Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggelontorkan dana besar untuk membiayai studi penerima beasiswa di luar negeri. Untuk satu orang mahasiswa magister di Edinburgh University, Inggris, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 967 juta dalam setahun.
Direktur Utama LPDP Sudarto memaparkan besaran biaya studi bergantung pada lokasi dan jenjang pendidikan. Perbedaan antara kampus dalam negeri dan luar negeri bahkan bisa mencapai lebih dari 10 kali lipat.
Ia mencontohkan biaya studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), LPDP menggelontorkan anggaran sekitar Rp 75 juta per tahun per orang.
“Magister di UGM per tahunnya Rp 75 juta per orang. Termasuk living allowance-nya, asuransi. Kalau di Indonesia asuransinya BPJS. Termasuk buku, kemudian biaya datang dan pergi. Itu di UGM magister Rp 75 juta per tahun,” kata Sudarto dalam konferensi pers, Kamis (26/2).
Untuk jenjang doktoral di UGM, Sudarto mengatakan rata-rata biaya yang dikeluarkan negara mencapai Rp 99 juta per tahun per orang.
Namun ketika studi dilakukan di luar negeri, angkanya melonjak tajam. Sudarto mengungkapkan biaya magister di University of Edinburgh, Inggris, bisa hampir menyentuh Rp 1 miliar untuk satu tahun masa studi.
“Kalau saya ambil biaya di Edinburgh Inggris, magister setahun Rp 967 juta. Jadi biayanya lebih dari 10 orang (untuk 1 awardee dalam negeri). Untuk program doktor di Edinburgh Rp 824 juta. Tapi di Inggris master hanya setahun,” jelas Sudarto.
Melihat disparitas biaya tersebut, LPDP menerapkan komposisi penerima beasiswa dengan porsi lebih besar di dalam negeri. Sudarto menyebut, saat ini sekitar 55 persen awardee menempuh studi di kampus domestik, sementara 45 persen lainnya di luar negeri.
Sudarto menilai kebijakan itu menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan dana abadi pendidikan, sekaligus memastikan akses pembiayaan tetap luas bagi calon penerima beasiswa.





