Jakarta, VIVA – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai perusahaan berpotensi menggeser pekerja manusia menjadi perbincangan hangat dalam beberapa tahun belakangan. Tidak hanya menggantikan posisi manusia, robot AI diprediksi akan mendominasi populasi tenaga kerja manusia dalam beberapa dekade mendatang.
Prediksi ini seiring perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Langkah ini guna memperpanjang napas di tengah persaingan yang semakin ketat.
Mantan Kepala Inovasi, Teknologi, dan Masa Depan Dunia Kerja Citi Global Insights, Rob Garlick, memperingatkan sistem ekonomi saat ini mendorong perusahaan untuk memprioritaskan profitabilitas. Kombinasi antara dorongan keuntungan dan kemajuan teknologi membuat robot semakin menggantikan peran manusia.
“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam ekonomi dan bisnis yang mengutamakan profitabilitas,” ujar Garlick diutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 25 Februari 2026.
- U-Report
Ia menambahkan, kemajuan AI akan menciptakan pergeseran tenaga kerja terbesar dalam sejarah modern. Hal ini karena robot AI dinilai mampu melakukan lebih banyak hal, lebih baik, dan lebih murah, daripada manusia.
Berdasarkan laporan Citi pada tahun 2024, Garlick dan tim memperkirakan jumlah robot AI akan mencapai 1,3 miliar unit pada tahun 2035. Tidak sampai di situ, pekerja robot akan mengalami lonjakan signifikan hingga lebih dari 4 miliar unit pada tahun 2050.
“Kita akan bergerak dalam beberapa dekade ke depan menuju kondisi di mana jumlah robot melebihi populasi tenaga kerja, dan jika ditambah agen AI digital, jumlahnya akan meledak,” kata Garlick.
Robot AI yang dimaksud mencakup berbagai jenis, seperti robot humanoid, robot rumah tangga, hingga kendaraan otonom. Teknologi ini semakin diminati karena menawarkan efisiensi tinggi dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah dibanding tenaga manusia.
Sejumlah perusahaan global sudah mulai mengintegrasikan AI untuk menggantikan peran manusia. Perusahaan besar seperti Amazon, Salesforce, Accenture, Heineken, dan Lufthansa bahkan telah mengurangi ribuan posisi pekerjaan dengan menjadikan AI sebagai bagian dari transformasi bisnis.
Data firma konsultan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan AI memicu hampir 55.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2025.





