Penggunaan gadget pada anak kini semakin sulit dihindari di era digital. Tak sedikit orang tua memanfaatkan layar sebagai sarana belajar maupun hiburan. Namun, di balik manfaatnya, paparan screen time juga menyimpan berbagai risiko bagi tumbuh kembang anak jika tidak diberikan secara tepat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), menegaskan bahwa screen time tidak sepenuhnya aman dan perlu dikelola dengan bijak oleh orang tua.
“Sebetulnya banyak sekali risikonya, banyak sekali mudaratnya. Memang ada manfaatnya tapi di usia berapa seorang anak itu dapat mengambil manfaat dari screen time? Dan bagaimana caranya supaya anak dapat mengambil manfaatnya dengan tanpa mendapatkan mudaratnya tadi?” ucap dr. Farid dalam acara webinar bersama IDAI, Selasa (24/2).
Dampak Screen Time sejak Dini pada Anak1. Dampak Jangka Pendek
Paparan screen time berlebihan terutama berisiko pada balita dan anak di bawah dua tahun. Dampak jangka pendek yang dapat muncul antara lain:
-Keterlambatan motorik
-Speech delay / gangguan bahasa
-Gangguan tidur (melatonin terganggu)
-Gangguan kognitif
-Gejala mirip autisme (virtual autism)
“Ada juga dari melatonin yang terganggu karena nonton layar elektronik yang memancarkan blue light-nya atau sinar biru buatan itu yang mengganggu kadar melatonin anak yang akan menyebabkan anak sulit untuk tidur,” imbuhnya.
2. Dampak Jangka Panjang
Jika kebiasaan screen time berlebihan berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat berlanjut hingga jangka panjang, seperti:
-Sulit fokus dan perilaku lebih buruk
-Prestasi akademik menurun
-Risiko obesitas
-Rentan penyakit tidak menular
-Relasi sosial bermasalah / rentan bullying
“Prestasi akademik nantinya juga tidak baik ketika di sekolah. Lalu ada risiko-risiko penyakit tidak menular akibat kesehatan fisiknya. Akibat dari gangguan tidur, akibat dari obesitas,” tegasnya.





