Jakarta: Pemerintah Indonesia belum mengambil langkah evakuasi terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di Iran, di tengah meningkatnya ketegangan akibat potensi serangan Amerika Serikat (AS).
Sikap ini berbeda dengan sejumlah negara yang telah lebih dahulu mengimbau warganya untuk segera meninggalkan negara tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, menyatakan hingga saat ini kondisi WNI di Iran masih dalam keadaan aman dan kondusif, sehingga belum diperlukan evakuasi resmi oleh pemerintah.
Baca Juga :
Ketegangan dengan AS Meningkat, Iran Gelar Latihan Masif di Pesisir SelatanMenurutnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran telah berkoordinasi intensif dengan pemerintah pusat untuk menyiapkan berbagai skenario jika situasi keamanan memburuk.
“KBRI berkoordinasi dengan pusat. Jadi sudah disiapkan untuk rencana kontijensinya. Kapanpun situasi memburuk itu bisa diberlakukan,” jelas Heni.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah opsi jalur evakuasi. Jika jalur penerbangan komersial masih tersedia, evakuasi dapat dilakukan langsung melalui penerbangan dari Iran. Namun apabila ruang udara ditutup atau penerbangan terganggu, skema alternatif telah disiapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, mayoritas WNI di Iran berada di wilayah Qom. Seluruhnya dilaporkan dalam kondisi aman.
“Kondisinya sebagian besar ada di wilayah Qom. Semuanya aman, semuanya kondisinya normal dan kondusif,” ujar Heni.
Meski demikian, pemerintah sebenarnya telah menetapkan status Siaga 1 untuk Iran sejak Juni 2025. Status tersebut hingga kini belum dicabut.
Dalam kerangka Siaga 1, pemerintah juga telah mendorong WNI untuk mempertimbangkan evakuasi mandiri. Namun hingga kini belum ada WNI yang memilih kembali ke Indonesia secara sukarela.
“Sudah didorong untuk melakukan evakuasi mandiri. Namun sampai saat ini masih tidak ada yang melakukan evakuasi mandiri, karena memang kondisinya masih kondusif,” pungkas Heni.



