Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan tidak ingin RSUD Kota Bima dijadikan rumah sakit rujukan regional. Menurutnya, sistem rujukan justru menimbulkan biaya tinggi dan menyulitkan keluarga pasien.
Hal itu disampaikannya saat meninjau gedung baru RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2).
“Kalau konsepnya apakah jadi rujukan regional, gini, justru saya mau menghindari rujukan. Karena rujukan itu mahal, bikin susah, keluarganya kasihan. Kalau bisa, nggak ada rujukan. Semuanya selesai di masing-masing kabupaten/kota,” jelas Budi.
Ia menekankan, pelayanan kesehatan seharusnya bisa dituntaskan di daerah asal pasien.
“Jadi kalau yang sakit di Kota Bima, di Kota Bima aja selesai. Yang sakit di Kabupaten Bima, di Kabupaten Bima aja selesai. Enggak usah dirujuk ke Mataram,” ujarnya.
Budi mengatakan, rujukan hanya diperlukan untuk kasus yang benar-benar kompleks dan jumlahnya seharusnya terbatas.
“Kecuali memang yang bener-bener kompleks, ya pastilah ada lah. Tapi itu kan harusnya di bawah 10%,” kata dia.
Ia juga mencontohkan kondisi sebelumnya, ketika fasilitas di rumah sakit yang lama belum memadai.
“Sekarang kan mungkin begitu kena stroke, yang lama kan enggak ada CT Scan. Kalau nggak ada CT scan, sudah pasti itu 90% dirujuk. Sekarang mungkin yang dirujuk ya tinggal 5 sampai 10% karena bisa ditangani di sini,” ucap Budi.
Budi menjelaskan, RSUD Kota Bima merupakan salah satu dari puluhan rumah sakit daerah yang dibangun pemerintah pusat.
“Ini adalah satu dari 66 RSUD yang akan dibangun oleh Pak Presiden Prabowo, ya. Jadi seluruh daerah-daerah terpencil, beliau minta agar dibangun RSUD,” jelas Budi.
Rumah sakit ini dikembangkan dengan hadirnya gedung baru, serta dirancang untuk menangani lima penyakit utama penyebab kematian.
“Dan RSUD ini bisa menangani 5 penyakit utama sebenarnya penyebab kematian. Yang nomor satu, paling tinggi itu kematian karena stroke, nomor dua jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal, nomor lima itu ibu dan anak,” jelas Budi.
Menurutnya, dengan fasilitas dan tenaga medis yang lengkap, pasien tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah.
“Dengan adanya rumah sakit ini, kalau ada penyakit stroke, jantung, kanker, ginjal, ibu anak harusnya bisa selesai dirawat di sini. Yang penting ada alatnya dan ada dokternya,” jelas Budi.
Budi menyebutkan, alat-alat kesehatan untuk RSUD Kota Bima akan datang secara bertahap hingga pertengahan tahun.
“Saya cek alatnya nanti akan berdatangan bertahap. Ini nilainya puluhan miliar ya. Nanti mudah-mudahan akan selesai di bulan Juni ya datang semua,” kata Budi.
Ia juga mengungkapkan, sebagian alat sebenarnya sudah dibeli lebih dulu, namun masih ditempatkan di rumah sakit lama.
“Jadi sudah ada 20 miliar yang mereka beli alat, sama teman-teman cepet tuh sudah diambil, sudah dibeli dulu, saya tanya mana barangnya kok nggak ada di sini, tempat tidur, patient monitor, katanya sudah, ditaruh di rumah sakit yang lama dulu,” tutur Budi.
Alat-alat tersebut rencananya akan dipindahkan ke gedung yang baru pada bulan Juni.
“Itu juga mesti dipindahkan nanti di sini. Jadi di bulan Juni,” kata dia.





