Kisah Sekeluarga Bertahan Hidup di Atas Pohon saat Banjir Mengepung Aceh Tamiang

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Bukhori dan keluarganya masih mengingat jelas detik-detik kampung halamannya di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang disapu banjir bandang pada 26 November 2025 silam.

Ruang tamu di rumahnya menjadi perbincangan hangat saat berbuka puasa sambil menceritakan luapan sungai Tamiang meluber ke perkampungan, Selasa (24/2/2026).

Sebelum banjir bandang melanda Sumatera, sejumlah kawasan di Aceh Tamiang diguyur hujan intensitas deras sampai tiga hari tanpa berhenti.

“Itu tiga hari tiga malam hujan tidak berhenti-berhenti. Deras kali, air (awalnya) mulai naik ke desa, kita sekeluarga sudah mengungsi ke rumah tetangga yang lebih tinggi (datarannya),” ungkap Bukhori.

Luapan air di Desa Banai semakin tinggi di hari ketiga saat penduduk usai menunaikan ibadah salat subuh. Tiba-tiba volume air terus meninggi sampai menyentuh atap rumah dan mengepung desa-desa sekitar.

Debit air juga semakin deras, menerjang ratusan rumah warga Desa Banai dan meluluhlantakkan sebagian besar bangunan.

Kata Bukhori, ratusan warga langsung menyelamatkan diri. Ada yang naik ke atap rumah sampai menaiki pohon-pohon sawit yang penuh duri.

“Makin deras itu airnya, kami pun naik ke atas pohon, anak-anak juga begitu,” tuturnya.

Dia bersama istri dan keempat anaknya bertahan hidup selama berhari-hari sambil menggelantung di pohon. Hawa dingin dan rasa lapar menemani mereka selama banjir merendam Desa Banai.

Belum lagi duri-duri tajam pohon sawit menusuk kulit warga yang bertahan di atas sana, menambah penderitaan mereka untuk bertahan hidup.

“Wajah anak-anak sampai pucat. Kelaparan. Kedinginan,” katanya.

Tiga hari berlalu. Air mulai surut dan arus tidak begitu deras. Satu per satu warga mulai turun dari atap rumah dan pohon-pohon untuk menolong sesama.

Selama berhari-hari itu sebagian besar warga Desa Banai mulai mengalami penurunan kesehatan, hingga ada yang dirawat di fasilitas kesehatan selama belasan hari.

“Anak laki-laki saya itu sampai dirawat selama sebelas hari,” ucapnya.

Bukhori dan keluarga masih tak percaya bisa selamat di tengah kepungan banjir bandang yang menyapu desanya selama hampir satu minggu.

“Ini itu seperti kehidupan kedua,” jelasnya.

Kurang lebih tiga bulan telah berlalu setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Aceh Tamiang. Kini kehidupan mereka masih belum kembali normal. Pekerjaan masih sulit, apalagi mencukupi kebutuhan makan.

Selain itu, persoalan hunian layak masih belum tuntas. Masih banyak warga Desa Banai yang hidup di tenda pengungsian di depan rumah mereka.

Namun Bukhori dan warga sekitar bersyukur ada sejumlah bantuan yang bergerak cepat masuk ke desanya. Terutama bantuan logistik untuk mencukupi kebutuhan selama bulan Ramadan.

“Kami berharap kondisi bisa kembali normal, dan sebentar lagi Hari Raya Idulfitri. Kami juga bersyukur ada relawan yang terus membantu, kayak Lazisnu Jawa Timur yang mendirikan dapur umum selama Ramadan ini,” ungkapnya. (wld/saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KAI Luncurkan Kereta Ekonomi Kerakyatan, Tiket Dijual Mulai Rabu Dini Hari (25/2)
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Pemerintah Targetkan 15 Ribu Insinyur Kuasai Desain Chip Lewat Kerja Sama Danantara dan Arm di London
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Kejati Bengkulu tetapkan empat tersangka baru kasus korupsi PLTA Musi
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Menteri PANRB: Tidak semua ASN bisa jadi komcad
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Newcastle United Lolos 16 Besar Liga Champions Setelah Tekuk Qarabag 3-2
• 55 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.