EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial pada pekan terakhir Februari 2026. Di satu sisi, jalur diplomasi masih dibuka melalui perundingan nuklir di Jenewa. Namun di sisi lain, pengerahan militer dan retorika keras dari Washington menunjukkan bahwa situasi berada di ambang eskalasi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 23 Februari 2026 kembali menegaskan sikap tegas Washington terhadap program nuklir Iran. Dalam pidatonya, dia menyatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat memiliki “garis merah” yang tidak dapat dilanggar: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang putaran ketiga perundingan nuklir AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss.
Perundingan Jenewa: Tawaran Kompromi atau Jalan Buntu?
Menjelang perundingan tersebut, Iran mengklaim telah menyelesaikan proposal baru yang disebut telah ditandatangani langsung oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Proposal ini, menurut sejumlah sumber diplomatik regional, memuat beberapa konsesi signifikan.
Berdasarkan bocoran diplomat Arab yang mengetahui detail pembicaraan, Iran disebut bersedia:
- Menurunkan tingkat pengayaan uranium dari 60 persen menjadi sekitar 3,6 persen, mendekati batas yang disepakati dalam Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA).
- Menangguhkan kegiatan pengayaan uranium untuk jangka waktu tujuh tahun.
Namun, Washington dilaporkan menginginkan komitmen yang lebih panjang dan lebih ketat, yakni moratorium minimal sepuluh tahun, serta perjanjian yang tidak memiliki batas waktu otomatis (sunset clause).
Presiden Trump menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama. Meski demikian, dia juga secara terbuka menyatakan bahwa opsi militer tetap tersedia apabila pembicaraan gagal membuahkan hasil.
Wakil Presiden JD Vance bahkan menyebut perundingan kali ini sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran untuk menghindari konsekuensi yang lebih serius.
Sinyal Militer: Armada Kelima Tinggalkan Pelabuhan
Di tengah upaya diplomasi, indikator militer menunjukkan kesiapsiagaan yang tidak biasa.
Citra satelit yang beredar pada 24 Februari 2026 memperlihatkan kapal-kapal utama Armada Kelima Angkatan Laut AS yang sebelumnya berlabuh di Bahrain telah meninggalkan pelabuhan. Pergerakan ini memicu berbagai spekulasi, meskipun Pentagon belum memberikan pernyataan resmi mengenai tujuan operasi tersebut.
Armada Kelima bertanggung jawab atas wilayah Teluk Persia, Laut Arab, dan sebagian Samudra Hindia—kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan Iran. Dalam konteks diplomasi yang tegang, pergerakan armada ini dinilai sebagai sinyal tekanan strategis.
Sementara itu, sumber internal di Teheran menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei berada di kompleks terowongan bawah tanah yang dirancang untuk perlindungan darurat. Informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun mencerminkan tingkat kewaspadaan tinggi di dalam negeri Iran.
Insiden Laut Karibia: Baku Tembak Kuba–AS, 25 Februari 2026
Ketegangan internasional tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Pada 25 Februari 2026, insiden bersenjata terjadi di perairan dekat Kuba.
Penjaga pantai Kuba dilaporkan menembaki sebuah kapal cepat yang terdaftar di negara bagian Florida, Amerika Serikat. Akibat insiden tersebut:
- Empat orang dilaporkan tewas
- Enam lainnya mengalami luka-luka
Pemerintah Kuba menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan setelah penumpang kapal lebih dulu melepaskan tembakan ke arah aparat. Namun hingga kini, detail kronologi kejadian masih dalam tahap penyelidikan.
Anggota DPR dari Florida, Carlos Giménez, segera mendesak investigasi menyeluruh. Dia meminta otoritas federal memastikan apakah korban merupakan warga negara Amerika Serikat atau penduduk tetap sah.
Insiden ini terjadi bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio ke kawasan Karibia pada hari yang sama. Waktu kejadian yang beririsan dengan agenda diplomatik tersebut memunculkan spekulasi bahwa peristiwa ini dapat memperkeruh situasi regional.
Dua Front Ketegangan, Satu Pekan Penentuan
Periode 23–26 Februari 2026 menjadi titik kritis dalam dinamika geopolitik global.
Di Jenewa, masa depan perundingan nuklir AS–Iran berada di ujung tanduk. Kegagalan diplomasi berpotensi membuka babak baru konfrontasi di Timur Tengah, dengan implikasi besar terhadap stabilitas kawasan, harga energi global, dan keamanan internasional.
Di sisi lain, insiden di Karibia menambah kompleksitas hubungan Washington dengan negara-negara di belahan barat.
Dalam situasi seperti ini, dunia menanti apakah jalur diplomasi masih mampu meredam eskalasi—atau justru hanya menjadi jeda singkat sebelum babak ketegangan berikutnya dimulai.





