Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah terus mematangkan rencana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kali ini dengan menyasar kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa saat ini skema teknis untuk implementasi program tersebut sedang dalam tahap penggodokan intensif.
"Ya, itu baru mematangkan konsep, ya," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu saat ditemui usai menghadiri pertemuan dengan Perhimpunan Jiwa Sehat di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Jumat (27/2).
Pernyataan ini muncul setelah Gus Ipul melakukan koordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, pada pertengahan pekan ini.
Fokus utama pematangan konsep tersebut meliputi penyediaan makanan melalui Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
Nantinya, distribusi makanan bergizi ini tidak hanya dilakukan oleh petugas dari Kementerian Sosial, tetapi juga akan melibatkan kelompok masyarakat (pokmas) hingga tenaga pendamping atau caregiver agar bantuan tepat sasaran.
"Direncanakan seperti itu, tapi kami masih matangkan dulu ya sehingga nanti dapurnya lebih banyak dan bisa menjangkau lebih banyak lagi lansia," ujar dia.
Dalam proyeksi ke depan, Gus Ipul menargetkan cakupan penerima manfaat program ini bisa meningkat signifikan, yakni mencapai angka 300 ribu hingga 500 ribu orang. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan data pelayanan sebelumnya.
"Kalau kemarin kita melayani sekitar 100 ribu lansia dan sekitar 36 ribu penyandang disabilitas. Ke depan, ya harapan kami ini bisa antara 300 sampai 500 ribu penerima manfaat. Jadi, kita harapkan penerima manfaatnya lebih besar. Tapi semua ini masih dalam perencanaan," jelasnya.
Terkait siapa saja yang berhak menerima, Gus Ipul menegaskan akan ada proses asesmen ketat berbasis data Kemensos dan pemerintah daerah.
Data yang telah diverifikasi oleh kepala daerah nantinya diserahkan kepada BGN sebagai acuan pelayanan di SPPG.
Prioritas utama program ini ditujukan bagi lansia yang sudah menginjak usia di atas 75 tahun dan hidup sebatang kara, serta para penyandang disabilitas yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian secara mandiri. (ant/dpi)



