Ibu Ceritakan saat Adik di Jakut Pukuli Kakak Pakai Palu Hingga Tewas

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

N (47) masih tampak terguncang waktu ditanyai detik-detik saat anak bungsunya yang masih berusia 16 tahun, menggetok palu ke kepala kakaknya, MAR (22) hingga tewas bersimbah darah pada Selasa (24/2) sore di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Masih meraba-raba untuk, untuk apa namanya, betul tidak, apakah mimpi atau tidak, seperti itu lah. Dan luar biasa lah guncangan jiwa saya," ujar N saat ditemui kumparan di rumahnya, Jumat (27/2).

Menurutnya, peristiwa itu terjadi sangat cepat, bermula saat sang kakak menaruh handuk di atas tempat tidur si adik. Pelaku yang baru bangun tidur berkata kepada sang ibu untuk menyampaikan kepada sang kakak agar handuknya dibereskan dari kamarnya.

"Ya itu kejadiannya cepat sekali ya. Begitu saya ngobrol-ngobrol sama kakaknya gitu kan di ruang tamu, karena sebelumnya kan, bangun tidur mungkin dalam keadaan puasa, laper, si adiknya itu, "Mi bilangin dong," gitu, "apa namanya, nanti barang-barangnya di kamar Azam itu, apa namanya (handuk), diambil sama si kakak," gitu. Soalnya kan privasi, dia juga kamarnya privasi, Mi, katanya gitu. Nah, saya pun juga, ya udah nanti dalam keadaan berbuka, jadi perut kenyang," ujarnya menceritakan percakapannya dengan sang anak.

"Nah, kebetulan itu pada waktu itu dia apa namanya, ya lagi bersenda gurau gitu sama kakaknya. Ya iseng-iseng saya nanya gitu seperti itu. "Nanti barang-barangnya di kakak anu ya, diambilin?" "Iya Mi," katanya. Nah dengar si itu ya bilang 'goblok' atau apa gitu seperti itu, itu aja sebetulnya. Jadi miskomunikasi aja, seperti itu," sambung N.

Usai percakapan tersebut, tiba-tiba saja anak bungsunya membawa palu, lalu melayangkannya ke kepala si kakak yang tengah memberi makan binatang. Palu tersebut, dipukulkan berkali-kali ke kepala korban hingga korban tersungkur bersimbah darah.

N menduga, anak bungsunya mengalami guncangan batin akibat sesuatu, sehingga ia menjadi gelap mata.

"Tiba-tiba cepat, mungkin di luar yang saya katakan itu ada guncangan jiwa dia, ada guncangan batin dia, mungkin seperti itu langsung cepat gerakannya, seperti itu. Gitu. Jadi kejadian itu seperti itu," kata N.

"Kejadian cepat dan dia mengatakan juga di Polres itu kan nggak sadar, seperti itulah, gitu seperti itu. Nggak sadar, menyesal, seperti itulah. Memang ada guncangan jiwa, guncangan batin," sambungnya.

Bantah Pilih Kasih

N mengatakan, kedua anaknya bisa dibilang jarang sekali bertengkar. Kalau pun ada hal yang mereka ributkan, menurut Nurul itu hanya lah masalah sepele. Bila ada sesuatu, kedua anaknya berkomunikasi lewat dia sebagai jembatan komunikasi.

"Oh tidak, tidak pernah berantem gitu ya. Artinya, jarang juga ya, masalah-masalah sepele lah. Kalau si anak itu, adiknya itu pengin mengungkapkan ke kakaknya ya lewat saya. Terus, apa namanya, kakaknya menyampaikan ya lewat saya juga, seperti itu gitu," jelas N.

Ia juga menegaskan selalu bersikap adil kepada kedua anaknya. Hal ini sekaligus menepis dugaan awal bahwa sang ibu pilih kasih kepada salah satu anak.

"Pilih kasih? Oh tidak, itu tidak... tidak bisa. Karena apa? Karena si bungsu itu ya pertama anak kecil. Kedua, itu kan ringkih, jadi dalam pantauan saya, bagaimana makannya, bagaimana pengobatannya. Jadi full saya itu pikiran, tenaga untuk si bungsu. Ibaratnya tuh ke mana-mana ya si bungsu, sama si bungsu. Kalau yang gede kan tinggal uang, udah main sendiri dengan organisasinya, dengan temannya. Seperti itu. Saya hari-hari full time dengan si bungsu," jelas N.

Justru, kata N, ia memberi perhatian ekstra kepada si bungsu yang masih duduk di bangku SMP.

"Full time itu malah si bungsu yang saya perhatikan gitu. Memang kakaknya kan kuliah, jadi kan artinya kan biayanya besar, dikasih uangnya juga besar, seperti itu. Adiknya kan SMP, jadi saya sesuai porsi. Nah seperti itu, tidak sama. Porsinya kan adik, adik kan SMP ya, segini. Nah, tetapi itu pun saya ngasih ke dia gitu, "Adik punya tabungan nih nanti buat kuliah segala macam," gitu, seperti itu, sama gitu. Dan kakaknya itu selalu mengatakan kalau saya seratus, adik seratus, Mi," ungkap N.

Atas dasar itu lah, N meminta bantuan Presiden RI Prabowo Subianto, agar anak bungsunya diobati, karena merasa jiwa sang anak tengah terguncang.

"Makanya saya kan meminta kepada Presiden Bapak Prabowo gitu, artinya obati anak saya gitu. Ada guncangan batin, guncangan jiwa yang harus diobati. Karena di bawah umur dan itu aset saya satu-satunya," ucap Nurul.

"Dia anak baik, rajin salat, rajin mengaji, dari pesantren. Anak baik, saleh, dan dia selalu artinya mengerti sama ibunya. Dua-duanya mengerti gitu seperti itu. Gitu, tiba-tiba tek tek (terjadi pembunuhan). Ya, saya menganggapnya itu qodarullah lah ya," kata Nurul.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Siap Berdebat dengan Menteri Pigai Soal HAM, Zainal Arifin Mochtar: Bukan Teoretis tapi Tagih Janji
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Jelang Mudik Lebaran 2026, Perbaikan Jalan Tol dan Jalan Nasional Dikebut
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Seskab Teddy Bantah Keras Isu MBG Habiskan Anggaran Pendidikan: Narasi Keliru!
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Garut Tagih Janji Pemprov Jabar Bangun Pelabuhan di Pantai Selatan
• 17 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.