan.

Ramadan bukan sekadar menjadi momentum spiritual, melainkan juga menjadi ujian terhadap kemampuan individu mengelola waktu, energi, dan emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman tersebut menjadi semakin kompleks ketika dilihat dari perspektif pekerja perempuan. Dalam masyarakat modern, semakin banyak perempuan menjalani peran sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola kehidupan rumah tangga. Namun, partisipasi perempuan dalam dunia kerja masih menghadapi berbagai hambatan struktural.

Laporan Bank Dunia (World Bank) menunjukkan bahwa hanya sekitar 53,5 persen perempuan usia kerja di Indonesia yang berpartisipasi dalam angkatan kerja, lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Salah satu faktor utama yang membatasi partisipasi tersebut adalah keterbatasan akses terhadap fasilitas penitipan anak. Sebuah representasi solid mengenai konflik pilihan antara bekerja dan merawat keluarga untuk perempuan.

Perubahan peran perempuan dalam dunia kerja dapat dipahami melalui pemikiran sosiologi klasik seperti Max Weber, yang menjelaskan bahwa masyarakat tradisional cenderung didasarkan pada otoritas yang bersumber dari adat dan kebiasaan.

Dalam sistem semacam ini, peran perempuan sering kali dibatasi pada ruang domestik karena dianggap sebagai bagian dari tradisi yang tidak perlu dipertanyakan.

Namun dalam masyarakat modern yang didasarkan pada otoritas legal-rasional, posisi seseorang semakin ditentukan oleh kompetensi dan kualifikasi, bukan semata-mata oleh tradisi. Perubahan ini membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi lebih luas dalam dunia kerja profesional.

Meski demikian, perluasan peran perempuan di dunia kerja tidak selalu diikuti oleh perubahan struktur yang memadai. Kemerdekaan bekerja sering kali tidak hanya ditentukan oleh kesempatan ekonomi, tetapi juga oleh keberadaan kebijakan yang mendukung perempuan sebagai pekerja sekaligus individu dengan kebutuhan biologis dan sosial yang berbeda.

Dalam praktik kebijakan, khususnya di Indonesia, banyak perusahaan masih belum sepenuhnya menyediakan kebijakan afirmatif dasar bagi pekerja perempuan.

Hak-hak seperti cuti haid, cuti melahirkan, maupun fasilitas penitipan anak masih belum tersedia secara merata. Padahal, kebijakan tersebut merupakan bagian dari perlindungan normatif pekerja.

Ketiadaan fasilitas penitipan anak dan kemudahan untuk mendapatkan cuti membuat banyak perempuan menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan karier atau memprioritaskan keluarga.

Pilihan semacam ini jarang dihadapi oleh pekerja laki-laki dalam derajat yang sama. Ketimpangan struktural tersebut menunjukkan bahwa perluasan partisipasi perempuan di dunia kerja belum sepenuhnya diiringi oleh perubahan institusional yang memadai.

Akibatnya, bekerja bagi sebagian perempuan bukan lagi semata-mata merupakan bentuk kebebasan memilih, melainkan juga menjadi tuntutan ekonomi yang sulit dihindari. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa pendapatan pekerja rata-rata masih relatif terbatas.

Dilansir dari detikFinance, angka rata-rata pendapatan pekerja Indonesia sekitar Rp2,8 juta per bulan, sementara di wilayah perkotaan lebih tinggi—tetapi tetap menghadapi biaya hidup yang besar.

Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi untuk melihat kembali kondisi tersebut. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya "Bagaimana individu menjalani ibadah dengan baik?" melainkan juga "Sejauh mana lingkungan sosial telah memungkinkan pekerja, khususnya perempuan, menjalani kehidupan yang layak dan seimbang?"

Pada akhirnya, Ramadan dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan kerja tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga. Apresiasi terhadap pekerja, khususnya perempuan, tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan simbolik, tetapi juga melalui upaya menciptakan kondisi kerja yang lebih adil dan manusiawi.

Dalam semangat refleksi Ramadan, penting untuk kembali bertanya: Apakah perempuan di sekitar kita semua—baik saudara kita, pasangan kita, maupun ibu terkasih—telah memperoleh kesempatan bekerja yang benar-benar layak, sekaligus kehidupan yang sesuai dengan harapan mereka? Pertanyaan ini menjadi relevan bukan hanya bagi keluarga, melainkan juga bagi institusi dan masyarakat secara keseluruhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menohok! Sekjen Projo Tuding Roy Suryo Cs Menghindar Usai Minta Penyidikan Kasus Ijazah Dihentikan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
ICW Minta KPK Awasi 1.179 SPPG Polri
• 5 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Menko Pangan Pastikan Indonesia Tidak Ada Impor Beras dari AS
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Kendalikan Inflasi, Pemkab Lingga Gelar Bazar Murah Ramadan
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Gebuk Club Brugge 4-1, Atletico Madrid Raih Tiket Pertama Babak 16 Besar Lewat Jalur Playoff
• 16 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.