Sydney (ANTARA) - Perusahaan perangkat lunak logistik Australia, WiseTech Global, pada Rabu mengumumkan akan memangkas sekitar 2.000 pekerjaan di seluruh dunia sebagai bagian dari peralihan menuju kecerdasan buatan (AI).
Dalam sebuah pernyataan kepada Australian Securities Exchange, WiseTech Global yang berbasis di Sydney mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun ke depan akan berdampak pada hampir sepertiga dari 7.000 tenaga kerjanya yang tersebar di 40 negara.
CEO WiseTech Global Zubin Appoo mengatakan bahwa AI telah mendorong pergeseran paling signifikan dalam pengembangan piranti lunak selama beberapa dekade terakhir.
"Era penulisan kode secara manual sebagai tindakan inti dari rekayasa sudah berakhir," ujarnya.
"AI memperkuat produktivitas keahlian kami di bidang logistik dan perdagangan, kumpulan data kaya yang dimiliki WiseTech, serta keunggulan jaringan yang telah kami bangun selama lebih dari 30 tahun," ujarnya.
WiseTech Global melaporkan penurunan laba bersih wajib setelah pajak (statutory net profit after tax) sebesar 36 persen menjadi 68,1 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.819) untuk paruh pertama tahun finansial 2025-2026 karena biaya integrasi yang terkait akuisisinya terhadap perusahaan komputasi awan (cloud) E2open serta peningkatan biaya amortisasi dan bunga yang terkait.
Dalam sebuah pernyataan kepada Australian Securities Exchange, WiseTech Global yang berbasis di Sydney mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun ke depan akan berdampak pada hampir sepertiga dari 7.000 tenaga kerjanya yang tersebar di 40 negara.
CEO WiseTech Global Zubin Appoo mengatakan bahwa AI telah mendorong pergeseran paling signifikan dalam pengembangan piranti lunak selama beberapa dekade terakhir.
"Era penulisan kode secara manual sebagai tindakan inti dari rekayasa sudah berakhir," ujarnya.
"AI memperkuat produktivitas keahlian kami di bidang logistik dan perdagangan, kumpulan data kaya yang dimiliki WiseTech, serta keunggulan jaringan yang telah kami bangun selama lebih dari 30 tahun," ujarnya.
WiseTech Global melaporkan penurunan laba bersih wajib setelah pajak (statutory net profit after tax) sebesar 36 persen menjadi 68,1 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.819) untuk paruh pertama tahun finansial 2025-2026 karena biaya integrasi yang terkait akuisisinya terhadap perusahaan komputasi awan (cloud) E2open serta peningkatan biaya amortisasi dan bunga yang terkait.




