?Ustadz Das'ad Latif membagikan sebuah kisah inspiratif dari zaman kenabian tentang keagungan akhlak Rasulullah Muhammad SAW dalam memuliakan sesama. Kisah ini sarat akan makna mendalam yang sangat relevan dengan hakikat ibadah puasa di era modern.
Kisah Anggur Masam di Madinah
Dalam kajiannya, dikisahkan ada seorang sahabat bersahaja di Madinah yang memberikan hadiah berupa buah anggur kepada Nabi. Berbeda dari kebiasaan beliau yang selalu membagikan makanan kepada para sahabat di majelis, kali ini Rasulullah justru menghabiskan seluruh anggur tersebut seorang diri hingga si pemberi hadiah pulang dengan perasaan sangat gembira.
Sikap tak biasa ini sempat mengundang tanda tanya dari para sahabat lainnya. Belakangan terungkap bahwa buah anggur tersebut ternyata memiliki rasa yang sangat masam atau kecut.
Rasulullah sengaja menanggung rasa masam itu sendirian dan tidak membagikannya karena khawatir. Beliau memikirkan kemungkinan jika para sahabat ikut mencicipi, ekspresi wajah mereka akan berubah secara spontan dan hal tersebut berpotensi besar melukai perasaan si pemberi hadiah.
Esensi Puasa dan Pengendalian Diri
Beranjak dari keteladanan akhlak tersebut, Ustadz Das'ad Latif mengingatkan umat Islam bahwa hikmah utama dari ibadah puasa sejatinya adalah pengendalian diri. Kelengkapan ibadah puasa selama tiga puluh hari penuh akan terasa sia-sia jika seseorang tidak mampu menjaga lisannya dari ucapan yang menyakiti orang lain.
Lebih dari itu, di era digital saat ini, umat juga dituntut untuk mampu mengendalikan jari jemarinya dari mengunggah konten atau komentar di media sosial yang dapat menyinggung perasaan saudara sesama manusia.
Ditekankan bahwa puncak dari segala ilmu agama adalah adab dan akhlak yang mulia. Predikat sebaik-baiknya manusia di mata Tuhan mutlak diberikan kepada mereka yang mampu memberikan manfaat terbesar bagi orang sekitarnya, yang salah satu bentuk paling sederhananya adalah dengan selalu menjaga perasaan orang lain.




