JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) dan mahalnya wahana bermain berbayar di Jakarta, taman bermain gratis menjadi tumpuan banyak orangtua untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Namun, kondisi Taman Lestari di Cilincing, Jakarta Utara, justru memprihatinkan dan dinilai belum ramah anak.
Sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia, Jakarta masih menghadapi keterbatasan lahan untuk ruang bermain anak.
Banyak warga akhirnya mengandalkan playground di mal atau pusat perbelanjaan, meski tidak semua keluarga mampu membayar tiket masuk yang relatif mahal.
Baca juga: Anggaran Terbatas, Taman Bermain Anak di Cilincing Terbengkalai
Bagi orangtua yang tidak sanggup membayar playground berbayar, taman lingkungan menjadi pilihan utama.
Seperti Ina (36), warga Cilincing, yang hampir setiap hari mengajak ketiga anaknya bermain di Taman Lestari meski fasilitasnya jauh dari ideal.
"Membantu banget, apalagi ini puasa kan jadi pas sore main di taman sekalian nunggu buka puasa, jadi enggak usah mengeluarkan uang buat ke playground yang cuma 15 menit bayar Rp10.000," tutur Ina ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Ia mengaku hampir setiap hari mampir ke Taman Lestari Cilincing untuk mengajak anak-anaknya bermain perosotan.
TerbengkalaiDi tengah fungsinya yang masih menjadi favorit warga sekitar, Ina menyayangkan kondisi Taman Lestari Cilincing yang dinilai terbengkalai dan belum ramah anak.
Taman seluas kurang lebih 20 x 10 meter itu memiliki fasilitas permainan yang terbatas. Di bagian tengah terdapat dua perosotan setinggi sekitar tiga meter yang terbuat dari semen dan dicat abu-abu.
Permukaan perosotan terlihat licin dan dinilai kurang aman untuk anak-anak karena cukup tinggi. Area di bawahnya pun belum dilengkapi alas empuk, melainkan hanya paving block yang keras, sehingga berisiko menimbulkan cedera jika anak terjatuh.
Baca juga: Taman Bermain Anak di Cilincing Terlupakan: Banyak Kotoran Kucing dan Terendam Banjir
Selain itu, terdapat satu perosotan plastik yang kondisinya sudah usang. Bagian tengahnya berlubang dan ditambal menggunakan selotip, sementara tangga besinya hampir seluruhnya berkarat akibat cat yang terkelupas.
Bangku taman untuk pengunjung juga banyak yang rusak. Sebagian rangka besinya hilang dan sebagian lainnya keropos dimakan usia.
Sebagian besar lantai taman masih berupa tanah merah yang mudah becek dan licin saat hujan. Bahkan, taman kerap terendam banjir dan menyisakan genangan di area tengah setelah hujan berhenti.
Kondisi semakin memprihatinkan pada malam hari karena minimnya penerangan.





