Cek Fakta: Benarkah Trump Panik karena Suara Takbir?

detik.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Sepekan belakangan beredar video yang menunjukkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memalingkan tubuh ketika berada di hadapan podium sebuah panggung setelah mendengar suara teriakan "Allahu Akbar".

Teks pada video menyebut: "Trump panik pas pidato ada yang teriak Allahuakbar. Pihak keamanan gercep evakuasi."

Ketika artikel ini ditulis, video yang disebar di media sosial Instagram tersebut telah ditonton 4,6 juta kali. Tayangan itu disukai 150.000 pengguna akun dan dikomentari lima ribuan akun. Sebagian komentar percaya pada teks yang ditulis pada video tersebut.

Tim Cek Fakta DW Indonesia pun menelusuri keaslian video beserta klaim dari teks dalam video tersebut.

Klaim: Trump panik pas pidato ada yang teriak Allahuakbar.

Hasil Cek Fakta DW: Salah.

Tahapan verifikasi yang DW lakukan

Hal pertama yang dilakukan tim Cek Fakta DW Indonesia dalam mengecek keaslian video dan kebenaran klaim adalah menguji apakah video viral tersebut dibuat dengan metode kecerdasan buatan (AI). Hasil analisis platform pendeteksi AI, Hive Moderation, mengungkap peluang video tersebut dibuat oleh mesin AI adalah 0%. Tandanya, video tersebut adalah asli. Sementara, untuk audio di dalamnya akan kita bahas kemudian.

Proses verifikasi kemudian dilanjutkan untuk mengetahui konteks sebenarnya dari video tersebut.

Cara paling sederhana yang kami lakukan adalah dengan mengetik kata kunci yang paling mendeskripsikan momen dalam video viral itu. Kami memilih kata kunci "Trump flinch security". Hasilnya, mesin pencarian memunculkan satu video yang menunjukkan gambar yang persis sama. Trump berada di atas panggung, di hadapan podium, dikelilingi massa, dan memalingkan tubuh di tengah-tengah pidato.

Video tersebut ditayangkan oleh media CBS dalam akun YouTube-nya, memperlihatkan momen kampanye Trump di Ohio menjelang pertengahan Maret 2016. Konteks asli dari video tersebut adalah Trump memalingkan wajah setelah salah satu penonton kampanye diduga berupaya naik ke atas panggung. Karenanya, petugas keamanan segera mengelilingi Trump untuk melindunginya.

Untuk memperkuat bukti, kami juga melakukan pencarian menggunakan Google Reverse Image, yang membawa kami pada laporan pemeriksaan fakta oleh AFP, yang juga memuat link ke video asli dengan konteks sebenarnya dari insiden Trump tersebut.

Temuan paling penting dari video asli itu adalah tidak ada suara teriakan "Allahu Akbar" sebagaimana yang terdengar dalam video viral yang tersebar. Platfrom pendeteksi suara AI, Deepfake Total, menganalisa suara tersebut. Hasilnya, peluang suara tersebut buatan AI kecil, sekitar 25%, sehingga kamu menduga suara tersebut sengaja ditambah pembuatnya dengan tujuan tertentu.

Hoaks di tengah berbagai sentimen

Bila dicari menggunakan kata kunci "Trump Allahuakbar", mesin pencari akan menunjukkan bahwa video hoaks tersebut pernah diunggah sembilan tahun lalu di platform Facebook. Saat itu, sejumlah kanal berita telah menerbitkan bahwa video tersebut adalah hoaks. Meski demikian, pada 2025, video yang sama kembali muncul dan jadi perbincangan di media sosial. Penyebar video tidak hanya dari Indonesia melainkan juga Timur Tengah. Hingga yang terbaru, pada akhir Februari 2026, video yang sama kembali viral di media sosial.

Hoaks tentang Trump itu kembali muncul di tengah ramainya perbincangan tentang hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Trump dalam rangka rapat perdana Board of Peace di Amerika Serikat pada 19 Februari 2026.

Co-founder dan Fact-check Analyst Mafindo, Aribowo Sasmito, menyatakan bahwa hoaks tentang Trump, "menumpangi isu yang sedang jadi tren." Salah satu alasannya untuk menyedot perhatian publik di media sosial. "Andai ke depannya ramai lagi perbincangan soal Trump, hoaks ini bisa saja diangkat lagi," kata Aribowo dalam wawancara telepon dengan DW Indonesia. Ia juga memperkirakan bahwa penyebar hoaks memiliki sejumlah motif yakni mencari popularitas dan keuntungan finansial.

Sementara itu, Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, menyatakan bahwa tren republikasi konten video disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) kini turut dilakukan oleh homeless media seperti akun pengunggah video viral tersebut.

"Saya baru lihat model seperti ini dan biasanya hoaks hanya tersebar pada satu kelompok sosial tertentu," kata Rizal dalam wawancara video dengan DW Indonesia.

"Kalau kita melihat, kan pakai kata Allahu Akbar, pasti tidak akan mungkin diterima yang tidak meneriakan Allahu Akbar, juga bagi orang yang cukup kritis," tambahnya. Ia meyakini tingkat literasi digital sangat berpengaruh pada kepercayaan seseorang terhadap konten.

Rizal menilai sentimen negatif publik terhadap Trump, Board of Peace, dan perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat turut memicu kemunculan disinformasi. Analisa Rizal juga menyebut sentimen agama turut berperan dalam kemunculan video hoaks viral terkait Trump.

"Ketika berbicara tentang Gaza, sentimen agama selalu lebih tinggi daripada sentimen kemanusiaan. Sehingga sangat wajar kalau ada orang yang mencoba memasukkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Indonesia di Board of Peace kemudian keluar narasi-narasi seperti ini," tutur Rizal.

Jeda yang dibutuhkan

"Seeing is not only believing. Apalagi di zaman kecerdasan buatan ini," kata Aribowo. Menurutnya, seseorang bisa semakin rentan memercayai video yang dibuat dengan teknik kecerdasan buatan yang canggih. Oleh karenanya, Aribowo menyarankan pengguna media sosial untuk mengecek kredibilitas sumber informasi setiap mengonsumsi konten di media sosial. "Kalau sumbernya bukan media massa kredibel atau yang memiliki reputasi bagus, kita harus skeptis," kata Aribowo.

Ada beberapa cara sederhana yang menurut Rizal bisa dilakukan untuk menelaah apakah sebuah konten tergolong hoaks atau bukan. "Paling penting adalah, pause dulu. Jempolnya ditahan untuk mengamplifikasi, menyukai, atau berkomentar. Lalu verifikasi," kata Rizal. Verifikasi perlu dilakukan terhadap narasi, aktor-aktor yang ada dalam video, dan waktu. "Karena untuk melihat, mengecek video, mengecek audio, juga mengecek visual, gambar, itu sekarang sudah banyak sekali tekniknya," tutur Rizal.

"Kita harus hati-hati karena biasanya penyebar hoaks akan selalu mengulangi aksinya. Jangan sampai kita menjadi korban," tutup Aribowo.

Editor: Prihardani Purba

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PTP Nonpetikemas Cabang Banten, Tangani Ekspor Perdana Wind Mill Tower Tujuan Kanada
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Film Scream 7 Diwarnai Protes, Demonstran Pro Palestina Geruduk Lokasi Pemutaran
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Apriyani/Lanny Siapkan Evaluasi Menyeluruh Hadapi Ganda Jepang di Babak 16 Besar German Open 2026
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Cuti Bersama Nyepi 2026 Tanggal Berapa? Ini Ketentuan SKB 3 Menteri
• 16 jam laludetik.com
thumb
Pujian Setinggi Langit Robert Lewandowski untuk Pedri dan Nasihat buat Lamine Yamal
• 7 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.