Danantara Indonesia buka suara terkait rencana pembelian 50 unit armada Boeing oleh PT Garuda Indonesia (Persero), sebagai salah satu bagian dari komitmen Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan pembahasan pembelian armada Boeing tersebut masih di level pemerintah. Danantara akan siap melaksanakan apa pun keputusannya.
"Ini masih pembahasan teknis, artinya kita siap membeli 50, tapi Boeing belum menjawab atau akan menjawab dia mampunya 10, 20, itu belum," katanya saat exclusive group interview di Wisma Danantara, Kamis (26/2).
Rohan menegaskan, permasalahan utama dalam pengadaan armada pesawat saat ini yakni dari delivery time alias pengiriman dari produsen, yang ditaksir harus menunggu hingga 7 tahun lamanya.
"Mau milih jenis pesawat yang mana kalau delivery time-nya juga enggak segera kita harus diputar otak dulu kan. Karena masih bahas juga, maksudnya kita kan calon pembeli, bukan kita belum bayar. Kita bilang butuh lebih cepat dari 7 tahun, tapi antrean rata-rata seluruh dunia ya sama," tuturnya.
Saat ditanya terkait potensi pendanaan dari Danantara, dia menyebutkan sumber pendanaan pengadaan pesawat tersebut bisa dari mana saja, mau itu injeksi tambahan dari Danantara atau kas Garuda sendiri.
"Sources of fund itu kan bisa macam-macam ya, tapi kan suppliers credit juga ada kan, kita juga bisa nyecil ke Boeing, itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan," tegas Rohan.
Garuda Indonesia sudah mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM) pada pertengahan tahun lalu. Rohan membuka peluang ada injeksi lanjutan ke depannya untuk penambahan armada.
Sambil menunggu antrean pembelian armada, dia menilai jalan terbaik untuk meningkatkan kinerja Garuda Indonesia adalah dengan pembentukan holding maskapai BUMN bersama anak usahanya PT Citilink Indonesia dan PT Pelita Air Service.
"Capital injection harus ada, nanti next. Mau beli pesawat sebetulnya, tapi pesawat itu di seluruh dunia antre airline mana pun, bisanya 7 tahun, makanya nomor 1 tadi merger dulu lebih bagus, digabung supaya jumlah armadanya itu efisien yang satu rute," tutur Rohan.
Dampak Suntikan Modal DanantaraKinerja keuangan Garuda Indonesia memang terseok-seok sejak pandemi COVID-19 melanda. Minimnya jumlah penumpang tidak bisa menopang pembayaran leasing atau sewa pesawat hingga perawatannya.
Bahkan Garuda Indonesia, kata Rohan, sempat terancam gulung tikar dan gelar national flag carrier pada saat itu rencananya akan diberikan kepada Pelita Air. Namun, perusahaan berhasil keluar dari jerat pailit dan menjalani skema restrukturisasi.
"Garuda sangat dicintai pada saat itu, karena pada saat itu Garuda sudah 90 persen akan ditutup. Waktu itu sudah disiapkan pengganti flag carrier-nya yang sekarang bernama Pelita Air," ungkap Rohan.
Kemudian pada 2025, Danantara yang baru saja didirikan tersebut memutuskan menginjeksi modal. Pada tahun itu, target perusahaan bukan mencetak laba, melainkan optimalisasi struktur organisasi dan stabilisasi operasional.
Hasilnya, Rohan mencatat seat load factor (SLF) atau jumlah penumpang Garuda Indonesia membaik pada tahun lalu, dari 77 persen menjadi 80,7 persen. Hal ini lantaran sudah banyak armada, baik itu milik induk maupun Citilink, yang diperbaiki dengan suntikan dana tersebut. Sisa modal itu juga digunakan untuk membayar utang BBM kepada Pertamina.
"Semester II tahun 2025, traffic penumpangnya Garuda naik 10,5 persen dibanding semester I tahun lalu. Pokoknya bagus, naik, karena juga pesawatnya sudah sebagian ter-service," katanya.
Sementara pada tahun 2026, lanjut Rohan, Danantara menargetkan Garuda Indonesia dapat mencetak ekuitas positif meskipun belum raup laba bersih, seiring dengan perbaikan fundamental Garuda Indonesia, mulai dari kepengurusan, permodalan, hingga melaksanakan berbagai kerja sama dengan internal BUMN maupun perusahaan swasta.
Salah satunya dengan memperbanyak reciprocal agreement dan Air Service Agreement (ASA) dengan maskapai internasional yang selama ini dinilai kurang adil, misalnya dengan Singapore Airlines yang memiliki frekuensi penerbangan Jakarta-Singapura jauh lebih banyak dari Garuda.
"Kemudian negara utama yang kita akan lebih banyak (rute penerbangan) ke luar negerinya, Singapura pasti, Australia, Jepang, Netherlands, Saudi Arabia, South Korea," ungkap Rohan.





