BEIJING, KOMPAS.TV — Di tengah ketegangan dagang global dan perang yang belum berakhir di Eropa Timur, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendarat di Beijing untuk misi yang tak sederhana: menuntut lapangan usaha yang lebih adil bagi perusahaan Jerman sekaligus mendorong China menggunakan pengaruhnya guna membantu mengakhiri perang Rusia–Ukraina, Rabu (25/2/2026).
Kunjungan dua hari ini menjadi lawatan pertama Merz ke China sejak menjabat Mei lalu.
Ia dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin tertinggi China, termasuk Presiden Xi Jinping, dalam rangkaian pertemuan yang menyoroti dua agenda utama: ketimpangan perdagangan dan diplomasi konflik Ukraina.
Baca Juga: Arus Mudik Imlek 2026 Padati Tol Terbesar di China
Sebelum bertolak, Merz menekankan bahwa kebijakan Jerman terhadap China berada dalam kerangka Eropa yang lebih luas.
Ia menyebut kunjungannya bukan kebetulan, menyusul lawatan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, serta menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump pada April mendatang.
“Dari sudut pandang Eropa, pesan kami sama: kami menginginkan kemitraan dengan China yang seimbang, dapat diandalkan, diatur, dan adil,” kata Merz dikutip dari Associated Press.
Ia menilai persoalan global, termasuk perang di Ukraina, tidak dapat diselesaikan tanpa melibatkan Beijing.
“Suara Beijing didengar, termasuk di Moskow,” ujarnya.
Sejumlah pemerintah Eropa menilai China belum cukup menggunakan pengaruhnya untuk menekan Rusia menghentikan perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Associated Press
- Friedrich Merz China
- Merz Xi Jinping
- Jerman China perdagangan
- perang Ukraina
- peran China Ukraina
- hubungan Eropa China





