RI Mau Beli 50 Pesawat Boeing Baru, Apa Efek ke Industri Penerbangan?

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana Indonesia membeli 50 unit pesawat baru dari Boeing, Amerika Serikat bakal menambah jumlah armada yang beroperasi di Tanah Air. Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut usai ditekennya kesepakatan dagang antara RI-AS.

Pengamat menilai rencana kehadiran 50 pesawat Boeing baru memang akan otomatis menambah jajaran burung besi di Tanah Air. Namun, operator harus bersiap akan risiko yang berpotensi muncul di kemudian hari. 

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menyampaikan kehadiran pesawat baru yang diperkirakan baru akan tiba di Indonesia pada tiga hingga empat tahun lagi ini bakal menambah kapasitas industri penerbangan. 

Berdasarkan catatannya per Desember 2025 lalu, jumlah pesawat yang layak terbang atau serviceable hanya tersisa 360 unit dari jumlah 580 unit sebelum pandemi Covid-19.  

“Tambahan tersebut dapat menambah kapasitas penerbangan domestik dan international juga, tetapi tergantung kepada permintaan pasarnya,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (25/2/2026). 

Bayu menilai terdapat risiko yang mengingat apabila besaran demand atau permintaan tidak sebesar tambahan kapasitas. 

Baca Juga

  • RI Wajib Beli 50 Pesawat Boeing, Menhub: Semuanya Garuda Indonesia
  • Kesepakatan Dagang RI-AS: Indonesia Akan Beli 50 Pesawat Boeing
  • Hasil Kesepakatan Dagang: RI Wajib Beli 50 Pesawat dari AS Rp227,9 Triliun

Di saat bersamaan, maskapai nasional juga tengah mereaktivasi pesawat-pesawatnya. Misalnya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA). Per 13 Februari 2026, GMF AeroAsia resmi menyelesaikan 18 pesawat dan siap mengudara. Terdiri dari tiga pesawat Garuda Indonesia dan 15 pesawat Citilink.  

“Risikonya, akan terjadi kelebihan supply dan akan mempengaruhi kinerja pendapatan maskapai. Kelebihan supply atas demand akan membuat harga tiket dan load factor menurun dan sebaliknya,” jelas Bayu.

Terpisah, Pengamat Penerbangan Alvin Lie memandang pengadaan pesawat tersebut bukanlah jumlah yang luar biasa. Berbeda dengan Lion Air yang disebut dapat memesan ratusan pesawat dalam satu transaksi. 

“50 pesawat tersebut sepertinya hanya untuk menggantikan B738-800 Garuda yang usianya sudah mulai uzur sehingga kurang efisien,” tuturnya. 

Menurutnya dampaknya terhadap penerbangan nasional tidak akan terlalu signifikan karena bukan Garuda Indonesia yang membeli secara langsung, melainkan melalui leasing.

Sementara terkait kedatangan, diperkirakan masa tunggunya akan lebih lama, karena hingga saat ini Boeing mengalami backlog untuk delivery order yang sudah ada. 

Di samping hal itu, Alvin melihat trennya saat ini maskapai dalam negeri justru mengurangi jumlah pesawatnya karena mereka juga mengurangi rute domestik yang tidak menguntungkan.

Bahkan sejak 2024 atau usai pandemi Covid-19 berakhir, jumlah penumpang domestik terus menurun. Pada 2025 bahkan jumlahnya 2,5 juta lebih rendah daripada 2024.

Meski demikian, Alvin menekankan bahwa pengadaan pesawat memang untuk kebutuhan masa depan, bukan untuk saat ini.  

Untuk diketahui, kesepakatan dalam Agreement on Reciprocal Tariff mewajibkan Indonesia membeli pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai US$13,5 miliar atau sekitar Rp227,9 triliun (kurs jisdor 20 Februari 2026: Rp16.885 per dolar AS). 

Nilai tersebut mencakup komitmen pembelian 50 unit pesawat dari pabrikan Amerika Serikat, yakni Boeing.

Bukan hal baru, kesepakatan ini juga telah mencuat dalam kesepakatan perdagangan timbal balik AS pada tahun lalu. Adapun, Garuda Indonesia memang merencanakan penambahan 100 armada pesawat baru dalam kurung waktu hingga 2029.   

Sebagaimana pemberitaan Bisnis sebelumnya, kesepakatan pembelian 50 pesawat Boeing oleh Garuda Indonesia sudah dilakukan dan baru terkirim satu unit, sementara 49 sisanya dikirim paling cepat mulai 2031.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cek Harga Yamaha Mio M3 125 Per Februari 2026
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Kalimat yang Sering Diucapkan Orang yang Merasa Lebih Unggul
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Menelusuri Jejak Pemuda Beriman di Gua Ashabul Kahfi, Yordania
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
105.000 Mobil Pikap India untuk KDMP Ditunda, Fokus Industri Nasional
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Telkomsel Prediksi Trafik Data Ramadan Naik 11%, Didorong Belanja Online dan Gim
• 9 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.