- Tradisi Berbagi Saat Lebaran
- Mengapa Harus Uang Baru?
- Permintaan Uang Tunai Meningkat Tajam
- Faktor Psikologis dan Kebiasaan Sosial
- Praktis untuk Mengatur Anggaran THR
- Jasa Penukaran Tidak Resmi
- Tetap Bijak dalam Berbagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Hari Raya Idulfitri, fenomena berburu uang baru selalu kembali terjadi. Antrean panjang di bank, layanan kas keliling, hingga maraknya jasa penukaran uang di pinggir jalan menjadi pemandangan yang hampir selalu muncul setiap tahun.
Bagi sebagian orang, menukar uang baru sudah menjadi bagian dari persiapan Lebaran yang tidak kalah penting dibandingkan membeli baju baru atau menyiapkan hampers.
Namun, apa sebenarnya yang membuat layanan penukaran uang baru selalu diburu jelang Hari Raya?
Berikut sejumlah alasan di balik fenomena musiman tersebut.
Tradisi Berbagi Saat LebaranLebaran identik dengan momen silaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Salah satu tradisi yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak, adalah menerima uang tunai dari orang tua, kerabat, atau tetangga.
Tradisi memberi uang saat Lebaran sering disebut sebagai THR versi keluarga. Biasanya, uang diberikan kepada keponakan, cucu, atau anak-anak yang datang bersilaturahmi.
Karena jumlah penerima bisa cukup banyak dalam satu hari, masyarakat cenderung membutuhkan uang dengan nominal kecil seperti pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000.
Inilah yang membuat permintaan uang pecahan kecil meningkat tajam menjelang Idulfitri.
Selain sebagai bentuk berbagi rezeki, tradisi ini juga menjadi simbol rasa syukur dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Mengapa Harus Uang Baru?Tidak sedikit orang yang secara khusus mencari uang dalam kondisi baru, bukan sekadar pecahan kecil. Dalam budaya masyarakat Indonesia, uang baru dianggap lebih rapi, bersih, dan pantas untuk diberikan sebagai hadiah.
Memberikan uang yang masih kaku dan tidak lusuh dinilai sebagai bentuk penghargaan kepada penerima. Sebaliknya, uang yang kusut atau sudah lama beredar sering dianggap kurang layak untuk dibagikan dalam momen spesial seperti Lebaran.
Selain itu, uang baru juga memberikan kesan lebih meriah dan istimewa. Bagi banyak orang, sensasi membagikan amplop berisi uang baru menjadi bagian dari pengalaman emosional yang memperkuat suasana Hari Raya.
Permintaan Uang Tunai Meningkat TajamFenomena berburu uang baru tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sistem keuangan secara nasional.
Menjelang Ramadan hingga Idulfitri, permintaan uang tunai biasanya meningkat signifikan. Aktivitas konsumsi masyarakat naik, mulai dari belanja kebutuhan pokok, transportasi mudik, hingga pembagian THR.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Bank Indonesia setiap tahun menyiapkan tambahan uang kartal dalam jumlah besar. Layanan penukaran uang baru juga disediakan melalui bank umum maupun kas keliling di berbagai daerah.
Peningkatan peredaran uang tunai ini menjadi salah satu indikator tingginya aktivitas ekonomi masyarakat selama periode Lebaran.
Di balik tradisi ini, terdapat faktor psikologis yang cukup kuat. Banyak orang merasa lebih puas dan percaya diri saat membagikan uang baru kepada keluarga atau kerabat.
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh nostalgia masa kecil ketika mereka menerima uang baru saat Lebaran. Pengalaman tersebut kemudian diteruskan ke generasi berikutnya.
Selain itu, ada pula faktor sosial. Dalam lingkungan tertentu, memberikan uang dengan nominal atau kondisi yang dianggap kurang layak dapat menimbulkan rasa tidak enak atau khawatir dinilai pelit. Akhirnya, masyarakat cenderung mengikuti standar sosial yang sudah terbentuk.
Praktis untuk Mengatur Anggaran THRDari sisi keuangan pribadi, menyiapkan uang pecahan kecil sebenarnya juga membantu dalam mengelola anggaran.
Dengan menukar uang terlebih dahulu, seseorang bisa:
-
Menentukan total dana yang akan dibagikan
-
Mengatur nominal untuk setiap penerima
-
Menghindari pengeluaran spontan saat silaturahmi
Tanpa perencanaan, pembagian uang saat Lebaran berpotensi membuat pengeluaran membengkak karena dilakukan secara impulsif.
Karena itu, menyiapkan pecahan kecil sejak awal bisa menjadi strategi sederhana agar tradisi berbagi tetap berjalan tanpa mengganggu kondisi keuangan setelah Hari Raya.
Jasa Penukaran Tidak ResmiTingginya permintaan uang baru juga memunculkan fenomena lain, yakni jasa penukaran uang di pinggir jalan. Biasanya, penukar menawarkan berbagai paket pecahan dengan imbalan biaya tambahan atau potongan tertentu.
Meski terlihat praktis, penukaran melalui jalur tidak resmi memiliki sejumlah risiko, seperti: Potongan nilai yang cukup besar dan alasan keamanan lainnya.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan menukar uang melalui layanan resmi bank atau fasilitas yang disediakan Bank Indonesia.
Tetap Bijak dalam BerbagiMeski berbagi merupakan bagian dari semangat Lebaran, masyarakat tetap perlu menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing.
Beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
-
Menentukan anggaran THR sejak awal
-
Menyesuaikan nominal dengan jumlah penerima
-
Menghindari menambah pengeluaran di luar rencana
-
Menukar uang melalui jalur resmi
Dengan perencanaan yang baik, tradisi berbagi tetap bisa membawa kebahagiaan tanpa menimbulkan beban keuangan setelah Lebaran.
(dag/dag) Add as a preferred
source on Google




