PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) menutup tahun buku 2025 dengan lonjakan kinerja yang impresif. Hingga 31 Desember 2025, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tumbuh 48,5% menjadi Rp1,66 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh penurunan biaya provisi secara konsisten serta pengelolaan biaya yang semakin disiplin.
Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (NII) naik 1,6%, didorong penerapan risk-based pricing yang konsisten serta pergeseran komposisi pendanaan ke sumber yang lebih efisien.
Sementara itu, Pendapatan Nonbunga (NOII) meningkat 8,1%, terutama berkat membaiknya pendapatan Global Markets yang mencapai Rp441 miliar, serta kontribusi dari asset recovery dan wealth management.
Efisiensi operasional juga menunjukkan perbaikan. Beban overhead hanya naik 2,4%, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 8,5% pada tahun sebelumnya. Hasilnya, rasio BOPO tercatat 86,3%, mencerminkan optimalisasi biaya yang terus berjalan.
“Sepanjang 2025, kami berfokus untuk meningkatkan kualitas pendapatan yang mumpuni serta berkelanjutan pada sejumlah lini bisnis kami yang terus menunjukkan perkembangan. Kami juga secara disiplin mengelola biaya serta mengoptimalkan struktur pendanaan, dengan pengelolaan risiko yang kuat, sehingga profitabilitas kami meningkat, diiringi kualitas aset yang semakin sehat, serta neraca yang lebih resilien,” ujar Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan.
Baca Juga: Maybank Marathon Indonesian Fast Runner 2026 Bakal Segera Digelar
Sepanjang 2025 juga menjadi penanda rampungnya strategi transformasi tiga tahun M25+, yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis, kapabilitas organisasi, dan pertumbuhan berkelanjutan. Implementasi lima pilar bisnis secara terintegrasi disebut memperkokoh model operasional dan menciptakan fondasi lebih tangguh untuk jangka panjang.
Dari sisi intermediasi, total kredit tercatat Rp123,64 triliun, turun 3,1% secara tahunan, seiring rebalancing portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) yang turun 18,4% YoY. Namun, kredit GB segmen Large Local Corporates (GB-LLC) justru tumbuh 13,1% secara kuartalan.
Di sisi pendanaan, giro dan tabungan (CASA) meningkat 6,3% YoY. Giro tumbuh 12,0%, sejalan dengan kenaikan transaksi melalui platform M2E (nasabah korporasi) sebesar 11,7% menjadi lebih dari 5 juta transaksi. Tabungan memang turun 3,3%, tetapi transaksi ritel melalui platform M2U melonjak 23,4% menjadi lebih dari 30 juta transaksi.
Deposito berjangka turun 12,1% sebagai bagian dari strategi optimalisasi struktur pendanaan. Rasio CASA pun membaik menjadi 57,6% pada Desember 2025, dari 52,9% setahun sebelumnya. Total simpanan nasabah tercatat Rp116,19 triliun, turun 2,4% YoY.
Kualitas aset menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio NPL tercatat 2,2% (gross) dan 1,3% (net), membaik dari 2,7% (gross) dan 1,4% (net) pada 2024. Saldo NPL juga turun 19,5% sepanjang 2025.
Permodalan tetap kokoh dengan CAR sebesar 27,3% dan CET1 26,1%. Likuiditas pun terjaga solid, tercermin dari LDR Bank-only 90,3%, LCR 175,8%, jauh di atas ketentuan minimum 100% serta NSFR 112,4%.
Baca Juga: Gubernur Bank Indonesia Kenang Perjalanan Transformasi QRIS
“Maybank Group baru-baru ini meluncurkan strategi ROAR30, yang merupakan rencana lima tahun paling ambisius dalam sejarah Grup. Strategi ini dibangun di atas momentum yang telah diciptakan melalui M25+ yang berfokus pada percepatan pertumbuhan, penguatan kapabilitas bisnis dan teknologi, serta keberlanjutan Maybank untuk generasi mendatang," kata Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli.
"Kami akan menjalankan ROAR30 dengan mengedepankan misi Humanising Financial Services, yang diwujudkan melalui penawaran berbasis nilai dan fokus pada tiga tujuan utama, yaitu menghadirkan pengalaman terbaik bagi nasabah, memberikan dampak positif bagi masyarakat, serta mendorong penguatan ekonomi riil," tambahnya.





