Waktu sahur sering dimanfaatkan sebagai momen untuk mengumpulkan tenaga sebelum menjalani puasa seharian. Tak sedikit yang akhirnya makan dalam porsi besar, terutama nasi, dengan harapan bisa menahan lapar lebih lama.
Namun, anggapan bahwa makan nasi atau karbohidrat dalam jumlah banyak saat sahur bisa membuat tubuh lebih kuat ternyata tidak sepenuhnya benar. Dokter dan ahli gizi masyarakat, dr. Tan Shot Yen, menjelaskan bahwa konsumsi nasi dalam jumlah besar bukanlah strategi yang tepat untuk menahan lapar selama berpuasa.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut, banyak orang yang masih percaya bahwa memperbanyak porsi nasi atau makanan manis saat sahur akan membuat tubuh lebih bertenaga. Padahal, pola makan seperti ini justru bisa membuat rasa lapar datang lebih cepat.
"Yang pasti jadi gampang lapar karena cepat dicerna jadi gula darah. Tergantung juga dengan jenis karbonya,” kata Tan seperti dikutip dari Antara, Kamis (26/2).
Karbohidrat, terutama yang bersifat sederhana seperti gula pasir dan sirup akan lebih cepat diolah tubuh menjadi gula darah. Akibatnya, rasa kenyang tidak bertahan lama dan tubuh lebih cepat mengirimkan sinyal lapar.
"Jika sering terjadi dan rutin maka risiko diabetes muncul,” tambahnya.
Sebagai alternatif, Tan menyarankan masyarakat memilih karbohidrat kompleks saat sahur, seperti nasi merah, ubi, atau jagung. Jenis karbohidrat ini dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama berpuasa.
Menurutnya, karbohidrat kompleks juga cenderung membuat seseorang tidak makan berlebihan. “Jika karbo kompleks seperti nasi merah, ubi, jagung, biasanya kita tidak mungkin makan banyak-banyak,” ujar Tan.
Tak hanya soal jenis karbohidrat, ia juga menekankan pentingnya asupan serat yang cukup saat sahur. Serat berperan penting dalam memberikan rasa kenyang lebih lama sekaligus membantu menjaga gula darah tetap stabil sepanjang hari.





