Jakarta, CNBC Indonesia - PT. Chandra Asri Tbk. (TPIA) mengungkapkan akan memantau perkembangan geopolitik dan perekonomian global yang akan mempengaruhi permintaan serta akan memperkuat operasional perusahaan pada 2026.
Direktur Sumber Daya Manusia Dan Urusan Korporat TPIA Suryandi mengatakan, tahun ini bisnis TPIA masih dibayangi oleh ketidakpastian global. Meskipun pada laporan keuangan terakhir di kuartal III tahun 2025 mencatat perbaikan kinerja atau tumbuh 2.950% hingga dapat mencetak laba.
Menurutnya, tantangan industri petrokimia tahun ini datang dari berbagai faktor, antara lain, dinamika geopolitik global, oversupply produk petrokimia, persaingan harga yang ketat.
"Untuk core business kami yaitu di petrokimia, itu dari segi margin masih very challenging. Karena ada dinamika, geopolitik, persaingan dari kompetitor, dari produk yang oversupply," ujarnya dalam acara diskusi dengan manajemen TPIA di Seribu Rasa Gunawarman Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya turut berdampak pada industri petrokimia. "Nah untuk tahun 2026 kami masih melihat bahwa dari segi margin untuk industri petrokimia itu masih tipis," imbuhnya.
Dengan demikian, Suryandi memaparkan, TPIA akan berfokus pada penguatan fundamental operasional. Ia menyebut, manajemen memilih untuk menjaga stabilitas, meminimalkan risiko, dan memastikan keberlangsungan produksi. Hal itu tercermin dari sejak tahun lalu perusahaan mulai masuk ke bisnis infrastruktur.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada siklus industri petrokimia, menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil, hingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan tahun 2025.
"Untuk (melindungi) income atau mengantisipasi ataupun memberikan hasil yang lebih pasti, Makanya tahun lalu kita sudah masuk ke business infrastructure, Yang dimana tentu ini akan memberikan efek yang lebih besar dibanding tahun 2025," jelasnya.
Suryandi menuturkan, TPIA akan menjaga keandalan operasional pabrik, khususnya fasilitas di Cilegon dan Singapura. Sebab, Ia menyebut gangguan operasional dapat berdampak sangat signifikan. "Karena satu hari, pabrik yang di Cilegon saja, satu hari shutdown, loss of mesin printer atau apa, Itu bisa sampai 3 juta dolar loss, jadi operasional pabrik itu yang kita harus jaga," ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut tidak hanya berupa kehilangan pendapatan produksi, tetapi juga menyangkut kepercayaan pelanggan hingga stabilitas pasokan domestik. "Jadi kita harus jaga itu. Kalau itu yang terjadi, adanya kan impor yang tadi kita harapkan turun, malah tidak turun," imbuhnya.
Sebagai informasi PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencetak laba bersih setelah pajak sebesar US$ 1,65 miliar hingga kuartal III-2025. Perolehan itu melesat 2.950% dan berbalik dari semula rugi US$58,5 juta pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Mengutip keterbukaan informasi, total pendapatan bersih emiten petrokimia milik Prajogo Pangestu itu melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi US$5,1 miliar pada sembilan bulan pertama tahun ini.
Bila dirinci, pendapatan terbesar berasal dari kimia sebesar US$2,7 miliar, naik 132,8% secara tahunan atau year on year (yoy). Diikuti dengan lini kilang yang naik 100% yoy menjadi US$2,31 miliar pada kuartal III-2025, dan infrastruktur sebesar US$98,9 miliar.
TPIA juga melaporkan arus kas untuk aktivitas operasi sebesar US$75,3 juta dan telah menggelontorkan belanja modal sebesar US$355,5 juta.
Sementara aset perusahaan hampir tembus US$11 miliar, naik 93,7% sejak akhir tahun 2024. Jumlah liabilitas tercatat sebesar US$6 miliar, naik 120% dari akhir tahun lalu dan jumlah ekuitas sebesar US$5 miliar, naik 69,3% dari akhir tahun lalu.
Chandra Asri melaporkan bahwa di sektor energi telah memperkuat ekspansi regional dengan mengakuisisi jaringan ritel SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura. Langkah ini dilakukan melalui entitas khusus di bawah anak usaha TPIA.
Sementara di sektor kimia, pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon telah mencapai progres 33%. Pabrik tersebut diproyeksikan mengurangi ketergantungan impor bahan kimia dan berpotensi menghemat hingga Rp10 triliun per tahun.
Melalui anak usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), TPIA juga memperkuat sektor infrastruktur dengan menambah dua kapal kimia, 20 truk baru, serta memperluas portofolio energi surya menjadi 11 MWp pasca-IPO.
"Sejalan dengan momentum positif ini, Group telah mengumumkan pembagian dividen interim sebesar US$20 juta, menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham seiring dengan perjalanan kami untuk membangun platform energi, kimia, dan infrastruktur terintegrasi terdepan di Asia Tenggara," kata Direktur dan Chief Financial Officer TPIA, Andre Khor dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (31/10/2025).
(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google




