Memasuki puasa kesebelas, Ramadan membawa kita pada satu dimensi yang sering dilupakan: ilmu sebagai kekuatan peradaban.
Kisah tentang “Cakar Archimedes” memperlihatkan bagaimana seorang ilmuwan Yunani kuno merancang mesin berbasis hukum tuas dan katrol untuk mempertahankan kota Syracuse dari armada Romawi. Kapal-kapal besar ditarik, diangkat, lalu dijatuhkan hingga hancur berkeping-keping. Tentara Romawi bahkan disebut gemetar setiap kali melihat tali dan pengait muncul dari tembok kota.
Satu orang dengan ilmu mampu mengubah arah peperangan.
Pertanyaannya: Bagaimana Islam memandang ilmu dan kekuatan seperti itu?
Ilmu sebagai Kekuatan StrategisArchimedes memanfaatkan prinsip tuas: dengan titik tumpu yang tepat, beban berat bisa diangkat dengan gaya kecil. Dalam bahasa sederhana, ia memahami hukum alam, lalu menggunakannya secara strategis.
Al-Qur’an mengangkat derajat orang berilmu:
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan teoritis, melainkan juga pemahaman yang memberi manfaat bagi umat manusia.
Puasa kesebelas mengingatkan bahwa iman tidak anti-sains. Justru Islam mendorong penguasaan ilmu sebagai bagian dari amanah khalifah di bumi.
Mekanisme Tuas dan Prinsip KehidupanInfografik menunjukkan sistem katrol, pemberat raksasa, dan pengait besi yang mampu mengangkat kapal puluhan ton. Prinsipnya sederhana: distribusi gaya dan keseimbangan.
Dalam kehidupan spiritual, prinsip itu juga berlaku. Dengan “titik tumpu” yang benar, yakni niat dan ketakwaan, beban hidup yang berat bisa terasa ringan.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
Ilmu menjadi katrol yang mengangkat manusia dari kelemahan menuju kemuliaan.
Ilmu yang Netral, Manusia yang MenentukanNamun, terdapat sisi lain. Mesin Archimedes digunakan untuk menghancurkan kapal dan menimbulkan teror. Ilmu pada dasarnya netral; manusialah yang memberi arah moralnya.
Al-Qur’an memperingatkan,
Tafsir Al-Qurthubi menekankan bahwa segala bentuk kerusakan, baik fisik maupun moral, adalah penyalahgunaan amanah manusia sebagai khalifah.
Di sinilah puasa berperan. Ia melatih pengendalian diri. Ilmu tanpa akhlak melahirkan kesombongan. Akhlak tanpa ilmu melahirkan kelemahan.
Dari Medan Perang ke Medan KehidupanTentara Romawi takut bukan karena jumlah musuh, melainkan karena kecerdikan satu ilmuwan. Ini menunjukkan bahwa kualitas sering lebih menentukan daripada kuantitas.
Puasa kesebelas mengajak kita bertanya: Sudahkah ilmu yang kita miliki berpihak pada kemaslahatan? Ataukah ia hanya menjadi alat kompetisi dan dominasi?
Satirnya, di era modern kita bangga pada teknologi tinggi, tetapi sering lalai pada tanggung jawab moralnya. Kita mampu “mengangkat kapal”, tetapi belum tentu mampu mengangkat akhlak.
Islam dan Tradisi KeilmuanSejarah Islam sendiri dipenuhi ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Biruni yang menjadikan ilmu sebagai sarana kemajuan, bukan kehancuran.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir: “Tidakkah kamu berpikir?” “Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Puasa mengasah dimensi batin, sementara ilmu mengasah dimensi intelektual. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.
Titik Tumpu yang MenentukanArchimedes berkata, “Beri aku titik tumpu, dan aku akan menggerakkan dunia.”
Dalam perspektif iman, titik tumpu itu adalah tauhid dan akhlak. Tanpa itu, ilmu bisa menjadi alat kehancuran. Dengan itu, ilmu menjadi rahmat.
Puasa kesebelas mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada teknologi atau strategi, melainkan juga pada kesadaran moral yang membimbingnya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar mesin yang kita bangun, melainkan untuk apa ia kita gunakan.





