15 Menit yang Mengguncang Dunia: Negosiasi Nuklir AS–Iran ke-3 Nyaris Bubar, Ancaman Perang Menguat

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Iran pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, menggelar putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini menjadi momen krusial dalam upaya menghidupkan kembali kesepakatan pembatasan program nuklir Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Namun, sumber diplomatik menyebutkan bahwa sesi awal perundingan hanya berlangsung sekitar 15 menit sebelum dihentikan untuk konsultasi internal masing-masing delegasi. Situasi tersebut langsung memicu spekulasi bahwa jurang perbedaan antara Washington dan Teheran masih sangat lebar.

Lima Tuntutan Utama Washington

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Amerika Serikat dilaporkan mengajukan lima tuntutan utama kepada Iran, yang oleh sejumlah pengamat dinilai lebih menyerupai ultimatum dibanding proposal kompromi.

Kelima tuntutan tersebut meliputi:

  1. Penghancuran total tiga fasilitas nuklir utama Iran — Fordow, Natanz, dan Isfahan — yang selama ini menjadi pusat pengayaan uranium dan penelitian nuklir.
  2. Penyerahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat, disertai penghentian permanen aktivitas pengayaan.
  3. Penghapusan “sunset clause”, yakni tidak adanya batas waktu kedaluwarsa dalam perjanjian. Artinya, pembatasan terhadap program nuklir Iran akan bersifat permanen.
  4. Penghentian pengayaan uranium, meskipun Iran masih diperbolehkan mempertahankan Reaktor Riset Teheran untuk tujuan sipil.
  5. Keringanan sanksi bertahap dan terbatas pada fase awal. Pencabutan sanksi secara luas hanya akan diberikan jika Iran terbukti mematuhi seluruh ketentuan secara permanen.

Seorang analis kebijakan luar negeri di Washington menilai struktur proposal tersebut menunjukkan pendekatan “maksimalis” dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Penolakan Tegas Teheran

Teheran dengan cepat menolak tuntutan tersebut. Pemerintah Iran menyatakan tidak akan memindahkan cadangan uranium ke luar negeri, tidak akan membongkar fasilitas nuklir strategisnya, serta menolak pembatasan tanpa batas waktu atas program nuklir nasionalnya.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, seusai pertemuan menyampaikan nada yang lebih moderat. Dalam pernyataannya kepada media pada 26 Februari 2026 siang waktu Jenewa, Araghchi mengatakan bahwa terdapat “kemajuan dalam pembahasan isu energi nuklir dan pencabutan sanksi.”

Dia mengakui masih ada perbedaan mendasar, namun menyebut kedua pihak telah mencapai sejumlah kesepahaman teknis. Putaran konsultasi keempat dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya, setelah masing-masing delegasi melakukan pembahasan internal.

Menteri Luar Negeri Oman, yang bertindak sebagai mediator, juga menyampaikan bahwa negosiasi menunjukkan perkembangan penting dan akan segera dilanjutkan.

Bayang-bayang Opsi Militer

Di tengah proses diplomasi yang rapuh, sinyal keras datang dari Washington.

Pada 25 Februari 2026, sehari sebelum perundingan, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan bahwa ancaman nuklir Iran merupakan bahaya langsung bagi keamanan Amerika Serikat dan sekutunya. Dia menuduh Teheran terus berupaya memulihkan kapasitas nuklirnya secara sistematis.

Intelijen Amerika memperkirakan Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan jangkauan yang berpotensi mencapai sebagian besar wilayah Eropa.

Wakil Presiden JD Vance juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, menyebut momentum ini sebagai “kesempatan terakhir” yang diberikan Presiden Trump kepada Teheran.

Kesiapan Militer dan Keterbatasan Amunisi

Pentagon dalam beberapa hari terakhir mengumumkan kesiapan tambahan di kawasan Timur Tengah.

Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi pengembangan drone berbiaya rendah bernama LUCAS, hasil rekayasa balik dari drone Shahed buatan Iran. Drone tersebut diperkirakan bernilai sekitar 35.000 dolar AS per unit. Model serupa sebelumnya digunakan Rusia dalam ribuan serangan terhadap Ukraina.

Namun di sisi lain, Pentagon juga mengakui bahwa persediaan amunisi presisi tinggi Amerika hanya cukup untuk sekitar 7 hingga 10 hari operasi intensif. Produksi ulang amunisi jenis ini membutuhkan biaya besar serta waktu yang tidak singkat.

Unit drone kamikaze pertama AS yang dijuluki “Scorpion Task Force” dilaporkan telah ditempatkan di Timur Tengah dan siap bergerak jika Presiden Trump mengeluarkan perintah serangan.

Saat ini, dua kapal induk Amerika Serikat berada di kawasan, didukung kapal perusak serta ratusan pesawat tempur dalam status siaga tinggi.

Kalkulasi Politik dan Risiko Regional

Sumber di Washington menyebutkan Presiden Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan para pejabat keamanan nasional sebelum pukul 15.00 waktu setempat — sekitar satu jam sebelum penutupan perdagangan Wall Street — untuk mengevaluasi perkembangan diplomasi dan opsi kebijakan selanjutnya.

Seorang pejabat Israel secara anonim menyatakan bahwa jika perbedaan mendasar tidak segera diselesaikan, serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran “mungkin tak terhindarkan.”

Beberapa sumber menyebut lingkaran inti Presiden Trump cenderung membuka peluang bagi Israel untuk bertindak lebih dahulu, sehingga respons Iran dapat memperkuat legitimasi intervensi militer di mata publik Amerika.

Namun terdapat kekhawatiran serius bahwa konflik berkepanjangan akan menguras stok amunisi AS dan secara strategis membuka ruang bagi Tiongkok untuk mengambil langkah terhadap Taiwan.

Sumber lain menyebut opsi yang dinilai paling realistis adalah operasi militer gabungan AS–Israel. Di dalam negeri, Partai Republik secara umum mendukung pendekatan keras terhadap Iran, termasuk kemungkinan perubahan rezim. Namun, terdapat kehati-hatian terhadap risiko korban militer Amerika dalam konflik langsung.

Titik Kritis Diplomasi

Putaran ketiga perundingan pada 26 Februari 2026 menjadi titik penentu apakah jalur diplomasi masih dapat dipertahankan atau justru membuka babak baru konfrontasi militer di Timur Tengah.

Dengan tuntutan maksimal dari Washington dan penolakan tegas dari Teheran, masa depan negosiasi tampak berada di ujung tanduk. Dunia kini menanti apakah putaran keempat pekan depan mampu menjembatani jurang perbedaan, atau justru menjadi langkah terakhir sebelum eskalasi yang lebih luas terjadi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buruh Bersatu Desak Reformasi Total SJSN, Soroti Rendahnya Perlindungan Pekerja
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Kapolda Jabar: Jangan Perlakukan Rusunawa bak Tempat Indekos
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kilau Harga Emas Dunia Meredup
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hasil Proliga 2026, Putri: Megawati Hangestri Gigit Jari! Jakarta Pertamina Enduro Gagal Juara Usai Takluk dari Gresik Phonska Plus
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa 27 Februari 2026 di Jakarta dan Sekitarnya
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.