Pekerjaan sampingan menjadi senjata pamungkas warga Indonesia saat penghasilan tak cukup untuk membayar pengeluaran sehari-hari. Bisa jadi karena penghasilan yang stagnan, harga kebutuhan hidup yang terus meningkat, hingga jumlah anggota keluarga yang ditanggung cukup banyak.
Analisis Jurnalisme Data Harian Kompas, warga miskin dan kelas menengah lebih banyak melakukan pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kelas menengah tersebut berasal dari beragam profesi seperti dosen, guru, pegawai kontrak, pekerja lepas, pustakawan, dan karyawan swasta.
Seperti Dedi Setiawan (30), pengontrol kualitas pengelasan di perusahaan galangan kapal, di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Penghasilan bulanannya Rp 3,2 juta, kurang untuk membayar pengeluaran keluarga sebesar Rp 3,5 juta. Untuk menutupi biaya pengeluaran yang minus itu, Dedi mengandalkan penghasilan dari jualan daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi berjualan tas yang dibeli dari Batam.
”Lumayan, per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi, seperti dikutip Kompas.id, Senin (26/2/2024).
Tak hanya Dedi, kelas menengah di Yogyakarta, seperti Tia (35), juga mencari tambahan pekerjaan sebagai penulis lepas, moderator, hingga mengajukan sejumlah proposal penelitian. Penghasilannya sebagai pegawai kontrak yang setara dengan upah minimum Yogyakarta tidak cukup untuk memenuhi pengeluaran keluarganya yang semakin bertambah. Tia memilih menekan pengeluaran pribadinya dan menambah pekerjaan daripada berutang (Kompas.id, 26/2/2024).
Apa yang dilakukan Tia benar. Menurut perencana keuangan Annisa Steviani, jika penghasilan yang diperoleh memang kurang dari cukup, langkah awal ialah melakukan evaluasi dari setiap pengeluaran individu dengan mencatat pengeluaran secara rinci.
”Jika dari catatan itu ternyata kita sudah irit dan tidak ada sisa untuk menabung, berarti memang pemasukannya kurang. Situasi ini sebaiknya disiasati dengan mencari pekerjaan yang tanpa modal, seperti reseller. Berutang sebaiknya dihindari,” ujarnya seperti dikutip Kompas.id, Senin (26/2/2024).
Senada juga dikatakan Nadia Harsya, perencana keuangan. Menurut dia, menghasilkan uang bisa dari bekerja, berdagang/bisnis, hingga menjadi pekerja bebas. Solusi mencari tambahan penghasilan bisa dilakukan jika menghemat pengeluaran sesuai dengan besaran penghasilan tidak bisa dilakukan.
Fakta kelas menengah yang melakukan pekerjaan sampingan tersebut dipertegas oleh survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap 36 dosen perguruan tinggi negeri (PTN) pada 4-23 April 2025. Sebanyak 75 persen dosen PTN mempunyai pekerjaan sampingan. Di antaranya, 32 persen sebagai konsultan, pengajar (18,9 persen), peneliti (16,2 persen), penulis (2,7 persen).
Ahmad (31), dosen PTN di Jawa Tengah, bekerja sampingan sebagai penulis media daring, pembicara seminar, dan juri. Hal itu dilakukannya karena penghasilannya sebesar Rp 4,2 juta selalu minus setiap bulan untuk membayar cicilan kredit rumah sebesar Rp 2,12 juta dan Rp 2,1 juta untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan biaya sekolah anak (Kompas.id, 21/5/2025).
Akademisi Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta, Saifur Rohman, menyarankan supaya dosen mengambil pekerjaan sampingan yang bisa mendukung personal branding seorang dosen. Menurut dia, pekerjaan sampingan harus dilakukan dosen karena penghasilannya belum memenuhi kebutuhan sehari-hari (Kompas.id, 21/5/2025).
Jika dari catatan itu ternyata kita sudah irit dan tidak ada sisa untuk menabung, berarti memang pemasukannya kurang. Situasi ini sebaiknya disiasati dengan mencari pekerjaan yang tanpa modal, seperti reseller. Berutang sebaiknya dihindari.
Namun, tidak mudah juga bagi dosen untuk mencari pekerjaan sampingan yang bisa mendukung personal branding, sekaligus menghasilkan tambahan penghasilan rutin bulanan. Muda (30), dosen ASN di Papua Selatan, misalnya. Ia jarang mendapatkan pekerjaan sampingan karena harus bergantian dengan teman-teman dosen yang juga membutuhkan uang tambahan.
Ada juga dosen yang tidak mendapatkan pekerjaan formal terpaksa bekerja informal menjadi pengemudi ojok online (ojol), seperti Didi (30), dosen PTN di Jawa Barat. Ia memilih bekerja bekerja sebagai pengemudi ojol karena bisa menerima penghasilan rutin setiap hari, yakni Rp 100.000-Rp 200.000. Adapun jika ia mengerjakan proyek di luar kampus, menurut dia, tidak pasti dari sisi penghasilan.
Profesi pustakawan pun tak lepas dari fenomena pekerjaan sampingan. Hasil survei daring tim Jurnalisme Data Kompas pada 616 pustakawan di seluruh Indonesia September 2025 menunjukkan fakta tersebut. Sebanyak 233 pustakawan atau 37 persen menyebutkan mempunyai pekerjaan tambahan, seperti menjadi guru, desainer grafis, berdagang, dan menjadi pengemudi ojek daring.
Iwan (26), pustakawan di SMP swasta di Lampung, mencari pekerjaan tambahan seperti mengetik atau menjadi moderator acara lingkungan rumah. Hal itu dilakukannya karena gaji Iwan tak sampai Rp 1 juta per bulan. Padahal, ia harus menopang kebutuhan ibu dan adiknya (Kompas.id, 15/9/2025).
Awal Maret 2026, Kompas akan menghadirkan seri liputan jurnalisme data bertema kerja sampingan. Kompas akan membandingkan data pekerja sampingan pada 2010 dan 2025. Seperti apa trennya? Apa yang memengaruhi tren tersebut? Nantikan hasil liputannya pada awal Maret, hanya di Harian Kompas dan Kompas.id!





