Robot AI Diprediksi Kuasai Tenaga Kerja, Nasib Pekerja Manusia di Ujung Tanduk

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai perusahaan berpotensi menggeser pekerja manusia menjadi perbincangan hangat dalam beberapa tahun belakangan. Tidak hanya menggantikan posisi manusia, robot AI diprediksi akan mendominasi populasi tenaga kerja manusia dalam beberapa dekade mendatang. 

Prediksi ini seiring perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Langkah ini guna memperpanjang napas di tengah persaingan yang semakin ketat.

Baca Juga :
Bursa Asia Melonjak Tajam Ikuti Reli Wall Street, Sentimen AI dan Geopolitik Gerakkan Pasar Global
LG Electronics Pamer Teknologi Canggih

Mantan Kepala Inovasi, Teknologi, dan Masa Depan Dunia Kerja Citi Global Insights, Rob Garlick, memperingatkan sistem ekonomi saat ini mendorong perusahaan untuk memprioritaskan profitabilitas. Kombinasi antara dorongan keuntungan dan kemajuan teknologi membuat robot semakin menggantikan peran manusia.

“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam ekonomi dan bisnis yang mengutamakan profitabilitas,” ujar Garlick diutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 25 Februari 2026.

Ilustrasi robot masa depan.
Photo :
  • U-Report

Ia menambahkan, kemajuan AI akan menciptakan pergeseran tenaga kerja terbesar dalam sejarah modern. Hal ini karena robot AI dinilai mampu melakukan lebih banyak hal, lebih baik, dan lebih murah, daripada manusia.

Berdasarkan laporan Citi pada tahun 2024, Garlick dan tim memperkirakan jumlah robot AI akan mencapai 1,3 miliar unit pada tahun 2035. Tidak sampai di situ, pekerja robot akan mengalami lonjakan signifikan hingga lebih dari 4 miliar unit pada tahun 2050.

“Kita akan bergerak dalam beberapa dekade ke depan menuju kondisi di mana jumlah robot melebihi populasi tenaga kerja, dan jika ditambah agen AI digital, jumlahnya akan meledak,” kata Garlick.

Robot AI yang dimaksud mencakup berbagai jenis, seperti robot humanoid, robot rumah tangga, hingga kendaraan otonom. Teknologi ini semakin diminati karena menawarkan efisiensi tinggi dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah dibanding tenaga manusia.

Sejumlah perusahaan global sudah mulai mengintegrasikan AI untuk menggantikan peran manusia. Perusahaan besar seperti Amazon, Salesforce, Accenture, Heineken, dan Lufthansa bahkan telah mengurangi ribuan posisi pekerjaan dengan menjadikan AI sebagai bagian dari transformasi bisnis.

Data firma konsultan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan AI memicu hampir 55.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2025.

Baca Juga :
AI Ubah Arah Dunia Kerja, Kebijakan Wajib Kerja dari Kantor Sudah Tak Efektif Lagi
8 Perusahaan Raksasa Ini Pangkas Ribuan Karyawan karena AI, Pekerja Manusia Digantikan Robot
AI Baru 6 dari 10, Kata Nezar Patria

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konsumsi Meningkat, Harga Pangan Ramadan Masih Wajar
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Libur Anak Sekolah Lebaran 2026 Kapan? Ini Jadwal Lengkap Berdasarkan SEB 3 Menteri
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Purbaya Minta Harga Gas Blok Masela untuk Industri Domestik Kompetitif
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Periksa 12 Saksi Usut Pengondisian Proyek di Pati
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bos PPI: Zero Threshold Jauh Lebih Demokratis, Suara Rakyat Tak Hilang
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.