Bisnis.com, JAKARTA – Lelang sukuk pada Selasa (24/2) yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan hanya mampu menghimpun total penawaran masuk senilai Rp35,61 triliun. Nilai penawaran ini terkecil sepanjang tahun berjalan 2026.
Berdasarkan data DJPPR, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pada Selasa (24/2/2026) mencatatkan total penawaran masuk senilai Rp35.612.800.000.000. Dari total tersebut, investor cenderung memburu tenor panjang yang diwakili dalam produk Project Based Sukuk (PBS).
Adapun pada lelang kali ini, DJPPR menawarkan total 8 seri sukuk. Sebanyak 3 seri merupakan bertenor pendek melalui Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS). Diperinci, SPNS06042026 mendapatkan total penawaran masuk senilai Rp530 miliar, SPNS10082026 senilai Rp2,40 triliun, dan SPNS23112026 senilai Rp6,35 triliun.
Meskipun begitu, pemerintah hanya memenangkan masing-masing Rp400 miliar, 2,35 triliun, dan Rp6,25 triliun untuk setiap seri. Dengan begitu, nilai bid-to-cover-ratio SPNS06042026 tercatat sebesar 1,33 kali, SPNS10082026 sebesar 1,02 kali, dan SPNS23112026 sebanyak 1,02 kali.
Seri SPNS semula menawarkan tingkat imbal hasil diskonto, dengan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 4,45—4,80%. Tenggat maturity date produk ini selama 2—9 bulan.
Adapun bid-to-cover-ratio merupakan indikator guna mengetahui tingkat permintaan investor terhadap satu produk. Bid-to-cover-ratio membagi antara total penawaran masuk dengan total penawaran dimenangkan. Dus, semakin tinggi angka bid-to-cover-ratio, berarti semakin banyak penawaran yang masuk.
Baca Juga
- Harga Emas Antam Hari Ini Kamis (26/2) di Butik LM, per Gram Rp3,03 Juta
- Siasat Fore Kopi (FORE) Amankan Harga Bahan Baku, Contract Farming
- Indonesia Terbitkan Obligasi Dim Sum Denominasi Yuan Jilid II, Uji Kepercayaan Investor Global
Sementara itu, pada seri PBS, nilai penawaran masuk terbesar didapatkan oleh PBS030 senilai Rp10,89 triliun. Hanya saja, pemerintah hanya memenangkan sekitar Rp3,25 triliun, sehingga nilai bid-to-cover-ratio mencapai 3,35 kali dan menjadi yang terbesar dalam lelang kali ini. Seri PBS030 sekaligus mengantongi tenggat jatuh tempo 15 Juli 2028, dengan yield rata-rata tertimbang sebesar 5,20%.
Mengekor di belakangnya, seri PBS038 mencatatkan penawaran masuk senilai Rp9,03 triliun, dengan nominal dimenangkan senilai Rp3,45 triliun. Dus, nilai bid-to-cover-ratio mencapai 2,62 kali, menjadi tertinggi kedua setelah PBS030. PBS038 sekaligus mengantongi jatuh tempo pada 15 Desember 2049, dengan yield rata-rata dimenangkan sebesar 6,70%.
Sisanya, seri PBS mencatatkan nilai penawaran masuk berkisar pada Rp2,94 triliun—Rp1,24 triliun. Besaran bid-to-cover-ratio juga berkisar pada 1,34 kali—2,48 kali. Seri PBS sendiri menawarkan tingkat imbal hasil sebesar 5,00—6,87%. Namun, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 5,20—6,70%.
Adapun lelang kali ini merupakan lelang sukuk dengan nilai penawaran terkecil sepanjang tahun berjalan 2026. Lelang sukuk perdana 2026 misalnya, membukukan penawaran masuk senilai Rp55,26 triliun, lelang kedua senilai Rp38,59 triliun, dan lelang ketiga senilai Rp43,82 triliun. Lelang sukuk belakangan bergerak fluktuatif, tetapi cenderung membukukan penawaran yang menurun.





