Pesawat ulang-alik milik China Shenlong tengah menjalankan misi barunya untuk mengorbit Bumi sejak awal Februari 2026. Meski ini adalah misi keempat pesawat tersebut, keberadaan wahana ini masih menimbulkan teka-teki karena terbatasnya informasi yang ada. Terlebih, Shenlong dianggap sebagai pesaing utama dari pesawat luar angkasa X-37B milik Amerika Serikat.
Shenlong diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi, dekat perbatasan China-Mongolia pada 7 Februari 2026. Seperti ditulis South China Morning Post saat itu, pesawat ulang alik yang dapat digunakan kembali itu diluncurkan menggunakan roket Long March-2F.
Kantor berita milik pemerintah China, Xinhua, menggambarkan peluncuran terbaru tersebut sebagai proses lanjutan verifikasi teknologi guna mendukung program pesawat luar angkasa China yang dapat digunakan kembali. Peluncuran tersebut merupakan bagian dari eksperimen untuk memberikan dukungan teknis demi ‘pemanfaatan antariksa secara damai’.
Meski wahana ini sudah dioperasikan sejak 2020, hingga kini nama resmi dan spesifikasi teknis pesawat itu belum diumumkan oleh pemerintah China. Namun, para penggemar perkembangan teknologi antariksa China menjuluki pesawat ulang-alik itu dengan nama Shenlong yang artinya ‘Naga Dewa’.
Misi pertama Shenlong diluncurkan pada 4 September 2020. Saat itu, pesawat mengorbit Bumi selama dua hari dan berhasil kembali ke lokasi pendaratan yang ditentukan dengan selamat. Percobaan pertama itu disebut sebagai terobosan penting China dalam penelitian dan penguasaan teknologi pesawat luar angkasa yang dapat digunakan kembali. Keberhasilan itu menawarkan penerbangan luar angkasa di masa depan yang lebih murah dan lebih nyaman.
Selanjutnya, Shenlong menjalankan misi keduanya pada 5 Agustus 2022 hingga 8 Mei 2023 untuk terbang mengorbit Bumi selama 276 hari. Sementara misi ketiga dijalani Shenlong dari 14 Desember 2023 untuk misi terbang di orbit rendah Bumi selama 268 hari hingga September 2024. Dalam misi ketiga itu, kemampuan perisai termal pesawat dan manajemen daya untuk misi orbital jangka panjang menunjukkan peningkatan berarti dibanding sebelumnya.
Meski Shenlong sudah dioperasikan sejak 2020, hingga kini nama resmi dan spesifikasi teknis pesawat itu belum diumumkan oleh pemerintah China.
Namun pada misi Shenlong yang keempat kali ini, pengamat belum mengetahui apa yang hendak dilakukan pesawat ulang-alik tersebut. Penjelasan resmi pemerintah China seperti ditulis Space, Senin (23/2/2026), lagi-lagi hanya menyebut bahwa Shenlong sedang menguji teknologi yang akan membuka jalan bagi sistem perjalanan pulang pergi ke luar angkasa yang lebih nyaman dan terjangkau di masa depan.
Masalahnya, bukan hanya China yang sedang merahasiakan teknologi luar angkasanya. Amerika Serikat pun melakukan hal yang sama terhadap pesawat luar angkasa otonom X-37B meski informasinya sedikit lebih banyak yang bisa dikuak. Banyak peneliti melihat Shenlong dan X-37B memiliki kemiripan, termasuk soal-soal yang dirahasiakan, seperti besar muatan dan aktivitas yang dijalankan.
Angkatan Antariksa AS diyakini memiliki dua pesawat X-37B yang masing-masing memiliki panjang 8,8 meter dan terlihat seperti miniatur dari wahana antariksa Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) yang lama. X-37B mencapai orbit pertama kalinya pada 2010 dan saat ini sedang menjalani misi kedelapan yang diluncurkan pada Agustus 2025 di atas roket Falcon 9 milik SpaceX.
Meski pejabat militer AS selalu bersikeras bahwa X-37B hanya wahana uji teknologi, namun banyak pihak menaruh kecurigaan terhadap pesawat itu. Di masa awal penerbangan X-37B, China langsung menganggapnya sebagai senjata luar angkasa. Namun, banyak kalangan menilai kekhawatiran China itu berlebihan.
Laporan Secure World Foundation (SWF), lembaga nirlaba di AS yang mempromosikan pemanfaatan luar angkasa secara aman, damai, dan berkelanjutan, pada Juni 2025 menyebut X-37B sebagai pesawat luar angkasa yang bisa digunakan kembali. Namun, sepanjang yang diketahui, wahana itu belum pernah mendekati atau bertemu dengan obyek luar angkasa lain. Selain itu, wahan ini umumnya mengorbit jauh di bwah sebagian besar satelit operasional.
Namun, pada misi ketujuh X-37B yang dimulai dari akhir Desember 2023 hingga lebih dari setahun kemudian atau 7 Maret 2025, wahana ini telah mencapai ketinggian terbang 38.600 kilometer atau sedikit lebih tinggi dari posisi satelit geostasioner. Ketinggian tersebut dicapai setelah X-37B terbang dengan orbit yang sangat elips.
Pesawat X-37B dinilai sebagai sistem persenjataan yang buruk.
Selain itu, dalam misi ketujuh tersebut, X-37B menjalani misi Wahana Penguji Orbital alias Orbital Test Vehicle 7 (OTV-7) berupa manuever ‘aerobraking’ untuk pertama kalinya. Manuver ini dilakukan dengan membuat pesawat dalam posisi menukik menuju atmosfer Bumi guna mengubah orbitnya dengan menggunakan hambatan aerodinamisnya, tanpa membakar bahan bakar yang ada.
Metode tersebut membuat manuver tersebut tidak dapat diprediksi oleh pelacak pesawat luar angkasa di darat sehingga bisa menyelamatkan misi dari serangan musuh. Cara ini juga bisa memperpanjang misi karena penggunaan bahan bakar menjadi lebih hemat.
Selanjutnya, dalam misi kedelapan yang diluncurkan pada 21 Agustus 2025, mereka menjalankan misi OVT-8. Mereka menguji ‘sensor inersia kuantum berkinerja tinggi’ yang penting untuk menavigasi pesawat luar angkasa tanpa dukungan Global Positioning System (GPS). Dengan teknologi itu, maka pesawat luar angkasa bisa mengetahui posisinya secara tepat tanpa perlu bergantung kepada sinyal dari satelit lain.
Pesawat X-37B itu juga telah menguji tautan laser antarsatelit yang memiliki pita lebar tinggi sehingga membuatnya sulit untuk diganggu atau dicegat oleh musuh dibanding jika mereka masih menggunakan frekuensi radio tradisional. Bahkan, laporan pengamat amatir menyebut pesawat ini telah meluncurkan satelit kecil tak lama setelah mencapai orbit.
Meski telah melakukan sejumlah uji, X-37B dinilai sebagai sistem persenjataan yang buruk. Pesawat ini akan kesulitan untuk menembakkan senjata dari luar angkasa ke Bumi akibat kecilnya ruang muatan wahana yang dimiliki, sebesar bak mobil pikap saja. Selain itu, kecilnya ukuran pesawat membuat kemampuannya untuk membangkitkan daya juga terbatas.
“Senjata hiperkinetik yang dijatuhkan dari ruang penyimpanan pesawat perlu dilengkapi dengan pendorong yang mampu melakukan pembakaran deorbit (turun dari orbit sesungguhnya untuk masuk kembali ke atmosfer Bumi) dengan signifikan,” tulis laporan SWF. Namun, proses deorbit itu tidak mungkin dilakukan karena terbatasnya ruang yang tersedia di pesawat X-37B.
Pesawat X-37B memasuki kembali atmosfer Bumi dengan kecepatan 321 kilometer per jam atau sama seperti pesawat ulang-alik sebelumnya. Besaran kecepatan itu jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan wahana pembawa senjata nuklir atau senjata hiperkinetik saat memasuki kembali armosfer Bumi. Akibatnya, di atmosfer Bumi, pesawat X-37B akan menjadi wahana yang bergerak lambat, tidak lincah, sehingga menjadi mangsa yang mudah bagi sistem pertahanan udara apapun di sepanjang jalurnya menuju target.
Kondisi serupa diyakini juga berlaku untuk pesawat ulang-alik China Shenlong. Jika ukuran Shenlong mirip dengan X-37B, maka kehadiran wahana ini juga tidak perlu memunculkan kekhawatiran akan menjadi senjata pengebom. Namun, berbeda dengan X-37B, Shenlong telah berjumpa dengan sejumlah obyek luar angkasa lain.
Pada ketiga misi Shenlong sebelumnya, pesawat luar angkasa itu telah melepaskan satu atau lebih benda ke orbit. Diduga, benda itu adalah satelit. Namun, informasi ini bukan datang dari pemerintah China, tetapi dari militer AS, perusahaan swasta pemantau benda-benda luar angkasa, hingga astronom amatir yang telah melacak keberadaan Shenlong.
Sekarang hampir sampai pada titik dimana jika ingin unggul di antariksa, maka mereka perlu melakukan RPO (rendezvous and proximity operation).
Dalam misi pertama, seperti ditulis SWF, satelit yang dilepaskan Shenlong itu menunjukkan kemampuan mentransmisikan siaran. Sedangkan satelit yang dilepaskan pada misi kedua diperkirakan memiliki kemampuan propulsi alias sistem mekanik yang menghasilkan gaya dorong yang independen. “Shenlong telah melakukan banyak manuver jarak dekat dan operasi penyambungan dengan satelit di orbit,” tulisnya.
Manuver luar angkasa yang dilakukan dua atau lebih pesawat atau satelit untuk saling bertemu dan mendekat itu disebut rendezvous and proximity operation (RPO). Manuver ini memang belum dilakukan oleh pesawat X-37B. Sebaliknya, manuver RPO itu kemungkinan telah menjadi program prioritas Shenlong. Hal itu dibuktikan dengan RPO yang dilakukan Shenlong, baik di orbit rendah Bumi (LEO) atau di orbit geostasioner Bumi (GEO).
“Itu (RPO) adalah keahlian yang jelas-jelas diminati oleh mereka (China). Begitu pula Rusia dan AS,” kata Direktur Utama Keamanan dan Stabilitas Antariksa SWF Victoria Samson.
Ketertarikan sejumlah negara adidaya luar angkasa terhadap RPO sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Penguasaan akan teknologi RPO akan memungkinkan negara-negara tersebut mengisi bahan bakar, memperbaiki, meningkatkan kemampuan, dan deorbit atau menurunkan ketinggian orbit satelit.
Namun, kemampuan RPO itu juga berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan operasi antariksa tandingan. Dengan kemampuan RPO yang dimiliki, suatu negara bisa menyelidiki, mengganggu, melumpuhkan, hingga menangkap pesawat luar angkasa atau satelit musuh.
“Sekarang hampir sampai pada titik dimana jika ingin unggul di antariksa, maka mereka perlu melakukan RPO,” tambahnya.
Tak hanya itu, selama misi ketiga Shenlong, pelacak luar angkasa AS melaporkan adanya sinyal yang ditransmisikan di atas wilayah antariksa Amerika Utara. Temuan itu menunjukkan bahwa pesawat luar angkasa itu bisa berfungsi ganda sebagai platform sinyal intelijen yang bergerak dan dapat digunakan kembali (SIGINT). Kondisi itulah yang membuat aktivitas Shenlong menimbulkan kekhawatiran karena artinya, pesawat itu memiliki kemampuan antisatelit yang bisa melumpuhkan atau menghancurkan satelit di orbit.
Namun, sulit untuk memastikan seberapa besar kekhawatiran itu mengingat tingginya tingkat kerahasiaan Shenlong. Meski demikian, kekhawatiran serupa sejatinya juga bisa ditujukan untuk pesawat X-37B. Walau informasi X-37B lebih banyak yang diungkapkan atau dipantau para peneliti, namun itu tidak mengurangi kemisteriusan X-37B sebagai pesawat militer.
Jika Barat mengkhawatirkan kehadiran Shenlong, maka keberadaan X-37B juga perlu dicemaskan. Namun, sedikit keterbukaan informasi, lanjut Samson, bisa bermakna besar untuk meredakan kekhawatiran yang senantiasa muncul. Informasi sekecil apapun bisa berguna untuk mencegah, mengurangi, dan memitigasi beragam kemungkinan terjelek. “Jika tidak, orang akan cenderung membayangkan skenario terburuk yang bisa saja terjadi,” katanya.





