JAKARTA, KOMPAS.com – Krisis air bersih yang melanda kawasan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, memaksa warga mencari berbagai cara darurat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selama lebih dari satu bulan, aliran air PAM tak kunjung normal, bahkan mati total dalam dua pekan terakhir. Akibatnya, warga harus membeli air gerobakan setiap hari hingga menampung air hujan untuk kebutuhan sanitasi dasar.
Penderitaan ini dirasakan Sandi (39), warga RW 03 Jembatan Besi. Ia menyebut gangguan air sudah berlangsung sekitar satu bulan, dengan kondisi mati total dalam dua pekan terakhir.
Baca juga: Nelangsa Warga Jembatan Besi, Air PAM Mati Sebulan Imbas Pekerjaan Proyek
"Kami ngambil dari mana-mana aja akhirnya, kecuali ada air hujan buat nyiram apa, kencing begitu, nampung aja," kata Sandi saat ditemui di lokasi, Rabu (25/2/2026).
Sandi sebenarnya memiliki sumur di rumahnya yang bisa dijadikan alternatif. Namun, kualitas air tanahnya buruk dan kerap keruh saat hujan sehingga tidak layak digunakan.
Kondisi keran yang kering membuat Sandi harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari untuk membeli air dari penjual keliling.
Menurut dia, bantuan truk tangki dari PAM sempat datang, tetapi hanya satu hari dan jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga.
"Orang seberang malah sampai beli air se-mobil truk gitu, beli sendiri dia buat di rumahnya sama tetangga," ujarnya.
Kini, Sandi mengaku lelah untuk terus mengadukan persoalan tersebut.
"Harapannya mau bagaimana lagi? Kami mah ikutin aja deh. Komplain juga enggak ada gubrisan, bagaimana mau apa lagi," tutur Sandi.
Baca juga: PAM Jaya Bakal Telusuri Ulang Penyebab Air di Jembatan Besi Mati 2 Bulan
Rela habiskan Rp 2 juta demi pipa baruKesulitan serupa dialami Uci (48), warga RT 07 yang terpaksa membeli air gerobakan seharga Rp 50.000 setiap hari.
"Habis buat mandi, buat nyuci, buat masak. Enggak cukuplah kalau sehari mah. Kalau nyuci aja di laundry, kalau nyuci enggak di laundry enggak cukup itu buat mandi doang sama masak," ucapnya.
Karena tak tahan terus-menerus kesulitan air, keluarga Uci memutuskan mengeluarkan Rp 2 juta untuk memasang saluran pipa baru.
"Habis kakak saya kesel. Cuma dia daripada belian air mulu katanya ya, habis juga sama. Mending dia ngegali baru, masang narik lagi dari masang pipa lagi, habis Rp 2 juta pemasangan doang," ungkap Uci.
Uci menjelaskan, kakaknya meminta bantuan langsung kepada petugas PAM yang dikenalnya. Langkah itu ditempuh karena laporan melalui call center tak kunjung membuahkan hasil.





