Jakarta, VIVA – Saat Ramadhan, banyak umat Muslim di Indonesia mengenal istilah “imsak” sebagai tanda untuk berhenti makan sebelum Subuh. Namun, tidak sedikit yang masih bingung, apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum? Buya Yahya memberikan penjelasan lengkap agar masyarakat tidak salah paham soal waktu imsak dan batas sahur.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menegaskan bahwa istilah imsak yang dikenal di Indonesia sebenarnya bukan istilah baku dalam kitab fiqih. Menurutnya, dalam istilah syariat, imsak berarti mulai menahan diri dari makan dan minum, yaitu ketika waktu Subuh tiba.
“Waktu subuh itu imsak yang sesungguhnya. Cuman imsak istilah orang Indonesia adalah jeda,” kata Buya Yahya yang dikutip dari YouTube-nya pada Rabu, 25 Februari 2026.
Artinya, imsak yang biasa tercantum di jadwal Ramadan di Indonesia hanyalah waktu peringatan atau jeda sebelum azan Subuh. Tujuannya agar orang yang sahur bisa bersiap-siap dan tidak terburu-buru saat azan berkumandang.
“Jadi antara berhenti makan kita dengan waktu subuh ada jeda,” katanya lagi.
Jeda ini digunakan untuk berbagai hal, seperti membersihkan mulut atau minum terakhir agar tidak kaget saat azan tiba. Lalu bagaimana jika masih makan setelah imsak?
“Makanya dipahamkan imsak boleh makan karena belum azan karena itu waktu hati-hati waktu siap-siap,” jelasnya.
Dengan kata lain, selama azan Subuh belum berkumandang, makan dan minum masih diperbolehkan. Namun, ketika azan Subuh sudah terdengar, maka wajib berhenti. Ia juga mengingatkan agar tidak salah memahami hadis tentang azan.
Jika azan pertama (sebelum Subuh) terdengar, masih boleh makan. Tetapi jika azan kedua yang menandakan masuknya waktu Subuh sudah dikumandangkan, maka tidak boleh lagi melanjutkan makan.





