Jenewa: Pejabat Amerika Serikat (AS) dan Ukraina memulai perundingan bilateral di Jenewa pada Kamis 26 Februari 2026.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang kini telah memasuki tahun kelima, setelah sebelumnya digelar negosiasi trilateral yang melibatkan Rusia di kota yang sama pekan lalu.
Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov mengonfirmasi dimulainya pertemuan dengan delegasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
"Kami melanjutkan pekerjaan dalam kerangka proses negosiasi. Fokus kami adalah pada solusi praktis," ujar Umerov di X, seperti dikutip, Anadolu, Jumat, 27 Februari 2026.
Selain isu keamanan, delegasi Ukraina yang menyertakan Menteri Ekonomi Oleksii Sobolev dan Wakil Menteri Ekonomi Daryna Marchak, membawa agenda paket kemakmuran. Agenda ini mencakup pembahasan mekanisme dukungan ekonomi, instrumen untuk menarik investasi, serta kerangka kerja sama jangka panjang untuk pemulihan Ukraina.
Umerov menambahkan bahwa pihaknya juga akan membahas persiapan untuk putaran negosiasi trilateral berikutnya dengan Rusia. Salah satu prioritas utama dalam jalur kemanusiaan adalah pembahasan mengenai pertukaran tahanan.
"Kami mengharapkan hasil nyata terkait pemulangan warga negara kami," tegas Umerov.
Agenda pertemuan di Jenewa ini sebelumnya telah dibahas dalam pembicaraan telepon antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu. Zelensky mengatakan dukungannya terhadap urutan langkah diplomatik ini sebagai upaya untuk membawa pembahasan ke tingkat pemimpin negara.
"Kami berharap pertemuan ini menciptakan peluang untuk membawa pembicaraan ke tingkat pemimpin. Presiden Trump mendukung urutan langkah ini. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah kompleks dan akhirnya menghentikan perang," tulis Zelensky.
Ia juga memberi sinyal bahwa perundingan perdamaian trilateral berikutnya kemungkinan akan digelar pada awal Maret mendatang.
Meskipun perundingan yang dimediasi AS pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan resmi, kedua belah pihak menggambarkan diskusi tersebut sebagai komunikasi yang intensif, substantif, dan profesional. Fokus saat ini tetap tertuju pada pencapaian terobosan teknis di Jenewa sebelum memasuki tahap diplomasi tingkat tinggi.




