Profil Djoko Susanto, Bos Alfamart yang Bisnisnya Terancam Dibatasi

grid.id
10 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID- Inilah profil Djoko Susanto yang kembali menjadi perhatian publik di tengah isu pembatasan minimarket desa. Wacana pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai ritel modern di setiap desa memunculkan dinamika baru di sektor perdagangan nasional. Program yang digagas pemerintah ini bertujuan memperkuat ekonomi desa agar perputaran uang tetap berada di masyarakat setempat.

Dikutip Tribunnews.com, Jumat (27/2/2026), Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, bahkan berharap Kopdes bisa menjadi alternatif hingga pengganti minimarket berjejaring seperti Alfamart dan Indomaret di wilayah pedesaan. Pemerintah daerah pun diminta untuk tidak lagi menerbitkan izin baru bagi minimarket modern di desa, meski gerai yang sudah beroperasi tetap diperbolehkan berjalan.

Situasi ini secara tidak langsung menyorot sosok di balik jaringan ritel besar tersebut. Di tengah dinamika tersebut, profil Djoko Susanto kembali menjadi perhatian publik.

Profil Djoko Susanto 

Profil Djoko Susanto tak bisa dilepaskan dari kiprahnya sebagai pendiri dan pemilik Alfamart Group, salah satu jaringan minimarket terbesar di Indonesia. Ia sukses membangun kerajaan ritel dengan sekitar 18 ribu unit gerai yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Air.

Bahkan, jaringan Alfamart telah berekspansi ke Filipina dengan lebih dari 1.400 toko. Berkat ekspansi agresif dan sistem waralaba yang efisien, bisnisnya berkembang pesat hingga menjadi salah satu jaringan ritel terbesar di Asia Tenggara.

Profil Djoko Susanto juga tercatat dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Ia menempati posisi ke-661 orang terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai 4 miliar dollar AS.

Di Indonesia, namanya bersanding dengan tokoh-tokoh besar seperti Chairul Tanjung dan Prajogo Pangestu. Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, kekayaannya pada 2025 berada di kisaran 3,5 hingga 4,2 miliar dollar AS atau setara puluhan triliun rupiah.

Latar Belakang Keluarga

Djoko Susanto berasal dari keluarga sederhana. Ia lahir pada 9 Februari 1950 dari pasangan Kwok Man Toh dan Wong Sat Nyong, keluarga pedagang kelontong di pasar tradisional Jakarta.

Sejak usia 17 tahun, ia sudah terlibat mengelola warung makan sederhana milik orang tuanya. Bahkan, ia sempat berhenti sekolah demi membantu usaha keluarga, pengalaman yang justru membentuk naluri bisnisnya.

Saat remaja, ia membuka kios rokok kecil di Pasar Arjuna, Jakarta. Ketekunannya menarik perhatian distributor besar rokok, termasuk pengusaha PT HM Sampoerna, Putera Sampoerna. Kerja sama strategis dengan Sampoerna menjadi titik balik penting dalam profil Djoko Susanto sebagai pebisnis ritel besar.

Lahirnya Alfamart dan Ekspansi Besar

Cikal bakal Alfamart dimulai pada 1989 melalui pendirian Alfa Toko Gudang Rabat (ATGR). Pada 1994, nama tersebut berubah menjadi Alfa Minimart, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai Alfamart. Transformasi besar terjadi pada 1999 ketika gerai minimarket pertama dibuka di Karawaci, Tangerang, Banten, dengan konsep ritel modern yang menyediakan kebutuhan pokok dan harian masyarakat.

 

Bersama Grup Sampoerna, Djoko mendirikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk sebagai pengelola jaringan Alfamart. Setelah Sampoerna menjual bisnis rokoknya ke Philip Morris pada awal 2000-an, Djoko mengambil langkah strategis dengan membeli kembali saham yang dimiliki Sampoerna sehingga menjadi pemegang saham mayoritas. Dari satu gerai pada akhir 1990-an, kini Alfamart menjelma menjadi jaringan ritel raksasa dengan lebih dari 17.000 gerai di Indonesia.

Tak hanya fokus pada minimarket, profil Djoko Susanto juga mencakup ekspansi ke berbagai lini usaha. Ia mengembangkan Alfa Express, Alfamidi, hingga Lawson. Di sektor properti, ia memiliki divisi Alfaland yang mengoperasikan Omega Hotel Management di berbagai wilayah Indonesia.

Kehidupan Pribadi 

Dalam kehidupan pribadi, Djoko Susanto menikah dengan Tan Lie Tjen atau Liliana Tanuwijaya dan dikaruniai lima anak, yaitu Hanto Djoko Susanto, Rita Djoko Susanto, Feny Djoko Susanto, Budiyanto Djoko Susanto, dan Harryanto Susanto. Kini, sebagian bisnis keluarga turut dijalankan oleh Feny dan Budiyanto, menandai regenerasi kepemimpinan di tubuh perusahaan.

Djoko Susanto juga menunjukkan kepeduliannya di bidang pendidikan. Pada 1986, ia mendirikan Yayasan Bunda Mulia yang mengelola institusi pendidikan setingkat sekolah dan universitas di Indonesia. Pada 2017, ia kembali membangun gedung kampus di Alam Sutera, Tangerang Selatan, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan.

Itulah profil Djoko Susanto yang mencerminkan perjalanan panjang seorang pengusaha yang tumbuh dari pasar tradisional hingga menjadi raja ritel modern. Kisahnya memperlihatkan bagaimana pengalaman lapangan, strategi kemitraan, dan ekspansi terukur mampu mengantarkan seorang pedagang kecil menjadi salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Indonesia. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengusaha Logistik Jamin Jasa Pengiriman Kurir Tak Terhambat Pembatasan Angkutan
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Cemburu, Suami Bacok Selingkuhan Istrinya Dalam Mobil
• 10 jam lalurealita.co
thumb
Saat AI yang Memulai, AI yang Harus Bertanggung Jawab
• 59 menit lalukumparan.com
thumb
Ater Majok Jadi Raja Blok IBL 2026, Ring Rajawali Medan Nyaris Mustahil Ditembus
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Setoran Pajak Kripto dan Fintech Capai Rp 47,18 T per Januari 2026
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.