Ada Aja Manfaatnya, Senyawa dalam Lidah Buaya Disebut Bisa Perlambat Alzheimer

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Lidah buaya terkenal karena manfaatnya untuk kesehatan kulit, tak cuma wajah tetapi juga rambut. Penelitian terbaru mengenai lidah buaya berhasil mengidentifikasi senyawa istimewa yang diyakini mampu memperlambat laju perkembangan demensia.
 
Temuan ini menjadi angin segar dalam dunia medis karena berpotensi menjadi solusi baru untuk menangani gangguan memori yang paling banyak dialami manusia di seluruh dunia. Mengutip laman ScienceAlert, lidah buaya memang bukan tanaman baru dalam dunia pengobatan.
 
Sukulen hijau ini sudah lama dikenal luas berkat segudang khasiatnya. Sejak zaman dahulu, kandungan gel dan sarinya telah dimanfaatkan untuk mengatasi iritasi kulit, memperlancar sistem pencernaan, bahkan mendongkrak daya tahan tubuh, meski dukungan data ilmiah untuk klaim-klaim tersebut masih terus diperdebatkan.

Kini, tim peneliti dari Universitas Hassan II Casablanca di Maroko mengungkapkan senyawa bernama beta sitosterol yang terkandung dalam daun lidah buaya, memiliki potensi besar dalam membantu penanganan penyakit Alzheimer.
 
Penelitian ini dilakukan secara in silico atau sepenuhnya menggunakan simulasi komputer. Tim peneliti menggunakan model digital untuk melihat bagaimana reaksi senyawa lidah buaya saat bertemu dengan enzim yang memicu Alzheimer. Meskipun belum diuji di laboratorium atau pada manusia, riset ini menjadi fondasi awal yang penting untuk menemukan jalur pengobatan baru yang menjanjikan.
 
"Hasil studi kami menunjukkan bahwa beta sitosterol memiliki kestabilan dan daya ikat yang kuat, sehingga senyawa ini layak diperhitungkan sebagai kandidat unggulan dalam pengembangan obat ke depannya," ungkap ahli kimia yang terlibat dalam penelitian tersebut, Meriem Khedraoui.
 
Keunggulan beta sitosterol dalam hal pengikatan dan stabilitas ini erat kaitannya dengan peran asetilkolin di dalam otak. Senyawa kimia alami ini memegang fungsi penting dalam proses belajar dan pembentukan memori, namun pada penderita Alzheimer kadarnya kerap jauh di bawah ambang normal.
 
Kondisi tersebut membuat para peneliti berfokus pada dua enzim pemecah asetilkolin, yaitu asetilkolinesterase (AChE) dan butirilkolinesterase (BChE). Jika aktivitas kedua enzim ini berhasil ditekan, ada harapan bahwa kadar asetilkolin dalam otak bisa dipertahankan dan gejala-gejala Alzheimer dapat diredam.
 
Berdasarkan teori tersebut, para peneliti menguji total 11 senyawa yang ada pada lidah buaya. Mengingat reputasi tanaman ini di dunia pengobatan tradisional, para peneliti merasa terdorong
untuk menyelami lebih jauh potensi kimiawi yang dimilikinya.
 

Baca Juga :

Kebiasaan Mengemudi Bisa Mengungkap Tanda Awal Penurunan Kognitif, Bahkan Risiko Alzheimer

Dengan bantuan model struktur molekul, peneliti menguji seberapa tepat senyawa lidah buaya tersebut masuk ke dalam situs pengikat enzim AChE dan BChE. Hasilnya, beta sitosterol meraih skor tertinggi yang menunjukkan efektivitasnya dalam menghalangi enzim-enzim tersebut merusak asetilkolin.
 
Tak berhenti di situ, peneliti juga menguji bagaimana performa beta sitosterol jika nantinya dijadikan obat melalui analisis ADMET (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi, dan Toksisitas). Analisis ini bertujuan memprediksi bagaimana obat tersebut bergerak dan bereaksi di dalam tubuh manusia.
 
Hasilnya kembali memuaskan. Beta sitosterol, bersama senyawa lain yaitu asam suksinat, menunjukkan performa yang memuaskan. Penelitian ini pun menyimpulkan bahwa keduanya sangat potensial untuk dijadikan bahan dasar dalam pengembangan terapi Alzheimer di masa mendatang.
 
"Analisis menyeluruh ini memperkuat bukti bahwa senyawa-senyawa ini berpotensi menjadi agen terapi yang aman sekaligus efektif," tambah Samir Chtita, ahli kimia lain.
 
Meski begitu, jalan menuju obat yang siap digunakan masih terbentang jauh. Hasil yang ada saat ini baru bersumber dari simulasi komputer dan belum dibuktikan melalui eksperimen nyata. Namun, kemajuan dalam memetakan faktor-faktor penentu Alzheimer, termasuk peran sentral enzim AChE dan BChE, terus memberikan arah baru bagi dunia medis. 
 
Data menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 55 juta orang di dunia menderita Alzheimer. Angka ini diprediksi melonjak hingga 138 juta kasus pada tahun 2050 seiring meningkatnya populasi lansia. Hingga kini, penyakit ini tetap menjadi penyebab utama kasus demensia secara global.
 
Walaupun pemahaman ilmuwan mengenai efek Alzheimer pada otak dan faktor risikonya terus berkembang, tantangan besar masih ada karena kita belum sepenuhnya memahami penyebab pasti penyakit ini dan bagaimana cara menyembuhkannya secara total.
 
Sebagai gambaran betapa rumitnya penyakit ini, riset lain bahkan mulai menghubungkan keberadaan bakteri di bagian belakang bola mata dengan proses perkembangan Alzheimer.
 
Karena sifatnya yang kompleks dan memiliki banyak pemicu, Alzheimer mungkin memerlukan berbagai jenis metode pengobatan. Studi terkini bahkan menunjukkan bahwa suplemen tekanan darah tinggi hingga obat kanker mungkin memiliki efektivitas tertentu, dan kini lidah buaya memberikan alternatif jalan baru bagi para ahli.
 
“Pendekatan berbasis simulasi komputer yang kami gunakan ini membuka rute yang sangat menjanjikan menuju lahirnya terapi baru bagi para penderita Alzheimer," pungkas Khedraoui. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sisterhood Modest Bazaar, Tempat Cari Outfit Lebaran yang Stylish
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Calvin Verdonk bantu Lille lolos ke babak 16 besar
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Hampir Semusim Nomor Punggung 8 di Red Sparks Masih Kosong, Ko Hee-jin Percaya Megawati Hangestri akan Comeback?
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Ombudsman Kepri Ingatkan Perusahaan Bayarkan THR Tepat Waktu dan Tidak Dicicil
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Deretan Figur Publik Ini Ternyata Pernah Dapat Beasiswa LPDP, Ada yang Lulus dari Kampus Top Dunia!
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.