Jakarta (ANTARA) - Google membangun pusat data baru di negara bagian Texas, Amerika Serikat, dengan mengusung teknologi pendingin udara canggih untuk menekan penggunaan air.
Dilansir dari Engadget pada Rabu, Google menyebut dengan memanfaatkan teknologi pendingin udara canggih, penggunaan air hanya difokuskan untuk operasional penting di area pusat data seperti dapur.
Pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen investasi Google senilai 40 miliar dolar AS atau setara Rp672 triliun selama dua tahun di Texas yang telah diumumkan sebelumnya.
Perusahaan teknologi tersebut juga menyebut telah menambahkan sekitar 7.800 megawatt produksi dan kapasitas energi bersih dengan sejumlah penyedia utilitas untuk ditambahkan ke jaringan listrik Texas.
Baca juga: Google dan Rakuten luncurkan fitur belanja YouTube
Langkah tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penolakan masyarakat di Amerika Serikat terhadap pembangunan pusat data.
Sejumlah pihak menilai keberadaan pusat data berpotensi menaikkan tagihan listrik warga, memperburuk emisi gas rumah kaca global, serta mengonsumsi air tawar dalam jumlah sangat besar.
Di sisi lain, CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menyebut kekhawatiran terkait penggunaan air oleh pusat data sebagai hal yang tidak berdasar.
Ia juga berpendapat bahwa melatih satu model kecerdasan buatan membutuhkan energi besar, namun melatih seorang manusia juga memerlukan energi yang tidak sedikit.
Sementara itu, CEO Tesla Elon Musk mengemukakan pembangunan pusat data di luar angkasa sebagai solusi untuk mengurangi dampak lingkungan terhadap Bumi. Namun, sejumlah pakar menilai gagasan tersebut berpotensi menimbulkan risiko lingkungan baru yang tidak kalah besar.
Baca juga: AI Gemini dilengkapi kemampuan menciptakan lagu lewat deskripsi teks
Baca juga: Ajang Google I/O 2026 digelar 19-20 Mei, AI Gemini akan jadi fokus
Baca juga: Google Maps dan Travoy siapkan fitur lengkap untuk Mudik 2026
Dilansir dari Engadget pada Rabu, Google menyebut dengan memanfaatkan teknologi pendingin udara canggih, penggunaan air hanya difokuskan untuk operasional penting di area pusat data seperti dapur.
Pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen investasi Google senilai 40 miliar dolar AS atau setara Rp672 triliun selama dua tahun di Texas yang telah diumumkan sebelumnya.
Perusahaan teknologi tersebut juga menyebut telah menambahkan sekitar 7.800 megawatt produksi dan kapasitas energi bersih dengan sejumlah penyedia utilitas untuk ditambahkan ke jaringan listrik Texas.
Baca juga: Google dan Rakuten luncurkan fitur belanja YouTube
Langkah tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penolakan masyarakat di Amerika Serikat terhadap pembangunan pusat data.
Sejumlah pihak menilai keberadaan pusat data berpotensi menaikkan tagihan listrik warga, memperburuk emisi gas rumah kaca global, serta mengonsumsi air tawar dalam jumlah sangat besar.
Di sisi lain, CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menyebut kekhawatiran terkait penggunaan air oleh pusat data sebagai hal yang tidak berdasar.
Ia juga berpendapat bahwa melatih satu model kecerdasan buatan membutuhkan energi besar, namun melatih seorang manusia juga memerlukan energi yang tidak sedikit.
Sementara itu, CEO Tesla Elon Musk mengemukakan pembangunan pusat data di luar angkasa sebagai solusi untuk mengurangi dampak lingkungan terhadap Bumi. Namun, sejumlah pakar menilai gagasan tersebut berpotensi menimbulkan risiko lingkungan baru yang tidak kalah besar.
Baca juga: AI Gemini dilengkapi kemampuan menciptakan lagu lewat deskripsi teks
Baca juga: Ajang Google I/O 2026 digelar 19-20 Mei, AI Gemini akan jadi fokus
Baca juga: Google Maps dan Travoy siapkan fitur lengkap untuk Mudik 2026





