JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan tukang sol sepatu keliling di sudut-sudut Jakarta mungkin terlihat sederhana, bahkan kerap luput dari perhatian.
Namun di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan dan maraknya budaya konsumsi barang baru, profesi ini justru menyimpan makna sosial yang lebih dalam.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai eksistensi tukang sol sepatu di Jakarta mencerminkan dinamika antara sektor formal dan informal masyarakat perkotaan.
“Eksistensi tukang sol sepatu di tengah modernisasi dan berkembangnya pusat perbelanjaan itu menunjukkan adanya dinamika antara sektor formal dan informal,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Kamis (26/2/2026).
Menurut Rakhmat , tukang sol sepatu merupakan bagian dari sektor informal yang hidup dari pemasukan harian dan mengandalkan kebutuhan langsung masyarakat.
Mereka umumnya tinggal di kontrakan bersama rekan sekampung dan bekerja tanpa struktur formal seperti perusahaan atau industri besar.
Meski mal dan pusat perbelanjaan terus menawarkan produk-produk baru dengan berbagai promosi, tukang sol sepatu bertahan karena memenuhi kebutuhan yang tidak sepenuhnya tercakup oleh pasar formal.
“Pusat perbelanjaan menyasar konsumen dengan daya beli tinggi dan penawaran barang baru. Sementara tukang sol sepatu lebih dekat dengan segmen masyarakat yang memiliki keterbatasan finansial atau memilih solusi yang lebih ekonomis,” ujar dia.
Tidak semua orang memiliki kemampuan atau keinginan untuk terus membeli barang baru ketika barang lama masih dapat diperbaiki.
Lebih jauh, ia melihat profesi tukang sol sepatu sebagai simbol ketahanan sektor informal. Di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang menggerus ruang-ruang tradisional, sektor informal tetap menunjukkan daya adaptasi.
“Tukang sol sepatu, tukang jahit keliling, tukang jam keliling, itu semua contoh sektor informal yang fleksibel dan adaptif. Mereka mampu bertahan dengan keterampilan yang dimiliki,” tutur Rakhmat.
Dari sisi sosial, profesi ini juga memuat dimensi relasi yang berbeda dengan transaksi di pusat perbelanjaan.
Interaksi antara pelanggan dan tukang sol sepatu kerap berlangsung personal dan berulang.
“Proses perbaikan sepatu itu bukan sekadar transaksi ekonomi, tapi juga ada hubungan sosial. Ada kepercayaan, ada kedekatan. Mereka punya langganan, punya komunitas,” ujar Rakhmat.
Ia menambahkan, di tengah kesadaran sebagian masyarakat terhadap isu keberlanjutan, praktik memperbaiki barang lama dapat dipandang sebagai bentuk konsumsi yang lebih bijak.
Tukang sol sepatu, dalam konteks ini, menjadi representasi nilai daur ulang dan penghematan.
“Ini bukan hanya soal memperbaiki sepatu, tapi juga soal sikap terhadap konsumsi. Ada nilai keberlanjutan di situ,” kata Rakhmat.
Baca juga: Di Tepi Jalan Jagakarsa, Gerobak Sol Sepatu Tuhaya Bertahan di Tengah Modernisasi
Bertahan dengan Gerobak SederhanaPandangan tersebut menemukan gambaran nyata di kawasan Lenteng Agung, tepatnya di dekat Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kompas.com melakukan pengamatan di lokasi, Rabu (25/2/2026).
Di tepi jalan yang ramai kendaraan bermotor, terlihat seorang tukang sol sepatu mangkal di trotoar dengan gerobak kayu sederhana beratap payung.
Posisi lapaknya menempel pada dinding pagar rumah warga, memanfaatkan ruang sempit di antara jalan dan tembok pembatas.





