Turis Amerika Serikat bernama Gene Whitman (laki-laki, 75 tahun) bercerita soal banjir di Jalan Bumi Ayu, Denpasar, Bali, yang menggenangi rumah sewaannya. Banjir melanda kawasan ini sejak Selasa (24/2) lalu.
Gene menyewa sebuah rumah di Jalan Bumi Ayu selama 15 tahun belakangan. Banjir kerap muncul di sekitar rumahnya. Bahkan awal tahun 2026, rumah sewamya itu sudah dua kali kebanjiran. Gene terpaksa tinggal di hotel karena kerusakan rumah tak layak ditempati.
"Bulan ini saja sudah dua kali air masuk rumah. Padahal selama 15 tahun sebelumnya, tidak pernah (rumah terendam). Saya sampai harus tinggal di hotel. Saya tidak bisa tinggal di sini sejak kejadian ini. Mungkin besok baru saya kembali," katanya kepada wartawan, Kamis (26/2).
Menurutnya, ada dua penyebab banjir di sekitar Bumi Ayu, yaitu drainase buruk dan maraknya pembangunan vila. "Mereka butuh pompa di ujung jalan ini untuk menyedot air tapi pompanya tidak dijalankan terus-menerus," sambungnya.
Saking kecewanya, Gene memperlihatkan kondisi rumah yang digenangi banjir. Air setinggi betis Gene tergenang di halaman rumah, kendaraan dan kolam juga ikut terendam. Sejumlah barang-barang terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.
Dia mengatakan, ketinggian air awalnya mencapai paha dan masuk ke dalam rumah, hari ini ketinggian air belum surut signifikan. Gene mengaku mengalami kerugian hingga Rp 47 juta akibat banjir ini. Dia berharap Pemerintah Kota Denpasar segera mengambil tindakan.
"Agar pemerintah membangun sistem drainase yang benar-benar berfungsi. Agar mereka mengeluarkan anggaran untuk membuat sistem drainase yang layak, seperti yang mereka buat di Danau Tamblingan. Sistem di Tamblingan itu bagus. Mereka bisa buat sistem yang sama di sini, tapi kalau Anda jalan ke ujung jalan sana, bisa lihat semuanya jelek," katanya.
Gene merupakan seorang pensiunan dokter. Namun, dia sesekali masih pulang ke negara melayani pasien pribadi. Dia betah hidup di Bali, namun dia galau apakah harus pindah ke Vietnam atau Thailand apabila banjir terus menghantui.
"Mungkin saya harus pindah, sebenarnya saya tidak mau, karena saya suka orang Indonesia, orang Bali. Tapi kalau banjir terus, saya tidak mau. Terlalu mahal biayanya. Mungkin saya akan pindah ke bagian lain di Bali, atau pindah ke negara lain di Asia Tenggara. Mungkin Vietnam atau Thailand. Vietnam bagus, orang-orangnya baik, dan lebih murah," katanya.
Kata Wali Kota DenpasarTerpisah, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, permasalahan banjir di Denpasar tidak lepas dari kondisi geografis. Kota Denpasar memiliki tiga titik cekungan utama langganan banjir.
Ketiganya yakni Jalan Bumi Ayu, Jalan Pura Demak dan kawasan Jalan Mekarjaya di Pemogan.
"Di Kota Denpasar ada tiga daerah cekungan. Di Bumi Ayu kondisinya seperti penggorengan, sehingga saat curah hujan tinggi air mudah terkumpul. Selain itu ada Pura Demak dan Mekarjaya, Pemogan yang juga menjadi langganan genangan," katanya.
Dia mengatakan, Pemerintah Kota Denpasar sebenarnya baru saja memperbaiki drainase di Jalan Bumi Ayu dan membangun sodetan ke pantai dan Tukad Punggawa. Hanya saja, drainase tak mampu menampung air saat air laut mengalami pasang. Kendala lainnya adalah salah satu mesin pompa rusak.
"Saya sudah minta agar tolong dikejar itu, kita kan tidak tahu hujannya lagi, masyarakat kan tidak mau tahu itu (pompa rusak)," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar I Made Tirana mengatakan, Damkar bersama PUPR saat ini menyediakan dua mesin penyedot air dan tiga truk berkapasitas 3 ribu dan 5 ribu liter mengatasi banjir.
Genangan air akan disedot kemudian ditampung selanjutnya dibuang ke laut atau Sungai Loloan. Dia berharap hujan berhenti sehingga genangan air semakin surut.
"Kalau di Bumi Ayu malam ini bisa tuntas kalau malam tidak ada hujan," katanya.





